Indeks Dolar Melemah ke 98, Tren Bearish Berlanjut hingga Semester I 2026



KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Indeks dolar Amerika Serikat atau DXY tengah berada dalam tekanan setelah gagal bertahan di atas level psikologis 100 pada awal tahun. 

Melansir Trading Economics pada Kamis (16/4) pukul 13.20 WIB, indeks dolar AS berada di level 98,0 atau menurun 1,55% dalam sebulan.

Pelemahan hingga ke kisaran 98,0 menjadi sinyal perubahan sentimen pasar global. Analis komoditas dan founder Traderindo.com, Wahyu Laksono menjelaskan, penurunan DXY mencerminkan pergeseran dari sentimen safe haven menuju ekspektasi pelonggaran kebijakan moneter oleh bank sentral AS.


“Pasar mulai memperhitungkan peluang penurunan suku bunga oleh Federal Reserve seiring dengan inflasi yang mulai terkendali. Ini yang menekan dolar,” ujar Wahyu kepada Kontan, Rabu (15/4).

Baca Juga: IHSG Melemah di Sesi I, Intip Proyeksinya untuk Perdagangan Sesi II Hari Ini (16/4)

Di sisi lain, meredanya tensi geopolitik global juga turut mengurangi daya tarik dolar sebagai aset lindung nilai. Harapan adanya gencatan senjata permanen di kawasan Timur Tengah menjadi salah satu katalis pelemahan DXY.

Meski demikian, Wahyu mengingatkan volatilitas jangka pendek masih berpotensi terjadi, terutama jika data tenaga kerja AS menunjukkan penguatan atau ketegangan geopolitik kembali meningkat.

Secara teknikal, Wahyu melihat pergerakan DXY saat ini membentuk pola lower high dan lower low, yang mengindikasikan tren penurunan masih cukup kuat. 

Indikator teknikal seperti RSI dan Stochastics juga menunjukkan tekanan bearish, meskipun sudah mendekati area jenuh jual (oversold).

Untuk sisa Semester I 2026, Wahyu memproyeksikan DXY akan bergerak dalam rentang 95,0 hingga 100,0. Level support terdekat berada di kisaran 97,0 - 97,3, dan jika ditembus berpotensi membuka ruang penurunan lebih lanjut ke area 96,0 - 96,5. Sementara itu, resistance berada di level 98,8 hingga 99,8.

Seiring dengan tren pelemahan dolar, Wahyu menyarankan investor mulai melakukan diversifikasi portofolio secara bertahap keluar dari aset berbasis dolar AS.

Menurutnya, sejumlah mata uang berpotensi diuntungkan dari kondisi ini, seperti yen Jepang, euro, dan poundsterling. Yen Jepang dinilai tetap menarik sebagai alternatif safe haven, terutama jika Bank of Japan melanjutkan normalisasi kebijakan moneternya.

“Selain itu, euro dan poundsterling juga berpotensi menguat seiring perbaikan prospek ekonomi di Eropa,” tambahnya.

Bagi investor domestik, pelemahan dolar juga menjadi sentimen positif bagi rupiah. Wahyu menilai penguatan rupiah berpotensi berlanjut hingga menembus di bawah level Rp 17.000 per dolar AS.

Baca Juga: Rupiah Menguat Tipis ke Rp 17.141 Per Dolar AS di Tengah Hari Ini (16/4)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News