Indeks Kompas100 Koreksi Cukup Dalam, Saham Ini Masih Layak Jadi Pilihan Investor



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kinerja indeks Kompas100 cukup tertekan bersamaan dengan volatilitas pasar yang terjadi selama 2026 berjalan. Investor pun perlu lebih lihai memilah saham yang potensial dari indeks tersebut.

Mengutip data Bursa Efek Indonesia (BEI), indeks Kompas100 telah menyusut 19,45% year to date (ytd) ke level 961,375 hingga Senin (27/4). Penurunan kinerja indeks Kompas100 lebih dalam dibandingkan dengan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang telah ambles 17,81% ytd ke level 7.106,520 sejak awal tahun.

Kepala Riset Korea Investment & Sekuritas Indonesia (KISI) Muhammad Wafi menilai, anjloknya kinerja indeks Kompas100 terjadi lantaran mayoritas konstituennya adalah saham-saham berkapitalisasi besar yang sering dilepas investor asing ketika pasar sedang goyah. Saham seperti BBCA, BBRI, dan BMRI menjadi jajaran pemberat utama Kompas100 bila berkaca pada faktor tersebut.


Baca Juga: Saham Blue Chip Ini Akan Bayar Dividen Jumbo Hampir Rp 2 T, Yield 3x Bunga Deposito

Indeks Kompas100 juga terdampak oleh keputusan penyedia indeks global MSCI yang masih membekukan penyesuaian saham-saham Indonesia, sehingga membuat dana pasif asing tertahan. "Belum lagi, ada aksi profit taking dari investor yang beli murah saham Kompas100 pada 2024 lalu," kata dia, Senin (27/4).

Senada, Analis BRI Danareksa Sekuritas Abida Massi Armand menyebut, saham-saham big caps di indeks Kompas100 kerap menjadi target utama net sell investor asing. Menurutnya, pemberat utama indeks ini berasal dari sektor perbankan besar seperti BBCA, BBRI, dan BMRI, kemudian sektor teknologi seperti GOTO, ARTO, serta sektor konsumer seperti UNVR dan HMSP. 

Di sisi lain, koreksi ini turut membawa berkah bagi investor, yakni sebagian besar saham big caps di Kompas100 kini diperdagangkan dengan harga di bawah rata-rata valuasi historisnya. "Hal ini akan membuka peluang yang menarik untuk investor jangka menengah hingga panjang," ujar Abida, Senin (27/4).

Saham Pilihan

Abida melanjutkan, potensi pemulihan saham-saham di indeks Kompas100 kemungkinan tidak linear. Pasalnya, sebagian besar konstituen Kompas100 merupakan saham berlikuiditas tinggi dengan fundamental solid, sehingga pergerakan harga sahamnya cenderung lebih sesuai dengan volatilitas pasar. 

Analis Pilarmas Investindo Sekuritas Arinda Izzaty bilang, selama tensi geopolitik masih tinggi, tampaknya saham-saham di indeks Kompas100 masih sulit untuk bangkit dalam waktu dekat. Namun, sentimen itu pula yang membuat saham-saham sektor berbasis komoditas energi berpeluang menjadi penopang indeks Kompas100, di samping sektor konsumer.

"Tapi, invetor harus cermat memilih saham yang memang bagus secara fundamental dan menarik secara valuasi," tutur dia, Senin (27/4).

Sementara menurut Wafi, kalau MSCI benar-benar memutuskan Indonesia tetap berstatus emerging market, maka dana asing akan langsung masuk ke saham-saham big caps yang ada di indeks Kompas100.

Dari situ, saham BBCA, BBRI, dan BMRI berpotensi diuntungkan jika inflow asing kembali berkat fundamental yang masih solid. Selain itu, saham berbasis komoditas seperti ADRO, MEDC, dan PTBA juga berpeluang menjadi tulang punggung indeks Kompas100 seiring katalis positif dari kenaikan harga minyak mentah dan batubara. Tak hanya itu, Kompas100 juga bakal ditopang oleh saham konsumer berkarakter defensif seperti INDF, ICBP, dan KLBF lantaran harganya sudah turun cukup dalam namun pendapatannya masih stabil.

Investor pun disarankan untuk mengambil strategi pembelian secara bertahap dan jangan langsung habiskan seluruh modal dalam satu kali transaksi. "Hindari saham dengan kepemilikan terkonsentrasi tinggi yang masih rawan tekanan MSCI," jelas Wafi.

Tak ketinggalan, Abida turut merekomendasikan beli saham BBCA dan BMRI dengan target harga masing-masing di level Rp 11.400 per saham dan Rp 6.200 saham. Rekomendasi beli juga berlaku untuk saham ANTM, ICBP, dan KLBF dengan target harga masing-masing di level Rp 4.800 per saham, Rp 10.500 per saham, dan Rp 1.710 per saham. Abida juga menyarankan investor untuk akumulasi saham secara bertahap dengan memanfaatkan koreksi yang sudah dalam, bukan masuk sekaligus mengingat volatilitas pasar belum mereda.   

Baca Juga: IHSG Tertinggal dari Bursa Asia, Analis Soroti Faktor MSCI dan Negosiasi Global

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News