Indeks Dolar Melemah, Begini Prospek Valas Utama



KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Pergerakan sejumlah valuta asing (valas) utama menguat seiring dengan melemahnya indeks dolar Amerika Serikat (AS). Mengutip Bloomberg Kamis (16/4/2026) pukul 16.18 WIB, indeks dolar AS (DXY) berada di level 98,14. 

Berdasarkan Trading Economics pukul 16.23 WIB, pasangan valas EUR/USD di level 1,1778, menguat 0,54% secara year to date (ytd), pairing valas GBP/USD di level 1,3542, menguat 0,88% secara ytd, pasangan valas AUD/USD di level 0,7168, naik 7,75% secara ytd. 

Kemudian, pairing valas USD/JPY di level 159,02, menguat 1,32% secara ytd dan pasangan valas USD/CHF di level 0,7834, terkoreksi 1,48% secara ytd. 


Baca Juga: OJK, BEI & KSEI Tuntaskan Empat Tahap Penguatan Transparansi Likuditas Pasar Modal

Analis Mata Uang mengatakan indeks dolar saat ini mengalami pelemahan karena dipengaruhi sentimen geopolitik. AS - Iran disebut akan melakukan pertemuan kembali untuk membahas masalah gencatan senjata. Hal ini yang membuat pasar lebih tenang.

Rencana itu kemungkinan akan dikalkulasi kembali dalam perundingan selanjutnya. Menurut Ibrahim, rencana tersebut mengindikasikan akan adanya perdamaian kembali. Sentimen tersebut yang membuat sejumlah valas utama mengalami penguatan. 

“Ada fluktuasi, tetapi indikasi penguatan akibat dari akan adanya negosiasi antara AS dan Iran walaupun kita belum mengetahui nanti hasilnya seperti apa,” ujar Ibrahim kepada Kontan, Kamis (16/4/2026). 

Research and Development ICDX, Muhammad Amru Syifa mengatakan pergerakan pasangan valas GBP/USD dipengaruhi oleh sentimen pasar global, terutama seiring meningkatnya harapan akan meredanya ketegangan konflik di Timur Tengah yang mendorong minat terhadap aset berisiko.

Pernyataan Donald Trump yang menyebut konflik “hampir berakhir” turut memperkuat optimisme pasar, meskipun ketidakpastian masih membayangi setelah adanya rencana penambahan pasukan AS ke kawasan tersebut. Kombinasi antara harapan damai dan risiko geopolitik yang belum sepenuhnya reda membuat pergerakan GBP/USD tetap sensitif terhadap perkembangan terbaru.

Di sisi lain, penutupan Selat Hormuz masih menjaga harga energi tetap tinggi dan mempertahankan tekanan inflasi global. Kondisi ini mendorong ekspektasi bahwa Bank of England berpotensi menaikkan suku bunga hingga dua kali dalam tahun ini.

Baca Juga: Modal Ekspansi, MNC Digital (MSIN) Andalkan Dana Hasil Listing di Luar Negeri

Pelaku pasar juga mencermati pertemuan antara Rachel Reeves dan Scott Bessent dalam forum IMF World Bank sebagai potensi katalis tambahan bagi arah kebijakan ekonomi.

Sementara itu, Federal Reserve melalui Beige Book melaporkan aktivitas ekonomi yang masih moderat, namun data inflasi terbaru terutama PPI Maret yang naik ke 4% menunjukkan tekanan harga yang tetap kuat.

Pernyataan Alberto Musalem juga mengindikasikan bahwa kenaikan harga minyak berpotensi menjaga inflasi inti di kisaran mendekati 3%. 

“Kondisi ini membuat kebijakan moneter AS cenderung berhati-hati, yang pada akhirnya membatasi penguatan dolar AS dan mendukung GBP/USD,” ucap Amru. 

Berikutnya, pairing valas EURUSD. Amru melihat pasangan EUR/USD didukung oleh sentimen risk-on yang mendorong penguatan euro terhadap dolar AS. Optimisme pasar meningkat seiring harapan berlanjutnya gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran, yang mendorong pelaku pasar untuk kembali masuk ke aset berisiko, termasuk mata uang euro. 

“Di sisi lain, penurunan harga minyak turut meredakan kekhawatiran inflasi global, yang semakin memperkuat daya tarik euro,” kata Amru. 

