Indeks Dolar Naik Tipis, Ini Proyeksi Pergerakan Mei 2026



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Indeks dolar Amerika Serikat (AS) atau US Dollar Index (DXY) kembali menguat tipis. Meski rebound, pergerakan dolar dinilai masih berada dalam fase konsolidasi dipengaruhi sentimen global.

Mengutip Bloomberg, pada Selasa (28/4/2026) indeks dolar AS ada di level 98,62, naik 0,13% dari sehari sebelumnya yang ada di 98,49. Dalam sepekan, indeks dolar naik 0,27%.

Founder Traderindo, Wahyu Laksono, menilai pembalikan tersebut dipicu perubahan sentimen risiko yang berlangsung cepat.


"Kenaikan awal ke 99,3 pada awal pekan mencerminkan fear trade atau permintaan safe haven akibat kekhawatiran gangguan pasokan energi global di Selat Hormuz," ujar Wahyu kepada Kontan, Selasa (28/4/2026).

Baca Juga: Saham Favorit yang Banyak Diburu Asing di Tengah Tren Penurunan IHSG, Selasa (28/4)

Namun, sentimen itu berbalik setelah muncul laporan proposal baru dari Iran yang membuka peluang de-eskalasi konflik.

Dari sisi teknikal, Wahyu menilai area 99,3–100,0 dinilai sebagai zona resistensi kuat yang juga bertepatan dengan indikator EMA 50 pada grafik mingguan. 

Penolakan di level tersebut mengindikasikan pasar belum memiliki katalis yang cukup untuk menembus batas atas konsolidasi jangka panjang.

Saat ini, pergerakan DXY masih berada dalam fase sideways di rentang lebar 96,0 hingga 100,0. 

Penurunan sebelumnya ke level 98,5 disebut sebagai bentuk mean reversion setelah kondisi jangka pendek yang sempat overbought.

Wahyu menegaskan, dolar baru berpotensi memasuki tren pelemahan yang lebih dalam apabila menembus level psikologis 96,0. 

Sementara itu, dalam jangka pendek, level 98,2 menjadi area penopang terdekat. Jika ditembus, maka pelemahan berpotensi berlanjut ke kisaran 97,5.

Untuk konfirmasi arah berikutnya, pelaku pasar juga mencermati indikator teknikal seperti RSI yang saat ini berada di area netral, serta potensi dead cross pada MACD yang dapat menjadi sinyal lanjutan pelemahan.

Baca Juga: IHSG Turun 7 Hari Berturut-turut, Cek Saham yang Banyak Dijual Asing Selasa (28/4)

Di luar faktor teknikal, arah dolar masih sangat dipengaruhi oleh rilis data ekonomi AS, terutama inflasi serta hasil rapat kebijakan suku bunga bank sentral AS dalam waktu dekat. Selain itu, dinamika geopolitik di Timur Tengah tetap menjadi faktor kunci.

Ke depan, prospek dolar AS dinilai cenderung netral dengan bias melemah terbatas, terutama jika tensi geopolitik mereda dan fundamental ekonomi AS menunjukkan perlambatan.

"Untuk bulan Mei, diprediksi DXY masih akan bergerak konsolidatif di kisaran 96,00 hingga 100,50. Level 99,50 akan menjadi plafon yang sulit ditembus tanpa adanya katalis negatif baru dari global, sementara level 97,20 menjadi area pendukung kuat di mana pembeli kemungkinan besar akan masuk kembali," kata Wahyu. 

Di tengah volatilitas yang masih tinggi, Wahyu menyarankan investor untuk menerapkan strategi wait and see secara selektif.

Investor sebaiknya tidak terburu-buru melakukan posisi beli besar pada Dolar di level saat ini karena harga berada di tengah rentang konsolidasi. 

Sebaliknya, Wahyu menyarankan investor mulai melirik aset risk-on secara bertahap namun tetap waspada.

"Strategi terbaik adalah menunggu konfirmasi apakah level 98,5 mampu bertahan sebagai lantai atau justru jebol," kata Wahyu.

Ia menegaskan, momentum sekarang hanya diperbolehkan untuk perdagangan jangka pendek (scalping), tetapi untuk investasi jangka menengah, kejelasan hasil negosiasi di Selat Hormuz tetap menjadi kunci utama sebelum mengambil posisi besar. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

TAG: