Indeks cetak rekor, saham makin hot



JAKARTA. Euforia masih menyelimuti pasar saham Indonesia. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali mencetak rekor tertinggi sepanjang masa, ketika ditutup di 5.543,09, kemarin. Sejumlah saham juga mencatatkan kenaikan harga tinggi.

Di kelompok LQ45, harga saham PT XL Axiata Tbk (EXCL) naik paling tinggi. Sejak awal tahun hingga kemarin (ytd), harga saham EXCL naik 41%. Tapi setahun terakhir (yoy), posisi EXCL digeser saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI), yang naik 632%.

Kenaikan luar biasa dialami saham non-LQ45. Harga saham PT Lotte Chemical Titan Tbk (FPNI) menanjak 369% (ytd). Setahun terakhir, saham PT Pelat Timah Nusantara Tbk (NIKL) memimpin gain dengan lonjakan 2.687%. "Untuk saham LQ45, hal ini tak lepas dari sentimen pembagian dividen," ujar Kepala Riset MNC Securities, Edwin Sebayang kepada KONTAN, Selasa (21/3).


Di saat yang sama, The Fed menaikkan suku bunga acuan. Investor merespons positif lantaran ada kepastian kenaikan bunga The Fed.

Tapi, bukan hanya dividen dan bunga The Fed yang menjadi penggerak pasar. Kinerja keuangan emiten turut menopang bursa lokal.

Hal ini tecermin dari kinerja saham EXCL yang menempati posisi teratas kelompok LQ45. Meski tidak membagi dividen, EXCL mencetak laba bersih 2016 senilai Rp 376 miliar. Sepanjang 2015, emiten ini mencetak rugi bersih Rp 25 miliar.

Yang menarik adalah saham BUMI. Saham ini menempati posisi lima besar kenaikan tertinggi baik di tahun ini maupun setahun terakhir.

"Membaiknya harga batubara menjadi faktor utama kenaikan harga saham BUMI," tambah analis NH Korindo Securities Bima Setiaji.

Ini pula yang membuat saham PT United Tractor Tbk (UNTR) jadi salah satu saham dengan kenaikan tertinggi.

Tapi kenaikan ini menimbulkan konsekuensi. Price to earning ratio (PER) saham mulai tinggi, seiring kenaikan harganya. Saham LQ45 jelas memiliki PER lebih tinggi.

Tapi, mahal atau tidaknya saham menjadi relatif jika dibandingkan prospek kinerja ke depan. "Karena bukan hanya PER, tapi perlu dilihat apakah emiten masih berpotensi tumbuh atau tidak," kata analis Binaartha Parama Sekuritas Reza Priyambada.

PER juga menjadi relatif dibandingkan saham gorengan yang 'berkolesterol tinggi'. Terlepas dari jumlah saham beredar sedikit, saham gorengan digerakkan market maker. Hampir pasti, saham jenis ini bergerak di luar fundamentalnya. Bagi trader profesional yang biasa bertranskasi harian, saham ini paling digemari. Gain-nya menggiurkan meski sedikit bergerak.

Tapi bukan berarti semua saham kolesterol tinggi itu lepas dari fundamentalnya. "AGRO, FPNI dan MEDC punya fundamental yang menjadi alasan sahamnya bergerak," imbuh Bima.

Kini, yang perlu diwaspadai adalah potensi pembalikan arah IHSG saat sentimen musim dividen usai. Edwin bilang, secara historis, euforia dividen pudar dalam sebulan. Jika tak ada sentimen positif lainnya, IHSG akan kembali bergerak ke fundamentalnya.

Saham konstruksi menjadi salah satu pilihan di fase ini.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Sanny Cicilia