Baca Juga: Ditutup Menguat Tipis, Ini Proyeksi Rupiah untuk Jumat (17/4)

Amru mengatakan bahwa kebijakan moneter juga menjadi perhatian, di mana European Central Bank cenderung mempertahankan suku bunga dalam waktu dekat, meskipun Christine Lagarde menegaskan perlunya fleksibilitas dalam pengambilan keputusan. Pasar tetap melihat potensi kenaikan suku bunga ke depan, yang memberikan dukungan tambahan bagi euro dan menjaga bias penguatan EUR/USD. 

Selanjutnya, pasangan valas AUD/USD. Pasangan valas ini menunjukkan kecenderungan menguat. Penguatan dolar Australia didukung oleh meredanya harga minyak serta meningkatnya ekspektasi kenaikan suku bunga oleh Reserve Bank of Australia.

Sentimen pasar juga membaik setelah Donald Trump menyatakan bahwa konflik hampir berakhir, meskipun masih muncul spekulasi mengenai kemungkinan perpanjangan gencatan senjata. Optimisme ini mendorong minat terhadap aset berisiko, termasuk dolar Australia.

Sementara itu, pasar menantikan rilis data tenaga kerja Australia, di mana hasil yang lebih kuat dari ekspektasi berpotensi memperkuat peluang pengetatan kebijakan moneter lebih lanjut dan menopang penguatan AUD/USD. 

Lalu, pairing valas USD/JPY. Pasangan USD/JPY mengalami kesulitan untuk melanjutkan penguatan terbatas pada sesi sebelumnya dan kembali tertekan oleh aksi jual pada perdagangan sesi Asia hari Kamis. Pelemahan dolar AS tercermin dalam pergerakan US Dollar Index (DXY) yang saat ini di level sekitar 98. 

Baca Juga: Demi Tambah Free Float, Prajogo Pangestu Kembali Jual Saham Petrindo Jaya (CUAN)

Meredanya ketegangan geopolitik turut menahan harga minyak mentah tetap dekat dengan level terendah tiga minggu, yang berdampak pada penurunan ekspektasi inflasi dan meredam prospek kebijakan hawkish dari Federal Reserve.

Hal ini semakin membebani dolar AS. Sementara itu, yen Jepang mendapat dukungan dari spekulasi adanya potensi intervensi otoritas domestik untuk menahan pelemahan mata uang, meskipun risiko ekonomi akibat ketidakstabilan di Selat Hormuz dapat membatasi penguatan lebih lanjut.

Secara keseluruhan, pergerakan USD/JPY masih cenderung berada dalam fase konsolidasi dalam rentang yang relatif terbatas selama beberapa pekan terakhir.

Kekhawatiran terhadap pasokan energi Jepang serta potensi gangguan distribusi minyak dapat menjadi faktor penahan apresiasi yen. Oleh karena itu, pelaku pasar cenderung menunggu konfirmasi tekanan jual lanjutan sebelum mendorong penurunan lebih dalam dari area puncak di kisaran 160,00.

Selanjutnya USD/CHF. Optimisme terkait potensi meredanya ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran mengurangi permintaan terhadap aset safe haven, sehingga membebani pergerakan dolar AS. Indeks dolar AS (DXY) juga terlihat stabil di sekitar 98 setelah sebelumnya menyentuh level terendah dalam hampir tujuh minggu, seiring pernyataan Donald Trump yang mengindikasikan konflik berpotensi segera berakhir dan negosiasi dapat kembali dilanjutkan.

“Kombinasi sentimen geopolitik yang membaik dan tekanan dari sisi fundamental membuat USD/CHF bergerak dengan bias melemah terhadap franc Swiss,” terang Amru. 

Baca Juga: Ditutup Menguat Tipis, Ini Proyeksi Rupiah untuk Jumat (17/4)

Ibrahim memproyeksikan pasangan valas EUR/USD pada kuartal II - 2026 akan mencapai 1,19293, pairing valas GBP/USD di level 1,37067, dan pasangan valas AUD/USD di level 0,72501. 

Kemudian, pairing valas USD/JPY diproyeksi bergerak ke level 156,900 dan pasangan valas USD/CHF diproyeksi bergerak ke level 0,76825. 

Ke depan, Ibrahim mengatakan sejumlah sentimen yang perlu dicermati untuk melihat kinerja valas utama antara lain perkembangan dinamika geopolitik dan potensi perang dagang. “Euro dan Poundsterling menarik untuk dicermati,” ujar Ibrahim.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News