KONTAN.CO.ID-JAKARTA. Stabilnya Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) pada September 2026 diyakini belum sepenuhnya mencerminkan perbaikan kondisi ekonomi rumah tangga, justru masih tertekan. Pasalnya, Ekonom CORE Indonesia Yusuf Rendy Manilet mengungkapkan optimisme konsumen masih lebih banyak ditopang oleh harapan terhadap kondisi ekonomi ke depan dibandingkan perbaikan yang telah dirasakan saat ini. Sebagai gambaran, IKK September 2026 tercatat sebesar 118,1, turun tipis dibandingkan 118,5 pada Agustus 2026. Namun, jika dilihat berdasarkan komponennya, penilaian konsumen terhadap kondisi ekonomi saat ini justru turun dari 109,4 menjadi 107,5.
Baca Juga: Rosan Roeslani: Investasi Hilirisasi Sudah Capai 35% dari Total Investasi Sebaliknya, ekspektasi konsumen terhadap kondisi ekonomi enam bulan mendatang meningkat dari 127,6 menjadi 128,7. "Artinya, optimisme konsumen saat ini lebih banyak ditopang harapan terhadap kondisi ke depan daripada perbaikan yang sudah dirasakan. Kesenjangan ini perlu dijaga karena jika harapan tersebut tidak segera terwujud, optimisme bisa cepat terkoreksi," ujar Yusuf kepada Kontan, Kamis (8/10/2026). Menurut Yusuf, tekanan juga semakin terlihat pada kelompok masyarakat berpenghasilan rendah. Konsumen memang masih berharap penghasilan dan lapangan kerja membaik, tetapi ekspektasi terhadap kegiatan usaha justru melemah. Padahal, penghasilan dan lapangan kerja sangat bergantung pada aktivitas dunia usaha. Yusuf menilai kondisi tersebut menunjukkan bahwa tekanan daya beli semakin terasa, khususnya pada kelompok bawah dan menengah bawah. "Keyakinan terhadap penghasilan saat ini pada kelompok pengeluaran Rp 1 juta sampai Rp 2 juta sudah berada di level pesimis, sementara responden berpendidikan SMA juga turun ke 96,9," katanya. Dengan kondisi tersebut, Yusuf memperkirakan konsumsi rumah tangga masih akan tumbuh, tetapi cenderung moderat dan tidak merata. Kelompok masyarakat berpenghasilan lebih tinggi masih menjadi penopang konsumsi, sementara kelompok bawah cenderung menahan belanja.
Baca Juga: Perpres Ojol Terbit, Atur Tarif, Kemitraan hingga Pengiriman Makanan Pola penggunaan pendapatan masyarakat juga memperkuat sinyal tersebut. Porsi pendapatan yang digunakan untuk konsumsi meningkat dari 74,2% pada Agustus menjadi 74,9% pada September. Di sisi lain, porsi pendapatan yang disimpan sebagai tabungan justru turun dari 15,8% menjadi 15,4%. Yusuf menilai kenaikan porsi konsumsi tersebut belum tentu menunjukkan perbaikan daya beli masyarakat. "Saya melihat ini lebih sebagai tanda tekanan daripada perbaikan daya beli. Konsumsi meningkat, tetapi ruang untuk menabung justru menyusut," ujarnya. Menurut dia, kondisi tersebut perlu dibaca bersama tekanan eksternal, termasuk nilai tukar rupiah yang berada di sekitar Rp 17.900 per dolar AS dan harga energi yang masih tinggi. Kenaikan porsi konsumsi bisa saja mencerminkan meningkatnya biaya hidup, bukan semata-mata bertambahnya volume konsumsi rumah tangga. Di sisi lain, turunnya porsi pendapatan yang digunakan untuk membayar cicilan juga belum dapat langsung diartikan sebagai membaiknya kondisi keuangan rumah tangga.
Baca Juga: Menkeu Optimistis Ekonomi Indonesia Semester II 2026 Tumbuh 5,5%-5,6% Menurut Yusuf, masyarakat bisa saja lebih berhati-hati mengambil kredit karena prospek penghasilan masih belum pasti. Hal ini mengindikasikan sebagian rumah tangga mulai menggunakan tabungan untuk mempertahankan tingkat konsumsi, meski skalanya saat ini belum mengkhawatirkan. "Jika pola ini berlanjut, bantalan keuangan rumah tangga akan semakin tipis dan konsumsi menjadi lebih rentan terhadap guncangan, seperti kenaikan harga energi atau kehilangan pekerjaan," jelas Yusuf.
Kondisi ini menurutnya menjadi penting karena konsumsi rumah tangga masih menyumbang lebih dari separuh Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia. Yusuf mengingatkan agar upaya mengejar pertumbuhan ekonomi 6% pada tahun depan perlu dibarengi dengan kebijakan yang mampu menjaga daya beli, terutama masyarakat berpenghasilan rendah dan pekerja informal. "Untuk mengejar pertumbuhan 6% tahun depan, menjaga daya beli perlu diarahkan terutama kepada kelompok berpenghasilan rendah dan pekerja informal, sekaligus menjaga stabilitas rupiah agar tekanan dari harga barang impor tidak semakin besar," pungkasnya. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News