Indef Wanti-Wanti Risiko Hot Money di Tengah Derasnya Arus Dana Asing pada SRBI



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Meningkatnya penggunaan instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) untuk menarik aliran modal asing berisiko meningkatkan ketergantungan Indonesia terhadap dana portofolio jangka pendek atau hot money yang rentan keluar saat gejolak global terjadi.

Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Indef, M Rizal Taufikurahman mengatakan, kondisi tersebut tercermin dari kenaikan utang luar negeri (ULN) jangka pendek Bank Indonesia (BI) dari US$ 15,85 miliar pada akhir 2025 menjadi US$ 18,53 miliar per akhir Maret 2026.

“Di satu sisi, langkah ini membantu memperkuat likuiditas valas dan cadangan devisa, tetapi di sisi lain juga meningkatkan ketergantungan terhadap arus modal portofolio jangka pendek yang sangat sensitif terhadap perubahan sentimen global,” ujar Rizal kepada Kontan, Rabu (27/5/2026).


Ia menilai risiko utama bukan terletak pada level ULN yang masih relatif terkendali, melainkan pada potensi sudden reversal ketika terjadi gejolak global, kenaikan yield US Treasury, maupun eskalasi geopolitik.

“Hal itu dapat memicu capital outflow secara cepat dan menekan stabilitas rupiah serta pasar keuangan domestik,” katanya.

Baca Juga: Mendag Temui Pelaku e-Commerce, Bahas Revisi Permendag Nomor 31 Tahun 2023

Di sisi lain, nilai tukar rupiah masih bergerak mendekati level psikologis Rp 18.000 per dolar Amerika Serikat (AS). Mengutip data Bloomberg, pada perdagangan Selasa (26/5/2026), rupiah ditutup melemah ke Rp 17.796 per dolar AS.

Rizal menilai langkah BI menaikkan BI Rate sebesar 50 basis poin dan memperkuat instrumen SRBI memang membantu menjaga daya tarik aset domestik. Namun, tekanan eksternal global saat ini masih jauh lebih dominan dibanding faktor domestik sehingga rupiah tetap bergerak volatil.

Ia menyebut tingginya suku bunga Amerika Serikat, penguatan indeks dolar AS, ketidakpastian geopolitik, kenaikan harga energi, hingga meningkatnya risk aversion investor global membuat arus modal lebih banyak mengalir ke aset safe haven berbasis dolar AS.

“Di sisi domestik, pasar juga masih mencermati kredibilitas fiskal, kebutuhan pembiayaan APBN, serta tren penurunan kepemilikan asing di SBN, sehingga kebijakan moneter BI belum cukup kuat untuk mendorong penguatan rupiah secara signifikan dalam jangka pendek,” ujarnya.

Menurut Rizal, hingga akhir 2026 rupiah diperkirakan masih bergerak volatil dengan kecenderungan stabil terbatas apabila tekanan global mulai mereda dan arus modal kembali masuk ke emerging markets.

Baca Juga: Kementan: Rencana Impor 200.000 Sapi dari Brasil Belum Terealisasi, Ini Alasannya

Dalam skenario moderat, ia memperkirakan rupiah berpeluang bergerak pada kisaran Rp 16.800 hingga Rp 17.500 per dolar AS, terutama jika inflasi tetap terkendali, cadangan devisa terjaga, dan tekanan geopolitik global mulai menurun.

Namun, Rizal mengingatkan risiko pelemahan rupiah masih perlu diwaspadai apabila konflik geopolitik meluas dalam waktu panjang, harga minyak tetap tinggi, dan capital outflow terus berlanjut.

"Kalau itu terjadi, risiko pelemahan rupiah menuju Rp 17.500 per dolar AS tetap perlu diwaspadai karena pasar global saat ini sangat sensitif terhadap arah suku bunga AS dan dinamika geopolitik internasional,” pungkasnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News