KONTAN.CO.ID-JAKARTA. Ekspektasi pelaku usaha terhadap kondisi makroekonomi Indonesia pada triwulan III-2026 semakin memburuk. Hal ini tercermin dari Indeks Ekspektasi Kondisi Makroekonomi (IKM) yang turun ke level 28, dari 37 pada triwulan sebelumnya. Berdasarkan laporan Survei Perbankan Otoritas Jasa Keuangan (SBPO) Triwulan III-2026, IKM berada di zona pesimistis.
Penurunan tersebut dipengaruhi prediksi pertumbuhan ekonomi yang lebih rendah, kenaikan suku bunga acuan, pelemahan nilai tukar rupiah, serta peningkatan inflasi. Pelaku usaha memperkirakan pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) pada triwulan III-2026 akan lebih moderat dibandingkan realisasi triwulan II-2026. Kondisi ini sejalan dengan berakhirnya sejumlah faktor musiman yang sebelumnya menopang aktivitas ekonomi.
Baca Juga: Tabungan Masyarakat Menipis, Investasi Perlu Digenjot Jaga Pertumbuhan Ekonomi Pada triwulan I-2026, momentum Ramadan dan Idulfitri mendorong konsumsi rumah tangga, mobilitas masyarakat, serta belanja pemerintah. Sementara itu, pada triwulan II-2026, aktivitas ekonomi kembali didukung oleh periode libur sekolah yang meningkatkan konsumsi dan pergerakan masyarakat. Setelah faktor musiman tersebut berakhir, aktivitas ekonomi pada triwulan III-2026 diperkirakan kembali ke pola normal sehingga pertumbuhan cenderung melambat. Indikasi perlambatan konsumsi masyarakat juga tercermin dari Survei Konsumen Bank Indonesia. Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) turun dari 117,8 pada Juni 2026 menjadi 116,8 pada Juli 2026. Penurunan tersebut mengindikasikan masyarakat mulai lebih berhati-hati dalam melakukan konsumsi. Kondisi ini juga dipengaruhi oleh inflasi yang masih tinggi dan menekan daya beli, khususnya kelompok masyarakat menengah yang belum sepenuhnya pulih. Selain itu, ketidakpastian ekonomi global dan tingginya suku bunga global berpotensi menahan kinerja ekspor, investasi, serta aktivitas usaha.
Baca Juga: KTT BRICS, Prabowo: RI Tak Lagi Hanya Impor Pangan, Kini Jadi Eksportir Meski demikian, perekonomian Indonesia diperkirakan masih tumbuh positif pada triwulan III-2026. Salah satu indikasinya adalah
Purchasing Managers’ Index (PMI) Indonesia yang tercatat sebesar 50,2 pada Juli 2026. Capaian tersebut menunjukkan aktivitas manufaktur nasional masih berada di zona ekspansi, meski dengan laju yang lebih moderat dibandingkan triwulan sebelumnya.
BI Rate Diperkirakan Naik
Dari sisi suku bunga, BI-Rate diperkirakan cenderung meningkat seiring upaya Bank Indonesia menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah ketidakpastian pasar keuangan global. Tekanan terhadap rupiah diperkirakan masih berlanjut akibat suku bunga global yang tetap tinggi dan terbatasnya ruang pelonggaran suku bunga The Federal Reserve. Kondisi tersebut mendorong Bank Indonesia menjaga daya tarik aset domestik sekaligus memitigasi risiko arus modal keluar.
Baca Juga: Prabowo Dorong BRICS Terlibat dalam Pembangunan Global hingga 2030 Di sisi domestik, inflasi yang telah mendekati batas atas sasaran, kenaikan harga energi, serta peningkatan biaya produksi turut meningkatkan risiko
imported inflation dan tekanan harga lanjutan. Dengan pertumbuhan ekonomi yang diperkirakan masih cukup solid, Bank Indonesia dinilai memiliki ruang untuk memprioritaskan stabilitas. Kenaikan BI-Rate pada triwulan III-2026 diperkirakan bersifat pre-emptive untuk menjaga stabilitas rupiah dan ekspektasi inflasi. Sebagai informasi, Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia pada 20–21 Juli 2026 memutuskan mempertahankan BI-Rate di level 5,75%. Sebelumnya, BI-Rate telah meningkat 100 basis poin dari level 4,75%.
Inflasi dan Rupiah Jadi Perhatian
Inflasi September 2026 diperkirakan meningkat dibandingkan realisasi Juni 2026 yang sebesar 3,34% secara tahunan. Kenaikan inflasi diperkirakan lebih banyak berasal dari sisi harga, sementara permintaan masyarakat masih moderat. Kenaikan harga diproyeksikan terjadi secara menyeluruh, terutama akibat kenaikan harga energi global serta penyesuaian harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi dan avtur. Kondisi tersebut berpotensi diteruskan ke biaya transportasi, produksi, dan logistik. Depresiasi nilai tukar rupiah juga berpotensi meningkatkan harga barang impor. Selain itu, fenomena El Nino yang diperkirakan terjadi pada triwulan III hingga triwulan IV-2026 dapat mendorong kenaikan harga pangan secara signifikan.
Baca Juga: Prabowo: BRICS Punya Kekuatan Mineral Kritis dan Sumber Energi Dunia Sebagai pembanding, inflasi Juli 2026 tercatat sebesar 2,88%, menurun dibandingkan bulan sebelumnya. Penurunan tersebut terutama didorong oleh kelompok volatile food yang mengalami deflasi. Sementara itu, nilai tukar rupiah pada September 2026 diperkirakan melemah dibandingkan posisi Rp17.856 per dolar AS pada 30 Juni 2026. Pelemahan tersebut dipengaruhi oleh ketidakpastian global, penguatan dolar AS, kebijakan moneter Amerika Serikat yang cenderung ketat, serta tingginya imbal hasil US Treasury. Kondisi ini meningkatkan daya tarik aset berdenominasi dolar dan mendorong arus modal keluar dari pasar negara berkembang. Eskalasi ketegangan geopolitik di Timur Tengah juga berpotensi mendorong kenaikan harga minyak dunia. Hal tersebut dapat meningkatkan kebutuhan impor migas Indonesia, menekan neraca perdagangan dan transaksi berjalan, serta memperbesar kebutuhan valuta asing domestik.
Baca Juga: Gaji Manajer KDMP Ditanggung Negara, Ekonom Celios Soroti Kemandirian Koperasi Dari sisi domestik, tekanan rupiah juga berasal dari meningkatnya kebutuhan valas untuk pembayaran impor, utang luar negeri, dan repatriasi dividen, serta kekhawatiran terhadap kondisi fiskal dan prospek pertumbuhan ekonomi. Meski demikian, pelemahan rupiah diperkirakan relatif terbatas. Kebijakan stabilisasi Bank Indonesia melalui intervensi di pasar valuta asing, tingkat suku bunga domestik yang tetap menarik, serta dukungan cadangan devisa yang memadai diharapkan dapat meredam volatilitas nilai tukar. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News