KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Indeks dolar Amerika Serikat (AS) atau US Dollar Index (DXY) berpeluang bergerak menguat terbatas hingga akhir 2026. Meski data inflasi produsen AS menunjukkan tekanan yang meningkat, pergerakan dolar masih akan dipengaruhi oleh arah imbal hasil obligasi pemerintah AS (US Treasury) dan kebijakan suku bunga Federal Reserve (The Fed). Asal tahu saja, rilis indeks harga produsen atau Producer Price Index (PPI) AS pada September 2026 naik 1,3% secara bulanan (MoM) dan 6,3% secara tahunan (YoY), melampaui perkiraan pasar. Kenaikan ini menandai level tertinggi sejak Maret 2022 dan berpotensi memperkuat tekanan inflasi serta membatasi ruang pelonggaran suku bunga The Fed.
Baca Juga: IHSG Terperosok Usai Pengumuman MSCI, Analis Waspadai Koreksi Lanjutan Namun, indeks dolar AS pada Minggu (18/10) justru masih bertengger di level 101.8 atau melemah 0,7% secara harian dan 0,37% sepekan terakhir, setelah sempat menyentuh level tertinggi dalam 18 bulan di 102,94. Presiden Komisaris PT HFX Internasional Berjangka Sutopo Widodo bilang, pelemahan tersebut terjadi seiring penurunan imbal hasil obligasi pemerintah AS. “Arahnya sangat bergantung pada keputusan The Fed dan harga minyak,” ujar Sutopo kepada Kontan, Jumat (18/10/2026). Hingga akhir tahun, Sutopo memperkirakan DXY bergerak di kisaran 101–104. Level resistance terdekat berada di 102,4-102,95, kemudian 103-104. Sementara itu, level support berada di 101,9 dan area 100-100,5. Jika dolar AS kembali menguat dan imbal hasil US Treasury meningkat, tekanan terhadap mata uang negara berkembang berpotensi bertambah. Sutopo menilai, mata uang negara pengimpor energi yang memiliki defisit eksternal dan rentan terhadap arus keluar modal akan menghadapi tekanan lebih besar. Rupee India dan rupiah menjadi mata uang yang dinilai rentan. Pasalnya, kenaikan harga minyak hingga sekitar US$ 104 per barel dapat meningkatkan beban impor energi. Di sisi lain, nilai tukar rupiah juga telah mendekati level Rp 18.000 per dolar AS.
Baca Juga: Rupiah Berisiko Melemah ke Rp 18.200, Simak Sentimen Pemicunya Won Korea Selatan dan yen Jepang turut berpotensi tertekan akibat perbedaan suku bunga dengan AS. Namun, pergerakan yen memiliki risiko dua arah karena adanya potensi intervensi dan kemungkinan kenaikan suku bunga Bank of Japan (BoJ). Adapun euro diperkirakan menghadapi tekanan yang relatif lebih ringan, meskipun suku bunga Bank Sentral Eropa (ECB) masih berada di bawah inflasi. “Dolar AS masih menarik untuk dikoleksi karena yield tinggi dan statusnya sebagai aset aman, tetapi sebaiknya tidak dijadikan satu-satunya pilihan,” lanjutnya. Memang, investor sebaiknya tidak hanya mengandalkan dolar AS untuk menjaga nilai portofolio. Diversifikasi dapat dilakukan dengan mempertimbangkan emas, franc Swiss, sebagian kecil yen Jepang sebagai strategi kontrarian, serta mata uang negara pengekspor komoditas seperti dolar Kanada (CAD) dan krone Norwegia (NOK).
Baca Juga: Penjualan SBR015 Tenor Pendek Ngebut Jelang Penutupan Sutopo menyarankan investor melakukan pembelian secara bertahap hingga Desember, alih-alih mengalokasikan dana sekaligus. Investor juga perlu menghindari penggunaan leverage dan mencermati sejumlah faktor yang berpotensi memengaruhi pasar, termasuk keputusan The Fed, rapat BoJ pada 29-30 Oktober, serta perkembangan harga minyak. Untuk akhir 2026, Sutopo memproyeksikan pasangan valas EUR/USD diperkirakan berada di sekitar 1,13 dan USD/JPY di kisaran 155-158. Adapun nilai tukar dolar AS terhadap rupiah atau USD/IDR diproyeksikan bergerak di rentang Rp 17.900-Rp 18.300 hingga akhir tahun 2026. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News