India Bersiap Terima Impor Minyak Iran Perdana dalam 7 Tahun



KONTAN.CO.ID - India diperkirakan akan menerima kargo minyak pertama dari Iran dalam tujuh tahun terakhir, setelah Amerika Serikat (AS) sementara mencabut sanksi terhadap minyak dan produk olahan Iran guna meredakan gangguan pasokan energi global.

Melansir Reuters pada Rabu (8/4/2026), data pelacakan kapal dari LSEG dan Kpler pada Rabu menunjukkan, perusahaan milik negara Indian Oil Corp telah membeli kargo tersebut.

Baca Juga: Iran-AS Gencatan Senjata: Harga Minyak Anjlok, Saham Melonjak


Minyak saat ini diangkut oleh kapal tanker raksasa berbendera Curacao, Jaya, yang tengah menuju pantai timur India dan diperkirakan tiba akhir pekan ini.

Indian Oil, kilang terbesar di India, belum memberikan tanggapan atas permintaan komentar Reuters.

Berdasarkan data LSEG, kapal Jaya sebelumnya sempat menuju perairan Asia Tenggara untuk bongkar muat di China sebelum melanjutkan perjalanan ke India.

Sementara itu, kapal lain bernama Jordan juga terdeteksi mengarah ke India sebagai lokasi pembongkaran.

Baca Juga: Bank Sentral India Menahan Suku Bunga, Krisis Timur Tengah Menekan Prospek Ekonomi

India, importir dan konsumen minyak terbesar ketiga di dunia, terakhir kali menerima pasokan minyak dari Teheran pada Mei 2019, setelah tekanan dari AS untuk menghentikan pembelian minyak Iran.

Namun, gangguan pasokan akibat konflik AS-Israel dengan Iran kini kembali mendorong India membuka keran impor tersebut.

Kementerian Perminyakan India pekan lalu menyatakan bahwa kilang domestik mulai membeli minyak Iran karena terganggunya pasokan dari Timur Tengah, khususnya melalui Selat Hormuz yang biasanya dilalui sekitar 20% pasokan minyak global.

Baca Juga: Harga Emas Naik, Pasar Menimbang Risiko Setelah Trump Hentikan Serangan Terhadap Iran

Pemerintah juga memastikan bahwa proses pembayaran untuk pembelian minyak Iran tidak mengalami kendala.

Sementara itu, data Kpler menunjukkan volume minyak mentah Iran yang berada di laut mendekati rekor tertinggi, mencapai lebih dari 180 juta barel pada April ini.