Indeks KOSPI Reli Ditopang Ekspor Chip Korea Selatan yang Didorong AI Terus Tumbuh



KONTAN.CO.ID - SEOUL. Bursa saham Korea Selatan menguat pada hari ini karena data perdagangan awal Agustus menunjukkan ekspor terus tumbuh kuat, didukung oleh permintaan kecerdasan buatan di sektor chip. Di sisi lain, won melemah, sementara imbal hasil obligasi acuan naik.

Selasa (1/9/2026) pukul 08.30 WIB, Indeks acuan KOSPI naik 22,72 poin atau 0,33% menjadi 6.842,74.

Di antara saham-saham unggulan indeks, produsen chip Samsung Electronics naik 0,29% dan perusahaan sejenisnya, SK Hynix, menguat 1,61%. Sementara, saham produsen baterai LG Energy Solution naik hampir 2%.


Di sisi lain, saham Hyundai Motor turun 0,87% dengan saham perusahaan saudaranya, Kia Corp, naik 0,31%. Saham produsen baja POSCO Holdings juga naik 2,66% dan saham perusahaan farmasi Samsung BioLogics turun sekitar 1%.

Baca Juga: Yen Nyaris Tembus 160, Harapan BOJ Naikkan Bunga Kembali Menguat

Reli pada indeks Kospi terjadi setelah data ekspor Korea Selatan melonjak 68,7% pada bulan Agustus dibandingkan tahun sebelumnya, memperpanjang tren kenaikan mereka hingga bulan ke-15 berturut-turut dan melampaui perkiraan analis karena ekonomi terus didorong oleh gelombang permintaan teknologi global.

Dari total 901 saham yang diperdagangkan, 306 saham naik, sementara 540 saham turun. Investor asing melakukan penjualan bersih saham senilai 116,5 miliar won.

Won dikutip pada 1.369,2 per dolar di platform penyelesaian domestik, 0,09% lebih rendah dari penutupan sebelumnya di 1.368,0. Dalam perdagangan luar negeri, won dikutip pada 1.369,7 per dolar AS, turun 0,2% pada hari itu, sementara dalam perdagangan forward non-deliverable, kontrak satu bulan dikutip pada 1.369,1.

Indeks KOSPI telah melonjak 62,37% sepanjang tahun ini. Won telah menguat 5,1% terhadap dolar sepanjang tahun ini.

Di pasar uang dan utang, futures September untuk obligasi pemerintah tiga tahun turun 0,10 poin menjadi 103,13. Dengan imbal hasil obligasi pemerintah Korea Selatan bertenor tiga tahun yang paling likuid naik 4,1 basis poin menjadi 3,878%, sementara imbal hasil obligasi acuan bertenor 10 tahun naik 5,8 basis poin menjadi 4,371%.