Indeks IDX sector basic materials menguat 9,06% sejak awal tahun, ini pendorongnya



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Sejak awal tahun atau secara year-to-date (ytd), Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat 4,39%. Meski demikian, terdapat sejumlah indeks saham sektoral yang naik lebih tinggi dari IHSG.

Salah satunya, IDX sector basic materials atau sektor barang baku. Indeks saham sektoral berisikan perusahaan yang menjual produk dan jasa yang digunakan untuk produksi barang final ini menguat 9,06% sejak awal tahun.

Analis NH Korindo Sekuritas Indonesia Maryoki Pajri Alhusnah mengatakan, sejauh ini, yang mengakibatkan sektor barang baku menguat cukup signifikan adalah saham-saham yang berbasis logam. Untuk diketahui, komoditas seperti emas, tembaga, alumunium, besi dan baja masuk ke dalam klasifikasi barang baku logam dan mineral.


Hal ini bisa terbukti dari naiknya sejumlahn saham-saham berbasis logam, seperti PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) yang melejit 52,9% secara ytd.

Baca Juga: Mengintip 10 saham paling banyak diborong asing selama sepekan ini

Selain itu, saham PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) juga naik 9,2% ytd. Sedangkan, saham PT Vale Indonesia Tbk (INCO) menguat 23,5% secara year-to-date.

Hanya saja, menurut Maryoki, pergerakan harga saham-saham ini akan mulai terbatas, mengingat sentimen-sentimen positif yang ada juga sudah terbatas alias minim sentimen.

Salah satunya seperti pemulihan ekonomi Amerika Serikat (AS) yang bisa membuat tingkat inflasi di Negara Adidaya tersebut naik dan tentunya nilai tukar dollar AS juga akan naik. “Sehingga membuat harga emas akan mulai tertekan,” terang Maryoki kepada Kontan.co.id, Jumat (26/2).

Maryoki sendiri memproyeksikan, harga emas tahun ini akan tetap berada di kisaran US$ 1.800 per ounce troy. Sementara harga nikel diekspektasikan berada pada range US$ 16.000-US$ 17.000 per ton.

Maryoki menilai, saham INCO dan ANTM sudah saat ini harganya sudah terlalu mahal. Dus, dia merekomendasikan jual saham INCO dengan target harga Rp 4.530 dan jual saham ANTM dengan target harga Rp 1.480 per saham.

Secara fundamental, Maryoki memproyeksikan, produksi dan volume penjualan ANTM akan mulai tumbuh tahun ini setelah kinerja operasional tahun lalu menurun. Meskipun memang, kenaikan ini diproyeksikan akan belum signifikan.

Dari sisi produksi, saat ini sedang terjadi fenomena La Nina atau cuaca ekstrem lainnya, yang terjadi di berbagai wilayah di Indonesia. Hal ini disinyalir dapat mengganggu proses produksi ANTM.

Sedangkan, produksi nikel INCO diperkirakan akan menurun tahun ini seiring adanya proyek pembangunan ulang tungku (rebuild furnace) 4 yang diagendakan tahun ini.

Maryoki memperkirakan, dengan asumsi adanya rebuild furnace, produksi INCO tahun ini akan berada di rentang 65.000 ton– 68.000 ton. Proyeksi ini juga dengan menimbang faktor fenomena La Nina. Sebagai perbandingan, INCO memproduksi 72.237 ton nikel dalam matte sepanjang 2020 atau naik 2% secara tahunan.

Selanjutnya: Pendapatan Vale Indonesia (INCO) turun, tapi laba melesat di 2020, ini kata analis

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Khomarul Hidayat