Indeks Keyakinan Konsumen Menurun, Risiko Penurunan Konsumsi Disorot



KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) Indonesia turun lebih lanjut dari 117,8 pada Juni menjadi 116,8 pada Juli 2026, level terendah sejak April 2025. Ini menimbulkan beberapa kekhawatiran tentang keberlanjutan konsumsi domestik pada semester kedua tahun 2026.

Prasetya Gunadi, Head of Equity Research Samuel Sekuritas Indonesia (SSI) melihat penurunan tersebut terutama didorong oleh memburuknya persepsi terhadap kondisi ekonomi saat ini. Penurunan yang berkelanjutan menunjukkan bahwa sentimen rumah tangga secara bertahap kehilangan momentum, meskipun indeks tetap di atas 100.

Ke depan, Samuel Sekuritas memperkirakan kepercayaan konsumen akan mengalami ruang lingkup terbatas dalam hal pemulihan yang berarti dalam waktu dekat. 


“Kekhawatiran yang terus-menerus terhadap lapangan kerja, daya beli, dan ketidakpastian ekonomi yang lebih luas akan membuat pengeluaran rumah tangga relatif hati-hati,” ujar Prasetya dalam risetnya pada Selasa (11/8/2026). 

Baca Juga: Ditjen Pajak Jawab Isu Pemilik Rumah Kontrakan Jadi Sasaran Pajak di 2027

Prasetya bilang, bagi Bank Indonesia, tren kepercayaan yang melemah menambah kekhawatiran terhadap pertumbuhan domestik, meskipun fleksibilitas kebijakan mungkin tetap dibatasi oleh stabilitas rupiah dan risiko eksternal. 

Seperti diketahui, Indeks Kondisi Ekonomi saat Ini turun 1,3 poin menjadi 107,9, seiring dengan melemahnya pembelian barang tahan lama dan melemahnya persepsi ketersediaan lapangan kerja.

Penurunan selera belanja diskresioner menunjukkan bahwa rumah tangga menjadi lebih berhati-hati di tengah tekanan pada daya beli, sementara terus berlanjutnya kelemahan dalam sentimen ketenagakerjaan akan semakin membatasi konsumsi, terutama mengingat memburuknya kondisi pasar tenaga kerja. 

Prasetya mengatakan, dari perspektif pertumbuhan, moderasi kepercayaan yang berkelanjutan menghadirkan beberapa risiko penurunan terhadap konsumsi rumah tangga, yang tetap menjadi pendorong pertumbuhan utama Indonesia. 

“Setelah pertumbuhan konsumsi swasta sebesar 5,06% secara year on year (YoY) pada kuartal kedua tahun 2026, kepercayaan yang lebih lemah dan kehati-hatian yang lebih besar terhadap pembelian diskresioner dapat menyebabkan momentum konsumsi yang lebih lemah pada semester kedua tahun 2026, terutama jika daya beli dan kondisi ketenagakerjaan tetap berada di bawah tekanan,” jelas Prasetya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News