Indeks KOSPI Ditutup Ambles 6,02% Hari Ini (6/11), Dipicu Aksi Jual di Sektor AI



KONTAN.CO.ID - SEOUL. Bursa saham Korea Selatan anjlok pada hari ini setelah kemenangan Partai Demokrat dalam pemilihan paruh waktu (midterm election) Amerika Serikat (AS) memicu kekhawatiran mengenai dampaknya terhadap lonjakan investasi kecerdasan buatan (AI) global.

Aksi jual pada saham-saham terkait AI mendorong diambilnya langkah-langkah kebijakan untuk meredam volatilitas pasar.

Jumat (6/11/2026), indeks acuan KOSPI ditutup turun 324,11 poin, atau 6,02% ke level 5.059,69. Ini jadi penutupan terendah sejak 31 Maret 2026.


Pada awal perdagangan, indeks sempat anjlok hingga 8,8% ke bawah level 5.000 untuk pertama kalinya sejak Februari, yang memicu penerapan *circuit breaker* selama 20 menit untuk menghentikan perdagangan sementara.

Baca Juga: Indeks Nikkei Ditutup Anjlok 6% Hari Ini (6/11), Catat Pekan Terburuk Sejak 2020

Saham produsen chip Samsung Electronics ditutup turun 6,4%, dengan saham SK Hynix ditutup ambles 10,4%. Keduanya sempat mencatat penurunan lebih dalam, masing-masing sebesar 11% dan 14%, sebelum akhirnya membaik. Para analis menilai kemerosotan pasar ini berlebihan.

"Koreksi memang wajar terjadi, namun kami merasa ada reaksi yang berlebihan terhadap hasil pemilihan paruh waktu ini," ujar Jun Kwang-woo, ketua Institute for Global Economics, sebuah lembaga pemikir keuangan yang berbasis di Seoul.

"Kami berharap pasar akan segera stabil. Bagaimanapun, kita memahami bahwa kecepatan pembangunan infrastruktur AI—terutama pusat data—mungkin sedikit melambat karena adanya berbagai kekhawatiran di sejumlah negara bagian, termasuk Texas," kata Jun, yang juga merupakan mantan ketua National Pension Service (Layanan Pensiun Nasional) Korea Selatan.

Pasar saham AS mengalami sesi perdagangan terburuk dalam lebih dari setahun pada hari Kamis (5/11/2026), dipicu oleh aksi jual besar-besaran pada saham sektor teknologi dan semikonduktor yang sebelumnya berkinerja tinggi.

Hal ini terjadi setelah kemenangan luas Partai Demokrat dalam pemilihan paruh waktu (midterm election) AS memicu ketidakpastian baru terkait kebijakan mengenai kecerdasan buatan (AI) dan pusat data (data center).

Baca Juga: Singapore Airlines Kucurkan US$ 1,6 Miliar untuk Kabin Mewah Penerbangan Jarak Jauh

"Ke depan, fokus pasar akan tertuju pada apakah aksi jual agresif oleh investor asing akan mereda, seberapa besar investasi AI yang akan tertunda, serta apakah kekhawatiran yang berlebihan saat ini dapat teratasi," ujar Seo Sang-young, seorang analis di Mirae Asset Securities.

Seorang manajer aset yang berbasis di Seoul menyatakan bahwa aksi jual tersebut tergolong berlebihan, yang disebabkan oleh interpretasi yang keliru terhadap hasil pemilihan paruh waktu serta langkah likuidasi posisi oleh dana lindung nilai (hedge fund) di Wall Street.

"Bahkan mereka yang bersikap hati-hati terhadap pasar pun tidak menduga akan terjadi penurunan sebesar ini," ungkap manajer tersebut, yang meminta untuk tidak disebutkan namanya.

INDEKS MENGURANGI PENURUNAN

Investor ritel Korea Selatan—yang sebelumnya menjadi motor penggerak lonjakan indeks KOSPI hingga mencatatkan kinerja terbaik di dunia awal tahun ini—menyatakan akan mengambil sikap menunggu (wait-and-see), karena pasar dinilai bereaksi berlebihan terhadap hasil pemilihan paruh waktu AS.

"Bukankah pasar bereaksi berlebihan? Bukan berarti Partai Demokrat akan membatalkan seluruh pembangunan pusat data, bukan?" kata Ahn Haesung, seorang investor ritel berusia 26 tahun. "Seharusnya saya sudah mencairkan sebagian keuntungan dari investasi saya yang sepenuhnya terkonsentrasi di sektor teknologi."

"Saya akan tetap berinvestasi pada instrumen yang melacak indeks, namun untuk saham Samsung, saya rasa sudah saatnya mempertimbangkan dengan serius untuk menjualnya," tambahnya, merujuk pada keuntungan lebih dari 100% yang ia peroleh dari investasi selama lima tahun di Samsung Electronics.

Baca Juga: Kozo Tashima, Tokoh Sepak Bola Jepang Maju sebagai Kandidat Presiden FIFA

Menteri Keuangan Korea Selatan Lee Hyoung-il mengadakan pertemuan darurat dengan para pembuat kebijakan ekonomi utama negara tersebut. Mereka memutuskan untuk melonggarkan sementara aturan mengenai investasi dengan dana pinjaman (leverage) bagi investor ritel, guna mencegah aksi jual paksa (forced selling) dan membatasi volatilitas pasar.

Investor ritel dan institusi masing-masing mencatatkan pembelian saham domestik senilai 605 miliar won dan 1,7 triliun won, sementara investor asing melakukan aksi jual senilai 2,8 triliun won ($2,06 miliar). Selama sepekan, indeks KOSPI turun 11,7%. Indeks ini telah anjlok 44% dari puncaknya pada bulan Juni, namun masih mencatatkan kenaikan 20% sepanjang tahun ini.

"Arah masa depan investasi AI belum berubah. Sekalipun Partai Demokrat berupaya mengeremnya, keserakahan manusia pada akhirnya akan tetap menang," ujar seorang investor ritel Korea Selatan lainnya yang berusia 60-an tahun. Ia berencana untuk terus memantau pergerakan pasar sembari tetap mempertahankan portofolio investasinya saat ini.