Indeks obligasi kembali cetak rekor



JAKARTA. Pasar obligasi Indonesia tengah diselimuti tren bullish. Tercermin dari Indonesia Composite Bond Index (ICBI) atau indeks obligasi Indonesia yang kembali mencetak rekor.

Kemarin Selasa (30/5), ICBI ditutup dengan posisi bertengger di level 224,92. Artinya, ICBI meningkat sebesar 7,9% secara year to date (ytd). Di mana sebelumnya ICBI tertahan di level 208,45.

Setali tiga uang, dengan indeks Himpunan Pedagang Surat Utang Negara (IDMA) yang juga bertumbuh 4,16% ytd menjadi 103,21 dari sebelumnya 99,09.


Analis Indonesia Bond Pricing Agency (IBPA) menilai, pergerakan indeks sampai menembus rekor lebih dikarenakan strategi menghindari risiko yang dilakukan oleh para pelaku pasar modal. Pasalnya, sentimen global sedang memburuk akibat volatilitas harga minyak.

Selain itu, kepastian global tetap menjadi salah satu faktor negatif. Ditambah lagi dengan penurunan peringkat China oleh Moody's Investors Service menjadi AA3.

Oleh karenanya, ia menduga, investor saham mengalihkan investasinya ke obligasi sebagai instrumen yang dinilai berisiko lebih rendah. Terlihat dari kepemilikan asing di Surat Berharga Negara (SBN) dalam beberapa hari ini menunjukkan inflow.

Merujuk data Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR), Rabu (24/5), mencatatkan net inflow Rp 4,78 triliun. Begitu pula dengan hari berikutnya yang bertambah lagi Rp 8,35 triliun sehingga membekukan net inflow Rp 85,76 triliun ytd.

“Lain halnya dengan di saham, asing tercatat sell, terlihat dari IHSG yang volatile dan sore ini anjlok,” jelas Roby kepada KONTAN, Selasa (30/5).

Ia melanjutkan, jika ditelaah lebih lanjut di pasar obligasi, pergerakan harga SBN kemarin cukup beragam. Artinya, meskipun indeks bergerak positif bahkan menembus rekor, pertumbuhannya tidak begitu pesat, dan rawan terkoreksi. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Yudho Winarto