KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Indeks Kepercayaan Industri (IKI) membuka tahun 2026 dengan kenaikan yang cukup signifikan. Kementerian Perindustrian (Kemenperin) memotret IKI Januari 2026 mencetak rekor tertinggi dalam 49 bulan terakhir dengan melaju di zona ekspansi pada level 54,12. Juru Bicara Kemenperin Febri Hendri Antoni Arief mengungkapkan bahwa nilai IKI Januari 2026 melonjak 2,22 poin dibandingkan IKI Desember 2025 sebesar 51,90. Sedangkan jika dibandingkan dengan IKI Januari 2025 sebesar 53,10, terjadi kenaikan 1,02 poin. Capaian IKI Januari 2026 menjadi yang tertinggi sejak IKI pertama kali diluncurkan pada November 2022. "Menandakan penguatan kepercayaan pelaku industri terhadap prospek usaha di awal tahun,” ungkap Febri dalam keterangan yang disiarkan pada Jumat (30/1/2026).
Baca Juga: ESDM Cek Temuan PPATK Soal Aliran Dana Tambang Ilegal Emas Rp 992 Triliun Febri merinci, IKI perusahaan industri yang berorientasi ekspor meningkat 2,26 poin secara bulanan menjadi 54,62. Sementara IKI bagi industri yang berorientasi pasar domestik pada bulan ini naik 1,92 poin menjadi 53,25. Berdasarkan komponen pembentuk, IKI variabel pesanan baru pada Januari 2026 meningkat 2,51 poin secara bulanan menjadi 55,27. Lonjakan terjadi pada IKI variabel produksi yang mengalami kenaikan 6,45 poin, sehingga kembali ke zona ekspansi sebesar 54,86. Hasil ini mengakhiri masa kontraksi IKI variabel produksi selama tujuh bulan beruntun. Sementara itu, variabel persediaan produk mengalami penurunan 4,85 poin menjadi 50,14. Febri menyoroti bahwa variabel produksi menopang lonjakan IKI Januari 2026. Kemenperin memotret bahwa kenaikan produksi merupakan respons dari perusahaan industri untuk menyambut permintaan saat momentum Ramadan - Idulfitri yang berada di kuartal I-2026. "Kami menilai peningkatan IKI terjadi karena pelaku industri mulai mengintensifkan kegiatan produksi untuk memenuhi peningkatan permintaan menjelang bulan Ramadan, Hari Raya Idulfitri, serta hari raya keagamaan lainnya,” ungkap Febri. Sejumlah industri menjadikan momentum Ramadan - Idulfitri sebagai musim puncak (peak season) untuk mendongkrak volume produksi dan penjualan. Terutama bagi industri yang terkait dengan barang konsumsi dan produk pendukungnya. Dihubungi terpisah, Ketua Umum Asosiasi Industri Minuman Ringan (Asrim) Triyono Prijosoesilo mengungkapkan bahwa secara historis Ramadan - Idulfitri menjadi
peak season penjualan bagi produk industri minuman siap saji dalam kemasan. Hanya saja, Triyono masih belum membuka proyeksi pertumbuhan penjualan pada Ramadan - Idulfitri tahun ini. Sebab, pertumbuhan konsumsi akan sangat bergantung pada sejumlah faktor, seperti tingkat daya beli masyarakat, Tunjangan Hari Raya (THR), serta berbagai dukungan insentif yang mungkin diberikan oleh pemerintah. "Prognosis kami untuk tahun ini juga seperti itu (
peak season penjualan). Harapan kami kinerja periode Lebaran tahun ini bisa lebih baik dibandingkan 2025," kata Triyono saat dihubungi Kontan.co.id Jumat (30/1/2026).
Baca Juga: DEN Dituntut Tegas, Pastikan Revisi RUEN Ada Strategi Tekan Ketergantungan BBM Fosil Kenaikan penjualan produk konsumsi juga sejalan dengan permintaan di industri kemasan, termasuk kemasan dari gelas kaca. Ketua Umum Asosiasi Produsen Gelas Kaca Indonesia (APGI) Henry T. Susanto mengatakan bahwa kenaikan permintaan tergantung dari segmentasi produk dan industri pelanggannya. Henry menggambarkan, kenaikan permintaan bisa terjadi beberapa bulan sebelum masa Ramadan, dengan rentang kenaikan sampai dengan 20%. "Kenaikan permintaan tergantung dari industrinya. Barang kemasan dari kaca yang paling banyak adalah untuk sirup, kecap, minuman kesehatan dan lainnya," ungkap Henry.
Menanti Insentif Otomotif
Selain menyambut Ramadan - Idulfitri, Febri menyoroti ekspansi di sub sektor yang terkait dengan industri otomotif. Dari 23 sub sektor industri pengolahan non-migas alias sektor manufaktur, Kemenperin mencatat sebanyak 20 sub sektor mengalami ekspansi pada survei IKI Januari 2026. Dua sub sektor dengan nilai IKI tertinggi adalah Industri Kendaraan Bermotor, Trailer, dan Semitrailer (KBLI 29) serta Industri Mesin dan Perlengkapan Yang Tidak Termasuk Dalam Lainnya (KBLI 28). Sedangkan tiga sub sektor yang mengalami kontraksi adalah Industri Kulit, Barang dari Kulit dan Alas Kaki (KBLI 15), Industri Kayu, Barang dari Kayu dan Gabus (tidak termasuk furnitur) serta Barang Anyaman dari Bambu, Rotan dan Sejenisnya (KBLI 16), serta Industri Komputer, Barang Elektronik dan Optik (KBLI 26). Menurut Febri, industri kendaraan bermotor yang mencapai ekspansi tertinggi pada awal tahun 2026 mencerminkan respons positif dari usulan insentif yang disampaikan oleh Kemenperin kepada Kementerian Keuangan (Kemenkeu). "Meski demikian, usulan tersebut masih dalam proses pembahasan antara Kemenperin dan Kemenkeu,” tandas Febri. Soal insentif otomotif, Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita mengungkapkan bahwa usulan insentif terkait pembelian mobil masih dalam pembahasan teknis dengan Kemenkeu. Agus berharap pembahasan terkait insentif pembelian mobil ini akan segera rampung dan menghasilkan keputusan yang dapat menggerakkan industri otomotif. Agus belum membeberkan usulan apa saja yang sedang dibahas oleh Kemenperin dan Kemenkeu. Dia hanya menggambarkan bahwa usulan insentif kali ini lebih detail, sehingga ketika terealisasi akan lebih tepat sasaran. "Detail itu bisa berarti per teknologi, bisa per sektor, komersial atau passenger, atau gabungan teknologi dengan jenis mobil. Harga, atau bisa indikator lebih detail dari TKDN (Tingkat Komponen Dalam Negeri)," ungkap Agus setelah acara Indonesia Semiconductor Summit (ISS) 2026 di Bandung, Kamis (29/1/2026).
Agus pun memahami apabila Kemenkeu masih memerlukan waktu untuk menghitung secara cermat cost & benefit dari pemberian insentif. "Kalau kami maunya secepatnya, supaya market-nya bisa bergerak. Tapi saya mengerti Kemenkeu ekstra hati-hati, karena kami (mengusulkan insentif) sangat detail," tandas Agus.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News