Indeks CSI300 Anjlok 8,5%, China Siapkan Langkah Stabilkan Bursa



KONTAN.CO.ID - Regulator keuangan China dijadwalkan menggelar pertemuan dengan sejumlah lembaga keuangan pada Senin (2/11/2026) untuk membahas instrumen pendukung pasar modal.

Langkah ini dilakukan di tengah meningkatnya tekanan di pasar saham dan obligasi yang mendorong munculnya desakan agar pemerintah memberikan dukungan kebijakan.

Mengutip Reuters, indeks acuan saham China, CSI300, anjlok 8,5% sepanjang Oktober. Penurunan tersebut menjadi kinerja bulanan terburuk sejak awal 2016.


Baca Juga: Harga Emas Dunia Dekati Level Terendah Setahun Senin (2/11), The Fed Jadi Beban

Tekanan pasar juga meluas ke sektor obligasi setelah muncul kekhawatiran terhadap kondisi keuangan pengembang properti milik negara, Zhuhai Huafa Group.

Menurut laporan 21st Century Business Herald, Bank Sentral China (People's Bank of China/PBOC) bersama otoritas pengawas sekuritas akan menggelar seminar pada Senin pagi dengan perusahaan sekuritas dan manajer investasi.

Pertemuan tersebut akan membahas pemanfaatan berbagai instrumen untuk menopang pasar modal.

Secara terpisah, PBOC, National Financial Regulatory Administration (NFRA), dan China Securities Regulatory Commission (CSRC) juga akan mengumpulkan sejumlah bank besar untuk membahas optimalisasi kebijakan pembiayaan kembali atau relending bagi perusahaan yang melakukan pembelian kembali saham (buyback) maupun pembelian saham.

Baca Juga: Harga Minyak Dunia Terkoreksi 1% Senin (2/11), Berharap Perang Iran Segera Berakhir

Manajer investasi Shanghai QiuYang Capital Co Huang Yan mengatakan, regulator kemungkinan akan mendorong peningkatan penyaluran kredit untuk mendukung aksi pembelian kembali saham oleh perusahaan.

Menurut dia, langkah tersebut berpotensi mendorong pemulihan pasar saham menjelang akhir tahun. Namun, ia mengingatkan bahwa terbentuknya titik terendah akibat dukungan kebijakan pemerintah belum tentu menandakan pasar telah mencapai titik terendahnya.

Dalam sebulan terakhir, semakin banyak perusahaan tercatat di China yang mengumumkan rencana pembelian kembali saham. Selain itu, terdapat indikasi pembelian saham oleh investor yang didukung negara.

Namun, berbagai langkah tersebut sejauh ini belum cukup kuat untuk menghentikan penurunan pasar saham. Kondisi ekonomi China yang masih lemah serta kekhawatiran terhadap valuasi saham perusahaan teknologi yang dinilai terlalu tinggi turut membebani sentimen investor.

Risiko Utang Pengembang Properti Jadi Perhatian

Selain langkah regulator, investor juga mencermati perkembangan persoalan utang Zhuhai Huafa Group. Obligasi dan saham pengembang properti milik negara tersebut mengalami aksi jual pada pekan lalu setelah muncul kabar bahwa perusahaan gagal membayar dua produk trust yang jatuh tempo.

Perusahaan saat ini dilaporkan tengah berdiskusi dengan sejumlah bank untuk memperpanjang jatuh tempo pinjaman.

Kekhawatiran terhadap potensi penularan risiko ke pasar keuangan semakin meningkat. Sebagai indikasi, sebagian besar reksadana yang diperdagangkan di bursa (exchange-traded funds/ETF) berbasis obligasi kredit mengalami penurunan sekitar 0,5% pada Jumat. Penurunan tersebut menjadi koreksi harian terbesar sepanjang sejarah produk tersebut.

Baca Juga: Pencurian Kripto Binance: Fakta di Balik Serangan Hacker Korea Utara, TraderTraitor

Hua Chuang Securities dalam catatannya menyebutkan, aksi jual obligasi Huafa telah memicu peningkatan sikap menghindari risiko (risk aversion) serta mendorong investor melakukan penarikan dana lebih awal.

Menurut perusahaan sekuritas tersebut, persoalan Huafa masih berkembang. Sikap pemerintah dan dukungan konkret yang diberikan akan menjadi faktor penting dalam menentukan arah pasar ke depan.