KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) mengatakan, pemberian insentif kendaraan listrik perlu lebih tepat sasaran. Pasalnya, insentif kendaraan listrik berpotensi lebih banyak dinikmati konsumen kelas menengah atas. Kondisi ini dinilai perlu menjadi perhatian pemerintah dalam mengevaluasi kebijakan insentif EV. Peneliti INDEF Eko Listiyanto mengatakan, pemerintah perlu melihat kembali efektivitas pemberian insentif kendaraan listrik. Menurutnya, kebijakan tersebut harus memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat. Baca Juga: APKASINDO Dorong Kemudahan PSR, Legalitas Lahan Jadi Tantangan Petani Sawit “EV ini kan insentif dikasih siapa?, selama ini, insentif EV justru banyak dinikmati orang-orang kaya,” ujar Eko dalam Diskusi Publik INDEF, Sabtu (15/8). Menurut Eko, insentif kendaraan listrik seharusnya dapat mendorong masyarakat untuk beralih dari kendaraan berbahan bakar minyak ke kendaraan listrik. Ekonom INDEF Abra Talattov mengatakan, insentif kendaraan listrik pada awalnya dibutuhkan untuk membuat harga EV lebih kompetitif. Kebijakan tersebut juga bertujuan meningkatkan minat masyarakat menggunakan kendaraan listrik. Namun, efektivitas insentif perlu terus dievaluasi. Salah satunya dengan melihat perkembangan penjualan dan pangsa kendaraan listrik terhadap total kendaraan. Abra menilai insentif seharusnya lebih diarahkan kepada kendaraan yang masih membutuhkan dukungan agar dapat dijangkau masyarakat. “Insentif kendaraan listrik seharusnya lebih diarahkan kepada mobil untuk kelas menengah bawah yang memang masih membutuhkan dukungan,” kata Abra. Selain harga kendaraan, pemerintah juga perlu mempertimbangkan tingkat komponen dalam negeri (TKDN) dalam pemberian insentif. Menurut Abra, skema tersebut penting agar insentif tidak hanya mendorong penjualan kendaraan listrik. Kebijakan itu juga harus memberikan dampak terhadap industri dalam negeri. Dengan begitu, insentif dapat mendorong peningkatan nilai tambah dan pengembangan ekosistem kendaraan listrik nasional. Abra menilai insentif kendaraan listrik juga tidak dapat diberikan selamanya. Ketika industri sudah semakin kompetitif, pemerintah dapat mengurangi insentif secara bertahap. Menurutnya, masyarakat nantinya akan mempertimbangkan kendaraan listrik berdasarkan biaya operasional, kenyamanan, dan fitur. Artinya, keputusan membeli EV tidak lagi semata-mata bergantung pada insentif pemerintah. Baca Juga: LIXIL Perluas Ruang Inovasi Arsitektur
INDEF: Subsidi Mobil Listrik Lebih Banyak Dinikmati Masyarakat Menengah ke Atas
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) mengatakan, pemberian insentif kendaraan listrik perlu lebih tepat sasaran. Pasalnya, insentif kendaraan listrik berpotensi lebih banyak dinikmati konsumen kelas menengah atas. Kondisi ini dinilai perlu menjadi perhatian pemerintah dalam mengevaluasi kebijakan insentif EV. Peneliti INDEF Eko Listiyanto mengatakan, pemerintah perlu melihat kembali efektivitas pemberian insentif kendaraan listrik. Menurutnya, kebijakan tersebut harus memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat. Baca Juga: APKASINDO Dorong Kemudahan PSR, Legalitas Lahan Jadi Tantangan Petani Sawit “EV ini kan insentif dikasih siapa?, selama ini, insentif EV justru banyak dinikmati orang-orang kaya,” ujar Eko dalam Diskusi Publik INDEF, Sabtu (15/8). Menurut Eko, insentif kendaraan listrik seharusnya dapat mendorong masyarakat untuk beralih dari kendaraan berbahan bakar minyak ke kendaraan listrik. Ekonom INDEF Abra Talattov mengatakan, insentif kendaraan listrik pada awalnya dibutuhkan untuk membuat harga EV lebih kompetitif. Kebijakan tersebut juga bertujuan meningkatkan minat masyarakat menggunakan kendaraan listrik. Namun, efektivitas insentif perlu terus dievaluasi. Salah satunya dengan melihat perkembangan penjualan dan pangsa kendaraan listrik terhadap total kendaraan. Abra menilai insentif seharusnya lebih diarahkan kepada kendaraan yang masih membutuhkan dukungan agar dapat dijangkau masyarakat. “Insentif kendaraan listrik seharusnya lebih diarahkan kepada mobil untuk kelas menengah bawah yang memang masih membutuhkan dukungan,” kata Abra. Selain harga kendaraan, pemerintah juga perlu mempertimbangkan tingkat komponen dalam negeri (TKDN) dalam pemberian insentif. Menurut Abra, skema tersebut penting agar insentif tidak hanya mendorong penjualan kendaraan listrik. Kebijakan itu juga harus memberikan dampak terhadap industri dalam negeri. Dengan begitu, insentif dapat mendorong peningkatan nilai tambah dan pengembangan ekosistem kendaraan listrik nasional. Abra menilai insentif kendaraan listrik juga tidak dapat diberikan selamanya. Ketika industri sudah semakin kompetitif, pemerintah dapat mengurangi insentif secara bertahap. Menurutnya, masyarakat nantinya akan mempertimbangkan kendaraan listrik berdasarkan biaya operasional, kenyamanan, dan fitur. Artinya, keputusan membeli EV tidak lagi semata-mata bergantung pada insentif pemerintah. Baca Juga: LIXIL Perluas Ruang Inovasi Arsitektur
TAG: