KONTAN.CO.ID - Pasar keuangan Korea Selatan menguat tajam pada perdagangan Senin (15/6/2026) setelah Amerika Serikat (AS) dan Iran mencapai kesepakatan awal untuk mengakhiri konflik yang telah berlangsung selama beberapa bulan terakhir. Optimisme atas meredanya ketegangan geopolitik di Timur Tengah mendorong reli pasar saham, penguatan mata uang won, serta penurunan imbal hasil obligasi pemerintah Korea Selatan.
Baca Juga: Damai AS-Iran Picu Euforia, Nikkei Jepang Cetak Rekor Tertinggi Sepanjang Masa Melansir
Reuters, Indeks acuan KOSPI melonjak 419,96 poin atau 5,17% ke level 8.543,58 pada perdagangan pagi. Lonjakan tersebut bahkan sempat memicu mekanisme sidecar, yakni pembatasan perdagangan sementara yang diterapkan bursa untuk meredam volatilitas pasar. Sentimen positif dipicu oleh pengumuman bahwa AS dan Iran telah menyepakati kerangka perjanjian untuk mengakhiri perang, menghentikan blokade AS terhadap Iran, serta membuka kembali Selat Hormuz. Meski demikian, pembahasan mengenai program nuklir Iran masih akan dilanjutkan dalam negosiasi berikutnya. Saham-saham berkapitalisasi besar menjadi motor penguatan KOSPI. Produsen chip Samsung Electronics naik 4,73%, sementara rivalnya SK Hynix melesat 6,33%. Di sektor baterai kendaraan listrik, LG Energy Solution menguat 3,50%. Sementara itu, saham produsen otomotif Hyundai Motor naik 7,08% dan Kia Corporation bertambah 2,64%. Penguatan juga terjadi pada saham POSCO Holdings yang naik 4,24%, serta Samsung Biologics yang menguat 4,02%. Dari total 918 saham yang diperdagangkan, sebanyak 730 saham menguat dan hanya 158 saham yang melemah.
Baca Juga: Harga Emas Dunia Melonjak Usai AS-Iran Damai, Bagaimana Harga Emas Lokal? Investor asing tercatat melakukan aksi beli bersih (net buy) saham senilai 402 miliar won atau sekitar US$ 266 juta, menandakan meningkatnya minat terhadap aset berisiko setelah meredanya ketidakpastian geopolitik. Di pasar valuta asing, won Korea Selatan menguat 0,44% ke level 1.511,6 per dolar AS dibandingkan penutupan sebelumnya di 1.518,3 per dolar AS. Sementara itu, pasar obligasi juga mencatat penguatan. Yield obligasi pemerintah Korea Selatan tenor tiga tahun turun 9 basis poin menjadi 3,73%, sedangkan yield obligasi tenor 10 tahun turun 7,7 basis poin menjadi 4,124%. Penurunan yield mencerminkan ekspektasi bahwa meredanya konflik Timur Tengah dan turunnya harga minyak dapat mengurangi tekanan inflasi global, sehingga mengurangi kebutuhan bank sentral untuk memperketat kebijakan moneter secara agresif.