KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Hasil survei konsumen Bank Indonesia (BI) melaporkan Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) Mei 2026 berada di posisi 120,9. Angka tersebut lebih rendah bila dibandingkan posisi April 2026 yang tercatat 123,0. Analis sekaligus
Branch Manager Panin Sekuritas Pondok Indah, Elandry Pratama mengatakan penurunan IKK dari 123,0 menjadi 120,9 menunjukkan kepercayaan konsumen sedikit melemah sehingga masyarakat cenderung lebih berhati-hati dalam membelanjakan uangnya. Dampaknya bagi emiten konsumer ialah potensi perlambatan pertumbuhan penjualan, terutama pada segmen barang non-primer.
Baca Juga: Kenaikan BI Rate dan Yield SBN Turut Menekan Pasar Obligasi Korporasi Namun karena IKK masih berada di atas level 100, konsumsi rumah tangga secara umum masih berada dalam fase ekspansi sehingga dampaknya belum terlalu signifikan terhadap kinerja sektor konsumer secara keseluruhan. Secara terpisah, Analyst Phintraco Sekuritas, Alrich Paskalis Tambolang melihat penurunan IKK tersebut menunjukkan optimisme masyarakat mulai melandai, meskipun masih berada di level ekspansif. Kondisi ini mengindikasikan konsumen cenderung lebih selektif dalam berbelanja, terutama untuk produk non esensial. "Di sisi lain, data BI juga menunjukkan porsi tabungan masyarakat menurun dan porsi pembayaran cicilan meningkat, yang berpotensi membatasi ruang konsumsi ke depan," ujar Alrich. Alrich juga menerangkan bagi emiten konsumer, dampaknya ialah potensi perlambatan pertumbuhan volume penjualan, terutama pada segmen
discretionary. Namun untuk emiten
consumer staples, dampaknya relatif lebih terbatas karena produknya masih menjadi kebutuhan sehari-hari. "Secara umum, sektor konsumer masih mampu bertumbuh, tetapi pasar kemungkinan akan lebih selektif dan hanya memberikan premium valuation kepada emiten yang mampu mempertahankan margin dan pertumbuhan laba," tambah Alrich.
Emiten yang Terdampak
Elandry menerangkan emiten yang berpotensi lebih terdampak adalah sektor ritel dan
consumer discretionary seperti PT Mitra Adiperkasa Tbk (
MAPI) karena belanja fashion, gaya hidup, dan barang sekunder biasanya lebih sensitif terhadap perubahan keyakinan konsumen. Sebaliknya, emiten consumer staples seperti PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (
ICBP), PT Mayora Indah Tbk (
MYOR), dan PT Cisarua Mountain Dairy Tbk (
CMRY) relatif lebih defensif karena produk yang dijual merupakan kebutuhan sehari-hari yang permintaannya cenderung stabil.
Baca Juga: Samator Indo Gas (AGII) Siap Bagi Dividen Tunai Rp 11,42 Per Saham "Menurut saya, penurunan IKK kali ini lebih merefleksikan kehati-hatian konsumen daripada sinyal pelemahan konsumsi yang tajam. Maka dari itu,
market sentiment terhadap sektor konsumer kemungkinan masih cenderung netral dengan preferensi investor tetap mengarah ke emiten defensif," kata Elandry kepada Kontan, Kamis (11/6/2026). Alrich turut menambahkan, penurunan IKK saat ini belum menunjukkan masyarakat berhenti berbelanja, melainkan terjadi pergeseran pola konsumsi. Konsumen cenderung akan mengurangi pembelian barang premium, menunda pembelian barang tahan lama dan beralih ke produk yang lebih terjangkau serta memprioritaskan kebutuhan pokok dibanding kebutuhan gaya hidup. Oleh karenanya, dalam situasi seperti sekarang saham-saham consumer staples seperti PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP), PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF), PT Mayora Indah Tbk (MYOR), : PT Cisarua Mountain Dairy Tbk (CMRY), dan PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR) memiliki daya tahan yang lebih baik dibanding emiten yang mengandalkan konsumsi discretionary dan gaya hidup seperti PT Mitra Adiperkasa Tbk (MAPI), PT Map Aktif Adiperkasa Tbk (MAPA), PT Aspirasi Hidup Indonesia Tbk (ACES) dan PT Erajaya Swasembada Tbk (ERAA). Dari sisi strategi investasi, Elandry lebih memilih saham
consumer staples dibanding consumer
discretionary. Pilihan yang menarik antara lain ICBP dengan target harga Rp 8.000-Rp 9.000, MYOR Rp 2.000, dan CMRY Rp 5.500-Rp 6.000. Ketiga saham itu dipilih lantaran memiliki fundamental yang cukup kuat, pangsa pasar besar, serta lebih tahan terhadap fluktuasi consumer sentiment dibanding emiten yang bergantung pada belanja sekunder.
Baca Juga: Pakuwon Jati (PWON) Bagi Dividen Rp 626 Miliar dari Laba Bersih Tahun Buku 2025 Adapun Alrich membagikan sejumlah rekomendasi saham untuk emiten konsumer, antara lain:
1. ICBP RekomendasI: Buy on support Entry : Sekitar Rp 6.000 Target 1: Rp 6.500 Target 2: Rp 7.000 Stoploss : Di bawah Rp 5.900
2. MYOR Rekomendasi: Buy on support
Entry :Sekitar Rp 1.600 Target : Rp 1.750 Stoploss : Di bawah Rp 1.560 Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News