Indeks Dolar Jatuh ke Bawah 101, GBP dan JPY Jadi Buruan Baru Investor



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Indeks dolar Amerika Serikat (AS) atau US Dollar Index (DXY) kembali melemah pada perdagangan Rabu (15/7/2026).

Mengutip data Trading Economics, indeks dolar AS turun ke level 100,94 pada pukul 16.41 WIB.

Merujuk pada data Bloomberg, posisi jeblok tersebut mentransmisikan sentimen positif bagi rupiah yang menguat ke level Rp18.068 per dolar AS dan menekan kurs JISDOR Bank Indonesia ke Rp18.064 per dolar AS.


Tren kejatuhan mata uang the greenback dalam dua hari berturut-turut pasca melandainya inflasi AS memicu rotasi modal yang masif di pasar valuta asing global.

Baca Juga: RAJA, RMKE dan MLPT Bersiap Stock Split, Mana yang Menarik?

Pergeseran peta likuiditas ini menuntut investor untuk jeli memanfaatkan momentum penguatan tajam pada mata uang utama dunia lainnya.

Analis mata uang sekaligus Founder Traderindo.com, Wahyu Laksono, memproyeksikan Yen Jepang (JPY) dan Poundsterling Inggris (GBP) sebagai aset utama yang paling diuntungkan dari kejatuhan dolar.

Kontraksi inflasi AS memangkas imbal hasil obligasi US Treasury sehingga memicu apresiasi murni pada mata uang Negeri Sakura setelah tertekan sangat lama.

"Poundsterling (GBP) adalah jawaban yang lebih tepat karena didukung oleh sikap bank sentralnya yang terpaksa tetap ketat," ungkap Wahyu kepada Kontan, Rabu (15/7/2026).

Divergensi kebijakan ini terjadi akibat inflasi domestik Inggris yang dinilai lebih lengket ketimbang zona Euro.

Di sisi lain, pergerakan instrumen moneter di tingkat global dipastikan bergerak saling memengaruhi satu sama lain dalam jangka menengah.

Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan INDEF, M. Rizal Taufikurrahman, menjelaskan bahwa normalisasi kebijakan Bank of Japan (BoJ) memegang peran kunci bagi volatilitas valas internasional.

"Normalisasi kebijakan Bank of Japan berpotensi memberikan dampak paling besar terhadap pasar valas global karena mempersempit selisih imbal hasil dengan Amerika Serikat," papar Rizal kepada Kontan, Rabu (15/7/2026).

Baca Juga: BEI Tetapkan 37 Saham Baru Masuk Kategori HSC, Ini Daftarnya

Hingga akhir tahun, Rizal memproyeksikan DXY akan finis secara gradual pada kisaran 98–100.

Ekonom CORE Indonesia, Dipo Satria Ramli, menilai masuknya aliran modal asing ke aset-aset tertentu akan ikut mendikte kekuatan mata uang di luar teritori Paman Sam.

Investor disarankan tetap rasional mengingat fondasi ekonomi Amerika Serikat sebenarnya masih tergolong tangguh di bawah kepemimpinan era baru.

"Inflow modal asing ke saham tech & aset AS tetap kuat." tutup Dipo.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News