KONTAN.CO.ID - Bursa saham Korea Selatan jatuh dalam pada Senin (23/3/2026), sementara mata uang won melemah ke level terendah dalam 17 tahun, seiring meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Ancaman eskalasi perang antara Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Iran dengan menyerang fasilitas energi di Teluk memicu kekhawatiran investor akan meluasnya konflik regional, yang berdampak pada pasar global.
Baca Juga: Bursa China dan Hong Kong Tertekan Senin (23/3), Terguncang oleh Eskalasi Perang Iran Melansir Reuters, indeks acuan KOSPI turun 289,24 poin atau 5% menjadi 5.491,96 pada pukul 01:31 GMT, meski sempat diberlakukan batas perdagangan untuk menahan penurunan lebih lanjut. Mata uang won Korea melemah 0,3% menjadi 1.509,4 per dolar AS di pasar onshore, mencapai level terendah sejak Maret 2009. "Harapan bahwa perang akan segera berakhir semakin memudar," ujar Huh Jae-hwan, analis di Eugene Investment & Securities. "Meski negara-negara Asia berada dalam posisi lebih kuat berkat sektor teknologi yang tangguh dan rencana anggaran tambahan pemerintah, kesabaran pasar kini mulai menipis." Menteri Anggaran yang baru ditunjuk, Park Hong-keun mengatakan, pemerintah akan segera menyusun anggaran tambahan, sehari setelah pemerintah dan partai penguasa menyepakati pengeluaran ekstra sekitar 25 triliun won (USD 16,58 miliar) untuk mendukung masyarakat terdampak lonjakan harga minyak.
Baca Juga: Harga Emas Turun Lebih dari 3% Saat Ketegangan Timur Tengah Picu Kekhawatiran Inflasi Shin Hyun-song, yang diumumkan sebagai Kepala Bank of Korea pada Minggu (22/3/2026), menyatakan akan mengupayakan kebijakan yang seimbang antara inflasi, pertumbuhan, dan stabilitas keuangan, mengingat volatilitas pasar dan ketidakpastian ekonomi meningkat akibat perang Iran. Di pasar saham, hanya 74 emiten yang naik dari 926 saham yang diperdagangkan, sementara 834 saham mengalami penurunan. Di antara saham unggulan, Samsung Electronics turun 4,81% dan SK Hynix merosot 6,06%, sementara produsen baterai dan otomotif juga terdampak.
Investor asing menjual saham lokal senilai 1,8 triliun won, menjadi faktor utama penurunan indeks, sementara investor institusi juga mencatat penjualan bersih.
Baca Juga: Dolar AS Siap Menguat Senin (23/3), di Tengah Eskalasi Konflik Timur Tengah KOSPI, yang sebelumnya sempat memimpin reli global berbasis kecerdasan buatan sebelum konflik pecah, telah merosot 12% sepanjang bulan ini, meski secara tahunan masih naik 30%. Imbal hasil obligasi 10 tahun Korea Selatan naik 14,4 basis poin menjadi 3,802%, tertinggi sejak November 2023.