Indeks Dolar AS (DXY) Kembali Menguat, CNY dan SGD Relatif Tahan Hadapi Dolar AS



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Indeks dolar AS (DXY) kembali menguat setelah Federal Reserve (The Fed) menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin (bps). Kondisi ini turut memengaruhi pergerakan mata uang Asia, meski respons masing-masing mata uang masih beragam.

Berdasarkan data Trading Economics pada Kamis (17/9/2026) pukul 14.17 WIB, DXY berada di level 100,157. Dolar AS menguat terhadap yen Jepang (JPY) 0,44% ke 156, yuan China (CNY) 0,08% ke 6,70, rupee India 0,19% ke 95,95, serta dolar Singapura (SGD) 0,18% ke 1,27.

Sementara itu, dolar AS melemah terhadap won Korea Selatan (KRW) 0,23% ke 1.380, rupiah 0,05% ke Rp17.751, dan ringgit Malaysia (MYR) 0,69% ke 4,09.


Analis PT Finex Bisnis Solusi Futures, Brahmantya Himawan mengatakan, JPY dan CNY menjadi dua mata uang yang penting diperhatikan ketika DXY kembali menguat. Keduanya memiliki fungsi berbeda dalam melihat kondisi pasar valas Asia.

"JPY memiliki hubungan lebih langsung dengan DXY karena yen merupakan salah satu komponennya, sedangkan CNY lebih penting sebagai barometer sentimen mata uang Asia," kata Brahmantya kepada Kontan, Kamis (17/9/2026).

Baca Juga: Indeks Dolar AS (DXY) Tembus Level 100, Begini Prospek Valas Asia

Ketahanan yuan menjadi salah satu faktor yang dapat membatasi tekanan terhadap mata uang regional. Sebaliknya, pelemahan CNY yang signifikan berpotensi memberikan tekanan tambahan terhadap KRW, MYR, SGD hingga rupiah.

Brahmantya mengatakan, ketahanan CNY dan SGD di tengah penguatan dolar AS tidak terlepas dari kebijakan masing-masing bank sentral serta kondisi fundamental kedua negara.

"CNY dan SGD masih relatif memiliki ketahanan menghadapi USD yang kuat. CNY mendapat dukungan dari stabilisasi PBoC dan kebijakan China menjaga pergerakan mata uang, sementara SGD relatif defensif karena fundamental eksternal Singapura dan kebijakan moneter berbasis nilai tukar," ujarnya.

Sementara itu, JPY memiliki katalis dari arah kebijakan Bank of Japan (BoJ). Jika BoJ kembali menaikkan suku bunga, yen berpotensi mendapat dukungan. Namun, pergerakannya masih berpeluang volatil karena The Fed dan BoJ sama-sama berpotensi mengetatkan kebijakan.

Untuk mata uang lainnya, rupiah masih menghadapi tantangan dari penguatan dolar AS serta harga minyak yang tinggi, mengingat Indonesia merupakan net importer minyak. KRW juga cenderung sensitif terhadap perubahan sentimen risiko dan pergerakan sektor teknologi global.

Baca Juga: DXY Tertekan, Ini Prospek Rupiah dan Mata Uang Asia hingga Akhir 2026

Adapun MYR mendapat dukungan dari posisi Malaysia sebagai eksportir energi sehingga memiliki bantalan ketika harga komoditas energi menguat.

Ke depan, Brahmantya memperkirakan DXY masih bergerak relatif kuat hingga akhir 2026. Dengan asumsi The Fed mempertahankan bias hawkish, DXY diproyeksikan berada pada kisaran 99–102.

Brahmantya memperkirakan tekanan terhadap mata uang Asia masih berlanjut jika inflasi AS tetap tinggi dan The Fed kembali menaikkan suku bunga pada Oktober, sehingga DXY berpeluang bertahan di sekitar atau bahkan di atas 100 lebih lama.

Namun, jika inflasi AS mulai melandai dan The Fed mendekati akhir siklus kenaikan suku bunga, tekanan terhadap dolar AS berpotensi berkurang sehingga ruang penguatan mata uang Asia dapat kembali terbuka menjelang akhir tahun.

Baca Juga: DXY Masih Perkasa, Safe Haven dan Yield US Treasury Jadi Penopang

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News