KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Vale Indonesia Tbk (
INCO) baru-baru ini memperoleh fasilitas Sustainability-Linked Loan (SLL) sampai dengan US$ 500 juta dengan opsi greenshoe sampai US$ 250 juta. Fasilitas kredit berkelanjutan ini diyakini akan memudahkan langkah INCO dalam menuntaskan agenda ekspansi sekaligus meningkatkan pamor perusahaan di mata institusi keuangan global. Sebagai informasi, fasilitas SLL tersebut didukung oleh sindikasi 14 bank internasional dan mengalami kelebihan permintaan (oversubscribed) hingga 1,7 kali, sehingga mencerminkan tingkat kepercayaan yang tinggi terhadap fundamental bisnis dan arah strategis keberlanjutan INCO.
Contoh bank yang memberi fasilitas pembiayaan tersebut kepada INCO yaitu United Overseas Bank (UOB), DBS Bank, Mizuho Bank, OCBC Bank, Sumitomo Mitsui Trust Bank, J.P. Morgan, Bank of China, dan lain-lain. Fasilitas SLL yang diperoleh INCO disusun berdasarkan Sustainability-Linked Financing Framework yang selaras dengan praktik internasional dalam pembiayaan berbasis keberlanjutan. Indikator kinerja utama yang digunakan mencakup penurunan intensitas emisi karbon dan peningkatan penggunaan energi terbarukan.
Baca Juga: IHSG Ambruk 6,61% Sepekan & Asing Keluar Rp 1,88 Triliun, Ini Sebabnya Kedua indikator tersebut telah mendapat penilaian “strong” dari Second Party Opinion independen yang menilai keselarasan dengan target global untuk membatasi kenaikan suhu sesuai Paris Agreement 1,5 derajat Celcius pathway, sebagaimana dirujuk dalam kajian independen serta kontribusinya terhadap target Nationally Determined Contribution (NDC) Indonesia. Dari sisi pemanfaatan dana, fasilitas ini akan digunakan untuk mendukung pengembangan proyek strategis INCO. Pada 2026, sekitar 50% dana dari fasilitas SLL akan dialokasikan untuk pengembangan proyek smelter High Pressure Acid Leach (HPAL) atau Indonesia Growth Project (IGP) Pomalaa, kemudian sekitar 30% untuk proyek IGP Morowali, dan sekitar 20% untuk pengembangan IGP Sorowako Limonite. Sedangkan untuk 2027, pendanaan akan difokuskan pada kelanjutan proyek-proyek tersebut serta pemenuhan hak partisipasi dalam proyek joint venture. Director & Chief Financial Officer Vale Indonesia Rizky Andhika Putra mengatakan, fasilitas SLL merupakan fasilitas yang bersifat revolving. Dalam hal ini, total nominal US$ 750 juta yang disediakan melalui fasilitas tersebut merupakan plafon kredit yang bisa dimanfaatkan oleh INCO sewaktu-waktu nanti. Untuk sekarang, dana dari fasilitas SLL belum langsung ditarik atau dicairkan. “Penarikan dana akan dilakukan secara bertahap sesuai kebutuhan,” ujar dia ketika ditemui Kontan usai penandatanganan Fasilitas SLL, Kamis (23/4/2026).
Baca Juga: Emas Makin Dilirik Jadi Instrumen Strategis Dana Haji di Tengah Ketidakpastian Global Dia menambahkan, fasilitas SLL yang didapat INCO memiliki tenor dua tahun setelah tanggal pencairan plus opsi perpanjangan satu tahun. Walau tidak disebut secara gamblang, INCO mengklaim bunga yang ditawarkan melalui fasilitas pembiayaan tersebut tergolong kompetitif. Selain tingkat bunga, Rizky menyebut bahwa manfaat lain dari fasilitas SLL adalah kinerja INCO dari aspek keberlanjutan atau environmental, social, governance (ESG) akan meningkat. Reputasi dan eksposur INCO di mata lembaga keuangan global yang fokus pada pembiayaan berkelanjutan juga akan meningkat. Pihak INCO juga memastikan bahwa fasilitas SLL tersebut tidak akan membebani rasio utang perusahaan. Ini mengingat, rasio utang INCO relatif masih rendah dan emiten tersebut masih memiliki ruang untuk penambahan pendanaan. “Bahkan, kalau plafon US$ 750 juta dipakai semua juga tetap aman. Ekuitas yang kami miliki masih lebih besar dari beban yang ada,” ungkap Rizky. Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta mengatakan, keberadaan fasilitas SLL tentu akan memberikan kepastian bagi INCO yang membutuhkan pendanaan besar untuk menggarap proyek strategis seperti pengembangan smelter HPAL. Terlebih lagi, pasar tengah menanti realisasi proyek hilirisasi tersebut. Memang, fasilitas SLL berpotensi meningkatkan debt to equity ratio (DER) INCO. Namun, posisi kas INCO dianggap masih kuat dan emiten ini memiliki proyeksi kinerja yang positif pada masa mendatang.
Mengacu laporan keuangan, kas dan setara kas INCO pada akhir 2025 tercatat sebesar US$ 376,36 juta. “Jadi, utang ini masih berada dalam batas yang aman secara industri,” imbuh dia, Jumat (24/4/2026).
Nafan menambahkan, INCO perlu memperkuat kemampuannya untuk bisa secara konsisten memenuhi indikator atau target ESG yang menjadi penilaian lembaga keuangan penyedia fasilitas SLL. Risiko atas tenor pinjaman kredit yang tergolong pendek yakni dua tahun plus satu tahun opsi perpanjangan juga perlu jadi perhatian bagi INCO. “INCO juga harus bersiap menjalankan strategi refinancing,” tukas dia. Nafan pun merekomendasikan add saham INCO dengan target harga di level Rp 7.450 per saham. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News