Indeks Nikkei: PMI Indonesia Maret 2018 melemah ke 50,7



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Manufaktur di Tanah Air masih mengepul, tapi ekspansinya melemah di akhir kuartal I lalu. Nikkei dan IHS Markit mensurvei, Purchasing Managers' Index (PMI) Indonesia ada di level 50,7 pada Maret lalu. 

Angka PMI di atas 50 sejatinya menunjukkan industri di Indonesia masih berekspansi. Tapi, dibandingkan indeks Bulan Februari yang di posisi 51,4, ekspansi Maret tak sebegitu kencang lagi. 

Menurut rilis Nikkei Indonesia Manufacturing PMI, Senin (2/4), perlambatan ekspansi terjadi di sisi output dan permintaan baru.


Sementara itu, tekanan biaya semakin intensif. Tapi, industri tak banyak menaikkan harga, sehingga margin perusahaan tetap tertekan. 

Permintaan penjualan, untungnya, ditopang oleh kenaikan permintaan domestik. Tapi, permintaan ekspor baru masih terus melandai untuk bulan keempat berturut-turut.

"Meski pelaku manufaktur masih bertahan optimis terhadap perkiraan output 12 bulan mendatang, tingkat sentimen bisnis positif pada Maret lalu merupakan yang terlemah sejak Desember 2012," tulis Nikkei dalam rilisnya.

Ekonom IHS Markit Asshna Dodhia menilai, perbaikan kondisi sektor manufaktur Indonesia kehilangan momentum lantaran pelambatan ekspansi di sisi output, permintaan baru, dan ketenagakerjaan

Dia melihat, akarnya berasal dari pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dollar AS, sehingga mendorong tingginya biaya bahan baku, sehingga menaikkan pula biaya input produksi. 

Di tengah-tengah ketatnya kebijakan moenter dan kondisi ketidakpastian global, rupiah Indonesia rentan terhadap arus modal keluar. "Akibatnya, sentimen bisnis melemah ke level terendah sejak Desember 2012," katanya. 

Terkait keputusan Bank Indonesia mempertahankan tingkat suku bunga dan upaya menstabilkan nilai tukar, dia berharap, langkah ini dapat membantu pemulihan pertumbuhan kredit dan konsumsi domestik di kuartal kedua. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Sanny Cicilia