Indeks Manufaktur Naik, Apindo Soroti Investasi Industri yang Masih Tertahan



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) mengingatkan kenaikan aktivitas manufaktur nasional belum sepenuhnya mencerminkan pemulihan industri yang merata. Pasalnya, pelaku usaha masih menghadapi tekanan biaya produksi dan cenderung menahan ekspansi investasi di tengah ketidakpastian ekonomi.

Ketua Umum Dewan Pimpinan Nasional Apindo Shinta Widjaja Kamdani mengatakan, kenaikan Purchasing Managers' Index (PMI) Manufaktur Indonesia versi S&P Global menjadi 54,0 pada Oktober 2026 dari 52,4 pada September 2026 merupakan sinyal positif bagi aktivitas industri nasional.

Penguatan tersebut juga sejalan dengan peningkatan Indeks Kepercayaan Industri (IKI), yang mengindikasikan adanya perbaikan permintaan dan aktivitas produksi.


Namun, menurut Shinta, pemulihan manufaktur belum dirasakan secara merata oleh seluruh subsektor industri. Hasil Survei Kegiatan Dunia Usaha Bank Indonesia pada kuartal III 2026 menunjukkan kinerja industri pengolahan membaik dengan Saldo Bersih Tertimbang (SBT) sebesar 1,53%, naik dari 1,34% pada kuartal sebelumnya.

Baca Juga: PMI Manufaktur Indonesia Tembus 54,0, Investasi Industri Masih Tertahan

Sejumlah subsektor yang menjadi penopang antara lain industri makanan dan minuman dengan SBT 0,91%, barang galian bukan logam 0,16%, serta logam dasar 0,12%. Sementara itu, industri kertas, alat angkutan, dan karet-plastik masing-masing mencatat SBT 0,11%. Di sisi lain, industri kayu, tembakau, serta kulit dan alas kaki masih mengalami kontraksi.

"Artinya, perbaikan aktivitas manufaktur sudah mulai dirasakan, tetapi intensitas pemulihannya masih berbeda-beda antarsektor, bergantung pada kondisi permintaan, struktur biaya, dan kapasitas operasional masing-masing industri," ujar Shinta kepada Kontan, Senin (2/11/2026).

Kondisi tersebut juga tercermin dari keputusan investasi dan ketenagakerjaan. Meski penggunaan tenaga kerja industri pengolahan membaik, indikatornya masih berada di zona kontraksi dengan SBT minus 0,36% pada kuartal III 2026. Angka tersebut membaik dibandingkan minus 0,54% pada kuartal sebelumnya.

Selain itu, survei Apindo menunjukkan sebanyak 67% responden masih bersikap wait and see dan belum berencana melakukan investasi baru dalam 12 bulan ke depan.

Menurut Shinta, peningkatan pesanan memang mulai membuka peluang penambahan tenaga kerja dan investasi. Namun, realisasinya masih bergantung pada kepastian keberlanjutan permintaan.

Di tengah penguatan permintaan, dunia usaha juga masih menghadapi tekanan kenaikan harga bahan baku, energi, logistik, serta volatilitas nilai tukar rupiah. Tekanan biaya tersebut berpotensi menggerus efisiensi dan profitabilitas perusahaan.

Shinta mencontohkan, tarif kargo internasional pada rute Shanghai-New York dan Shanghai-Los Angeles masing-masing meningkat sekitar 249% dan 221% secara year-to-date (ytd) hingga September 2026.

Selain itu, ketergantungan sejumlah sektor industri terhadap bahan baku dan barang penolong impor membuat pelemahan rupiah turut meningkatkan biaya pengadaan input produksi.

Di sisi lain, kemampuan perusahaan untuk meneruskan kenaikan biaya kepada konsumen relatif terbatas karena pelaku usaha tetap harus menjaga daya saing harga dan daya beli masyarakat.

"Survei Apindo sendiri mengidentifikasi kenaikan harga bahan baku sebagai salah satu kendala utama pemenuhan kebutuhan produksi, di samping keterbatasan pasokan domestik dan tata kelola impor," jelasnya.

Baca Juga: Bahlil: RI Bakal Ekspor Listrik Selama Harga Cocok

Untuk menjaga momentum ekspansi manufaktur hingga 2027, Apindo mendorong pemerintah mempercepat reformasi struktural guna memperkuat kepastian berusaha dan daya saing industri.

Berdasarkan Survei Tengah Tahun Apindo 2026, terdapat tiga prioritas kebijakan yang paling dibutuhkan pelaku usaha, yakni penyederhanaan perizinan sebesar 78%, penguatan kepastian hukum 66%, dan reformasi perpajakan 60%.

Selain itu, pemerintah perlu memperkuat efisiensi logistik dan konektivitas, memastikan ketersediaan energi dengan harga kompetitif, menjaga stabilitas nilai tukar. Serta memperbaiki tata kelola impor dan pasokan bahan baku dalam negeri.

Apindo juga mendorong pemberian insentif yang tepat sasaran untuk modernisasi mesin dan peningkatan produktivitas industri.

Shinta menilai, kenaikan PMI manufaktur harus menjadi fondasi pertumbuhan industri yang berkelanjutan. Keberhasilan pemulihan tidak cukup hanya diukur dari peningkatan pesanan dan aktivitas produksi, tetapi juga dari realisasi investasi, peningkatan produktivitas, serta perluasan penyerapan tenaga kerja.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News