Indeks Saham Syariah Bangkit dari Tekanan, Sektor Energi dan Komoditas Jadi Penggerak



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kinerja indeks saham syariah masih tertinggal dibandingkan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sepanjang tahun berjalan 2026. Per 29 Juli 2026, Jakarta Islamic Index (JII) tercatat melemah sekitar 38,29% secara year-to-date (YtD), sementara Indeks Saham Syariah Indonesia (ISSI) turun sekitar 33,13% YtD. Penurunan ini lebih dalam dibandingkan IHSG yang terkoreksi sekitar 30,37% YtD.

Namun demikian, dalam satu bulan terakhir mulai terlihat adanya pemulihan. JII tercatat menguat sekitar 6,76% dan mengungguli IHSG yang naik 4,65%, sedangkan ISSI juga terapresiasi sekitar 4,55%.

Head of Research KISI Sekuritas, Muhammad Wafi, menjelaskan bahwa tekanan pada indeks saham syariah terjadi karena komposisinya yang terkonsentrasi pada saham-saham konglomerasi besar.


Baca Juga: Rupiah Masih Terperosok, Ekonom Sebut Persepsi Risiko Domestik Jadi Biang Kerok

“JII underperform IHSG secara YtD karena komposisinya terkonsentrasi di saham konglomerasi besar yang paling terpukul oleh MSCI freeze dan HSC overhang,” ujarnya kepada Kontan, Rabu (29/7/2026).

Meski begitu, ia menilai penguatan dalam sebulan terakhir mencerminkan adanya rotasi pasar ke saham-saham yang sudah mengalami tekanan berlebihan.

Rebound ini mencerminkan rotasi ke saham oversold dengan fundamental solid. Tren pemulihan berpotensi berlanjut jika MSCI pada November tetap mempertahankan status emerging market dan harga komoditas masih elevated, namun pergerakannya tidak akan dalam garis lurus,” tambahnya.

Wafi mengungkapkan, terdapat tiga faktor utama yang mendorong rebound indeks saham syariah belakangan ini. Pertama, rotasi ke saham undervalued dengan valuasi diskon dalam. Kedua, harga komoditas yang masih tinggi sehingga menguntungkan saham energi dan pertambangan. Ketiga, faktor musiman Juli serta rilis kinerja semester pertama yang mengonfirmasi fundamental emiten.

Adapun dari sisi sektoral, saham energi dan komoditas menjadi motor utama penguatan.

“Saham energi dan komoditas syariah seperti ADRO, PTBA, AADI, ANTM, dan MDKA diuntungkan oleh war premium komoditas. Selain itu, konglomerasi berbasis Grup Prajogo seperti TPIA, BRPT, dan PTRO juga berkontribusi, serta consumer staples seperti INDF dan ICBP sebagai defensive anchor,” jelasnya.

Ke depan, ia melihat sektor energi dan pertambangan masih prospektif karena memiliki lindung nilai alami terhadap dolar AS dan arus kas yang relatif independen dari suku bunga acuan. Selain itu, sektor consumer staples dan perbankan syariah juga dinilai menarik.

Baca Juga: GoTo Pertahankan Target EBITDA Meski Komisi Ojol Turun

“Sektor consumer staples memiliki pricing power dan dukungan dari program pemerintah, sementara perbankan syariah seperti BRIS relatif lebih tahan terhadap risiko kredit UMKM,” imbuhnya.

Untuk strategi investasi, Wafi menyarankan investor fokus pada saham syariah dengan free float yang baik dan tidak terdampak isu HSC, serta melakukan akumulasi secara bertahap.

Accumulate bertahap, jangan all-in sebelum MSCI November terlewati. Sizing harus proporsional dan disiplin menerapkan stop loss, terutama untuk saham yang lebih spekulatif,” katanya.

Ia merekomendasikan sejumlah saham syariah untuk dikoleksi, antara lain ADRO, PTBA, ANTM, INDF, MDKA, dan BRIS.

Sementara itu, Analis Kiwoom Sekuritas Indonesia, Adrian Djie, juga melihat peluang rebound indeks saham syariah masih terbuka hingga akhir tahun.

“Kami memproyeksikan JII dan ISSI memiliki peluang untuk mengalami rebound secara bertahap, seiring dengan kondisi makro yang membaik,” ujarnya.

Menurutnya, kembalinya kepercayaan investor asing menjadi kunci utama untuk mendorong penguatan indeks ke depan.

“Katalis utama adalah kembalinya foreign inflow ke pasar domestik. Selain itu, rilis laporan keuangan kuartal kedua juga akan menjadi sentimen penting dalam jangka pendek,” jelasnya.

Dari sisi sektoral, Adrian menilai sektor telekomunikasi dan energi akan menjadi penggerak utama indeks, terutama karena bobot besar saham telekomunikasi dalam indeks syariah.

“TLKM memiliki kapitalisasi besar di JII dan ISSI, sehingga pergerakannya akan sangat menentukan arah indeks secara keseluruhan,” ujarnya.

Ia pun merekomendasikan strategi accumulate on weakness pada saham dengan fundamental kuat.

“Kami menyarankan investor untuk melakukan accumulate on weakness sambil menunggu konfirmasi pembalikan tren,” tambahnya.

Adrian merekomendasikan saham TLKM dengan target harga Rp 3.630 per saham.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News