Indeks masih berpotensi menguat



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Indeks harga saham gabungan (IHSG) selama sepekan didominasi oleh aksi koreksi. Dari lima hari perdagangan, hanya satu hari indeks ditutup menguat, yakni pada Kamis (8/3). 

Pada awal pekan, indeks dibuka pada level 6.582,32 kemudian ditutup pada level 6.433,32 pada Jumat (9/3). Artinya, selama sepekan indeks telah terkoreksi 2,26%.

William Surya Wijaya, Vice President Research Department Indosurya Bersinar Sekuritas memperkirakan pada pekan depan sentimen nilai tukar rupiah masih akan mempengaruhi indeks. 


Selain itu, pada pekan depan akan ada rilis daya perekonomian seperti pertumbuhan kredit dan penjualan mobil. “Rilis data ini bisa memberikan warna bagi IHSG,” kata William kepada KONTAN, Jumat (9/3).

Dia menilai, sejatinya fundamental perekonomian domestik masih dapat menopang pola pergerakan IHSG. Rilis data emiten pun menunjukan pertumbuhan positif secara full year

Capaian ini menjadi salah satu penopang dan daya tarik indeks. “Pelemahan nilai tukar, US Dollar ini memberikan pengaruh bagi investor yang mengubah aliran dana investasi,” lanjut William.

Terkoreksinya indeks, sejalan dengan aksi investor asing yang tercatat net sell sebesar Rp 4,51 triliun selama sepekan. Aksi keluar asing, salah satunya tak terlepas dari sentimen global yang datang dari keputusan Amerika Serikat. Sedangkan bila diukur sejak awal tahun, investor asing tercatat net sell sebesar Rp 13,99 triliun.

Menurut William, investor asing yang keluar tersebut hanya merealisasikan keuntungan. Pasalnya, bila diukur sejak 2005, investor asing di Indonesia masih mencatatkan net buy. Dia menilai, investor asing masih berpotensi untuk kembali masuk ke Indonesia.

Selama sepekan ke depan, William menilai ada potensi IHSG untuk bertumbuh. Sebab, bila ditinjau secara lebih luas, Indonesia masih banyak memiliki sentimen positif dan event. Hal ini bisa membuat Indonesia masih diminati. 

William memperkirakan, indeks sepekan berpotensi tumbuh, pada rentang support 6.345 dan resistance pada 6.713. “Saya melihat, kalau ada koreksi minor justru ini momentum untuk akumulasi beli,” katanya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Herlina Kartika Dewi