KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Institute for Development of Economics and Finance (Indef), M. Rizal Taufikurahman menilai dorongan stimulus ekonomi yang digelontorkan pemerintah sebesar Rp 12 triliun di kuartal I-2026 belum cukup kuat untuk mendorong pertumbuhan ekonomi di periode tersebut. Menurut Rizal, dampak stimulus Rp 12 triliun terhadap pertumbuhan ekonomi relatif terbatas, dan hanya mampu mendorong pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) sekitar 0,1–0,2 poin persentase. “Ini bukan semata soal besaran stimulus, tetapi mencerminkan rendahnya efektivitas transmisi fiskal dalam perekonomian saat ini,” ujar Rizal kepada Kontan, Selasa (3/2/2026).
Ia menyoroti sejumlah faktor yang melemahkan multiplier fiskal, mulai dari kebocoran belanja ke impor, rendahnya marginal propensity to consume pada kelompok menengah, hingga desain stimulus yang cenderung bersifat konsumtif dan jangka pendek. Kondisi tersebut membuat tambahan stimulus fiskal hanya berdampak kosmetik terhadap pertumbuhan, tanpa mengubah arah ekonomi secara fundamental.
Baca Juga: Indef Proyeksi Inflasi Naik Bertahap di Kuartal I-2026, Tertekan Faktor Musiman Rizal mencontohkan stimulus fiskal pada Kuartal IV yang jauh lebih besar yakni mencapai 46,2 triliun namun hanya mampu menjaga pertumbuhan di kisaran 5%. Hal ini menunjukkan adanya fenomena diminishing returns dari kebijakan fiskal ekspansif. "Dengan kata lain, fiskal semakin berfungsi sebagai shock absorber, bukan growth engine. Jika pola ini terus berlanjut, risiko jangka menengahnya adalah pertumbuhan yang stabil tetapi rendah (low but stable growth), tanpa daya dorong structural," ungkapnya. Lebih lanjut, Rizal menilai fungsi stimulus Kuartal I-2026 yang bersifat stabilisasi juga mencerminkan semakin terbatasnya ruang kebijakan fiskal ke depan. Di tengah meningkatnya defisit, beban bunga, dan kebutuhan pembiayaan, ruang untuk stimulus tambahan dinilai akan semakin sempit.
Baca Juga: Sistem Keuangan Masih Stabil, Tapi Indef Sebut Fiskal dan Rupiah Kian Rapuh “Tanpa reposisi kebijakan ke arah penguatan investasi, produktivitas, dan reformasi sisi penawaran, stimulus fiskal berpotensi menjadi instrumen defensif semata,” jelas Rizal. Dengan melihat hal tersebut, Rizal memproyeksikan pertumbuhan ekonomi pada Kuartal I-2026 berpotensi berada di bawah 5%. Bahkan, tidak menutup kemungkinan lebih rendah dibanding Kuartal I-2025 yang tumbuh 4,87%, terutama jika tidak ada dorongan kebijakan yang cukup kuat di awal tahun. Secara historis, menurut Rizal pertumbuhan ekonomi pada kuartal I memang cenderung menjadi yang terlemah akibat faktor musiman. Potensi pelemahan ini berlanjut pada awal tahun 2026 dimana menurut Rizal masih disebabkan tekanan dari pelemahan daya beli, normalisasi belanja pemerintah pasca akhir tahun, serta ketidakpastian global yang menahan ekspor dan investasi.
Baca Juga: Belanja APBN 2026 Tembus Rp 3.842,7 Triliun, Indef Ingatkan Kualitas & Risiko Fiskal Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News