Indeks Dolar Di Atas 100, Begini Prospek Valas Utama



KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Indeks dolar Amerika Serikat (AS) (DXY) menyentuh level di atas 100. Pergerakan valuta asing (valas) utama ke depan diproyeksi bergerak fluktuatif salah satunya dipengaruhi arah suku bunga bank sentral. 

Mengutip Trading Economics, Senin (29/6) pukul 16.00 WIB, pasangan valas EUR/USD di level 1,13, terkoreksi 2,90% secara year to date (ytd). Pairing valas GBP/USD di 1,32, menurun 1,86% ytd. Pasangan valas AUD/USD di level 0,68, naik 3,32% ytd. Pasangan valas USD/JPY di level 161,85, menguat 3,25% ytd. Pairing valas USD/CHF di level 0,80, naik 2,03% ytd. Adapun, indeks dolar (DXY) saat ini di level 101,29.  

Research & Education Coordinator Valbury Asia Futures, Nanang Wahyudin mengatakan, posisi DXY di level sekitar 101 mencerminkan bahwa dolar AS saat ini sedang berada dalam fase konsolidasi setelah mengalami tekanan dalam beberapa bulan terakhir dan mulai rebound di akhir bulan Juni. 


Baca Juga: Rupiah Menguat pada Awal Pekan, Cek Sentimen Pergerakan Selasa (30/6)

“Level ini menunjukkan kekuatan dolar yang relatif moderat. Bagi mata uang valas utama lainnya (G10 currencies), kondisi ini memberikan ruang napas untuk bergerak lebih stabil atau bahkan menguat secara teknikal, asalkan tekanan inflasi global melandai dan bank sentral non-AS tidak memangkas suku bunga secara agresif,” ujar Nanang kepada Kontan, Senin (29/6/2026). 

Nanang mengatakan sejumlah faktor yang mempengaruhi pergerakan valas utama ke depan antara lain kebijakan moneter bank sentral. Arah kebijakan suku bunga dari The Fed (AS), European Central Bank (ECB), Bank of England (BoE), dan Bank of Japan (BoJ) tetap menjadi motor utama. Divergensi kebijakan antara bank sentral akan menentukan kekuatan relatif antar mata uang.

Kemudian, data ekonomi makro seperti pertumbuhan PDB, angka inflasi, dan data tenaga kerja dari masing-masing kawasan negara maju akan sangat dicermati pasar. Serta ketegangan geopolitik dan isu perdagangan. 

“Perkembangan politik global yang dinamis di tahun 2026 dapat memicu aliran dana ke aset aman (safe haven), yang biasanya menguntungkan dolar AS (USD), Yen Jepang (JPY), dan Swiss Franc (CHF),” ucap Nanang. 

Analis Mata Uang, Ibrahim Assuaibi menyoroti eskalasi geopolitik yang turut mempengaruhi gerak valas utama. Ia bilang, peningkatan permusuhan AS-Iran akhir pekan lalu menimbulkan keraguan atas kesepakatan damai mereka, meskipun kedua pihak dilaporkan berkomitmen untuk melakukan lebih banyak pembicaraan di Qatar minggu ini. Kondisi pasokan yang membaik juga menekan harga minyak, karena aliran melalui Selat Hormuz kembali mendekati tingkat sebelum perang pekan lalu. 

“Namun, serangan yang kembali terjadi selama akhir pekan memicu kekhawatiran yang lebih tinggi tentang kerapuhan kesepakatan damai sementara antara AS dan Iran,” kata Ibrahim. 

Namun, permusuhan yang terus berlanjut antara Israel dan Lebanon tetap menjadi poin penting yang menjadi penghalang antara AS dan Iran, dengan Teheran menuntut agar Lebanon dimasukkan dalam kesepakatan damai. Sebab, Israel dan kelompok Hizbullah Lebanon terus bentrok di Lebanon Selatan meskipun ada upaya berulang kali untuk menengahi gencatan senjata.

Sementara itu terkait arah kebijakan moneter, Ibrahim melihat beberapa pejabat The Fed mengeluarkan pernyataan yang hawkish dengan Presiden Fed Minneapolis Neel Kashkari, yang memperkirakan satu kenaikan suku bunga pada tahun 2026. Neel bilang bahwa "inflasi yang meluas" menunjukkan bahwa kenaikan suku bunga diperlukan. 

Presiden Fed Chicago Austan Goolsbee juga menyoroti inflasi inti tetap terlalu tinggi dan cenderung ke arah yang salah. Presiden Fed New York John Williams juga menambahkan bahwa inflasi masih terlalu tinggi, meskipun ia mengungkapkan bahwa kebijakan sudah tepat. Tren suku bunga tinggi The Fed diproyeksi memperkuat nilai tukar dolar AS terhadap mata uang negara lain. 

“Valas yang menarik dicermati Swiss Franc, pasangan valas USD/JPY, dan EUR/USD,” kata Ibrahim. 

Sementara Nanang melihat Yen Jepang (JPY) dan Poundsterling Inggris (GBP) cukup menarik untuk dicermati. JPY menarik karena potensi normalisasi kebijakan lebih lanjut oleh Bank of Japan (BoJ) di saat bank sentral lain cenderung melonggarkan kebijakan. Sementara GBP didukung oleh kondisi ekonomi Inggris yang relatif resilien dibanding zona Eropa lainnya. 

Ibrahim memproyeksikan pasangan valas EUR/USD dikisaran 1,12 – 1,14, pairing valas AUD/USD direntang 0,67 – 0,69 dan pasangan USD/CHF dikisaran 0,79 – 0,82 hingga kuartal III – 2026. 

Sementara Nanang memproyeksikan pasangan valas GBP/USD dalam tekanan makin dalam bila tidak bisa pertahankan level support krusial 1,3000, dengan melemah ke area 1,2800 hingga 1,3000. GBP berpeluang tampil lebih tangguh didorong oleh tingkat inflasi inti Inggris yang masih memerlukan penanganan suku bunga yang ketat, dimana ini membalikan tekanan sebelumnya dengan dorongan balik ke 1,3400 hingga 1,3500.

Lalu, pairing valas USD/JPY diperkirakan bergerak di kisaran 161,00 – 162,00. Tren jangka menengah cenderung menunjukkan penguatan JPY (penurunan USDJPY) seiring dengan menyempitnya selisih suku bunga (interest rate differential) antara AS dan Jepang. Pasca lonjakan harga yang memasuki zona intervensi. Bila intervensi benar dilakukan BoJ maka target penurunan hingga 154,00 – 155,50.

Baca Juga: Rupiah Perkasa di Awal Pekan, Sentimen Timur Tengah Jadi Penopang

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News