Indeks Manufaktur Indonesia Kembali Masuk Zona Kontraksi pada Agustus 2026



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kinerja industri manufaktur Indonesia kembali tertekan pada Agustus 2026. Kondisi ini tercermin dari Purchasing Managers’ Index (PMI) Manufaktur Indonesia yang kembali turun ke bawah level 50.

Berdasarkan survei S&P Global, PMI Manufaktur Indonesia pada Agustus 2026 berada di level 49,8, turun dari 50,2 pada Juli 2026. Posisi di bawah level 50 mengindikasikan aktivitas manufaktur kembali mengalami kontraksi setelah pada bulan sebelumnya mencatat ekspansi tipis.

Ekonom S&P Global Market Intelligence Maryam Baluch mengatakan, pelemahan sektor manufaktur pada Agustus terutama dipengaruhi kembali turunnya output dan penyerapan tenaga kerja.


"Data PMI terbaru menunjukkan sedikit penurunan kondisi sektor manufaktur Indonesia, karena penurunan kembali pada output dan penyerapan tenaga kerja membalikkan perbaikan yang tercatat pada bulan sebelumnya," ujar Baluch dalam keterangannya, Selasa (1/9/2026).

Baca Juga: BPS: Kinerja Impor Juli 2026 Naik 27,02% Menjadi US$ 26,09 Miliar

Produksi dan ketenagakerjaan manufaktur Indonesia tercatat menurun dalam lima dari enam periode survei terakhir. Penurunan output pada Agustus tergolong moderat. Sejumlah pelaku industri menyebut persaingan yang semakin ketat, permintaan yang masih lesu, serta kenaikan harga barang menjadi faktor yang menekan produksi.

Tekanan pada produksi turut berdampak terhadap tenaga kerja. Sejumlah perusahaan kembali mengurangi jumlah karyawan. Sebagian perusahaan juga menghadapi kesulitan mempertahankan tenaga kerja akibat adanya pengunduran diri secara sukarela.

Meski demikian, terdapat sinyal perbaikan dari sisi permintaan. Indeks pesanan baru yang telah disesuaikan secara musiman kembali masuk zona ekspansi untuk pertama kalinya dalam tiga bulan terakhir.

Namun, perbaikan tersebut masih sangat tipis karena indeks pesanan baru hanya berada sedikit di atas level netral 50. Sejumlah perusahaan melaporkan peningkatan permintaan pelanggan. Kendati demikian, kondisi tersebut masih tertahan oleh permintaan yang lemah, persaingan yang semakin ketat, serta penurunan daya beli konsumen.

Dari sisi aktivitas pembelian, perusahaan manufaktur relatif mempertahankan aktivitasnya pada Agustus. Kondisi ini berbeda dengan lima bulan sebelumnya ketika aktivitas pembelian terus mengalami penurunan.

Peningkatan pesanan baru mendorong sebagian perusahaan mulai meningkatkan pembelian bahan baku. Persediaan input juga meningkat untuk pertama kalinya dalam lima bulan, meski kenaikannya masih tipis.

Menurut S&P Global, peningkatan stok input antara lain dilakukan untuk membangun persediaan pengaman guna mengantisipasi potensi kenaikan biaya bahan baku.

Sebaliknya, persediaan pascaproduksi kembali menurun untuk bulan keempat berturut-turut. Penurunan stok tersebut berlangsung secara moderat dan menjadi yang tercepat dalam lebih dari empat tahun, setara dengan laju penurunan yang tercatat pada Mei 2025.

Tekanan Harga Mereda

Di sisi harga, tekanan inflasi manufaktur mulai mereda pada Agustus. Meski demikian, inflasi harga input maupun biaya output masih berada pada level yang tinggi secara historis.

Kenaikan harga bahan baku dan biaya dari pemasok masih menjadi faktor utama yang menekan biaya operasional perusahaan. Sebagian pelaku usaha kemudian meneruskan kenaikan biaya tersebut kepada pelanggan melalui kenaikan harga jual.

Di tengah tekanan terhadap aktivitas manufaktur, optimisme pelaku usaha justru terus membaik. Tingkat kepercayaan bisnis meningkat ke level tertinggi dalam tujuh bulan terakhir.

Baca Juga: BPS: Ekspor Besi, CPO hingga Batubara Naik hingga Juli 2026

Perbaikan optimisme tersebut ditopang ekspektasi pelaku industri terhadap penguatan permintaan dan stabilnya kondisi pasar dalam 12 bulan ke depan. Kondisi tersebut diharapkan dapat mendorong peningkatan produksi.

"Selain itu, kepercayaan bisnis juga terus pulih sejak April. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun kinerja sektor secara keseluruhan masih belum kuat, para pelaku manufaktur tetap optimistis bahwa produksi akan meningkat dalam 12 bulan ke depan," kata Baluch.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News