India Ingin Kemasan Keripik dan Soda Diberi Label Peringatan, Industri Melawan



NEW DELHI/LONDON. Perbedaan kandungan produk makanan dan minuman dari merek global di berbagai negara kembali menjadi sorotan. Di India, perdebatan tersebut kini berkembang menjadi persoalan transparansi informasi gizi setelah regulator pangan mengurungkan rencana penerapan label peringatan berwarna di bagian depan kemasan.

Salah satu contoh yang menjadi perhatian adalah Fanta. Satu kaleng Fanta yang dijual di London mengandung 63 kalori. Namun, produk dengan merek yang sama di India disebut memiliki kandungan gula sekitar tiga kali lebih tinggi. Fanta di India juga menggunakan pewarna buatan yang di Eropa harus disertai peringatan kesehatan secara jelas pada kemasan.

Di India, keberadaan pewarna tersebut hanya dicantumkan dalam tulisan berukuran kecil di bagian belakang kaleng. Kondisi ini menjadi sorotan karena sejumlah perusahaan makanan dan minuman terbesar dunia selama bertahun-tahun menentang upaya India untuk mewajibkan peringatan kandungan nutrisi pada bagian depan kemasan.

Polemik Label Gizi di India


Regulator keamanan pangan India, Food Safety and Standards Authority of India (FSSAI), pada Agustus 2026 menyatakan telah membatalkan dorongan untuk menerapkan label peringatan berwarna di bagian depan kemasan makanan.

Sebagai gantinya, regulator mengusulkan agar perusahaan menampilkan tabel hitam-putih yang mencantumkan kandungan gula, lemak, dan garam.

Baca Juga: Harga Jagung Naik, Kondisi Panen AS Memburuk Lebih dari Perkiraan

FSSAI beralasan bahwa sistem peringatan berwarna tidak sepenuhnya mempertimbangkan karakter makanan India yang memiliki cita rasa lebih kuat dibandingkan makanan Barat.

Keputusan tersebut kini menjadi perhatian Mahkamah Agung India setelah kelompok aktivis kesehatan masyarakat mengajukan petisi. Persoalannya menjadi semakin penting karena sebuah studi terbaru yang dipublikasikan dalam jurnal Lancet memperkirakan sebanyak 450 juta warga India berpotensi mengalami obesitas atau kelebihan berat badan pada 2050.

Para pakar kesehatan menilai transparansi informasi pada kemasan dapat membantu masyarakat membuat pilihan makanan yang lebih sehat. Sekitar 20 negara telah menerapkan label interpretatif di bagian depan kemasan, misalnya menggunakan warna merah untuk menunjukkan kandungan gula tinggi dan hijau untuk kandungan lemak rendah.

Industri Makanan Menolak Label Peringatan

Berdasarkan rekaman pertemuan yang ditinjau Reuters, FSSAI menghadapi tekanan industri dalam pertemuan dengan sejumlah eksekutif perusahaan pada Maret 2026.

Dalam pertemuan 19 Maret tersebut, eksekutif Coca-Cola India Mili Bhattacharya menilai label peringatan tidak akan efektif meningkatkan pola makan masyarakat.

Menurut Bhattacharya, anggapan bahwa konsumen yang selama ini tidak membaca daftar bahan akan langsung mengubah pola makan hanya karena melihat simbol atau ikon pada kemasan merupakan pandangan yang terlalu sederhana.

Ia juga berpendapat label peringatan tidak akan mencegah masyarakat mengonsumsi makanan dan minuman dengan kandungan gula atau garam tinggi. Menurutnya, edukasi yang diberikan dokter kepada pasien mengenai makanan yang sebaiknya dihindari sudah cukup membantu konsumen.

Menariknya, Coca-Cola dan mitra pembotolannya secara sukarela telah menggunakan label bergaya lampu lalu lintas di sekitar dua lusin pasar Eropa. Menurut Coca-Cola HBC, sistem tersebut memberikan informasi yang jelas dan transparan kepada konsumen.

Nestle juga menjadi anggota kelompok lobi industri di India yang sebelumnya menentang usulan regulator. Namun, perusahaan tersebut telah menggunakan label interpretatif secara sukarela di Inggris sejak 2013.

Coca-Cola dan Nestle menolak memberikan komentar kepada Reuters mengenai laporan tersebut.

Industri Khawatir Kemasan Dipenuhi Label Merah

Perdebatan mengenai label gizi semakin sensitif karena sebagian besar produk makanan kemasan di India berpotensi masuk kategori tinggi gula, garam, dan lemak.

Menurut perkiraan industri, hampir 80% produk dari pasar makanan dan minuman kemasan India yang nilainya mencapai lebih dari US$100 miliar dapat dikategorikan tinggi lemak, gula, atau garam.

Deepak Jolly dari Ind Food & Beverage Association (IFBA) mengatakan dalam pertemuan dengan regulator bahwa jika sistem label peringatan berbasis warna diterapkan, kemasan produk industri makanan akan dipenuhi tanda merah.

IFBA, yang mewakili sejumlah perusahaan termasuk PepsiCo, menyatakan kepada Reuters bahwa industri membutuhkan kejelasan lebih lanjut dari regulator. Menurut asosiasi tersebut, aturan yang sedang dibahas berpotensi membuat produk seperti air kelapa memperoleh label peringatan "tinggi gula", meskipun gula yang terkandung di dalamnya berasal secara alami.

Sejak 2017, regulator India telah beberapa kali mengajukan rancangan sistem pelabelan, mulai dari peringatan berwarna hingga sistem peringkat bintang untuk menunjukkan nilai gizi produk. Namun, hingga kini produsen pada dasarnya hanya diwajibkan mencantumkan daftar bahan dan informasi nutrisi dasar di bagian belakang kemasan.

Baca Juga: Prancis-Arab Saudi Bangun Taman Hiburan Dragon Ball Z Senilai US$ 7 Miliar

Mahkamah Agung India Soroti Keputusan Regulator

Kelompok aktivis kesehatan yang menginginkan transparansi lebih besar kemudian membawa persoalan tersebut ke Mahkamah Agung India.

Pada Februari 2026, pengadilan meminta regulator mempertimbangkan penerapan label peringatan. Pengadilan bahkan menyarankan agar regulator mempelajari sistem label merah dan hijau yang diterapkan Israel.

Namun, setelah pertemuan dengan pelaku industri pada Maret, FSSAI justru menarik diri dari penerapan label interpretatif.

Dalam proses persidangan pada Agustus, FSSAI menyampaikan bahwa menerapkan standar internasional pada kemasan merupakan hal yang "sulit". Pernyataan tersebut dinilai sejalan dengan argumen yang sebelumnya disampaikan industri.

Hakim kemudian mengkritik sikap regulator dan menegaskan bahwa dunia harus mengetahui India sangat memperhatikan kesehatan masyarakatnya.

Konsumen India Semakin Sadar Kesehatan

Perdebatan label gizi berlangsung ketika konsumen kelas menengah India semakin memperhatikan kesehatan seiring meningkatnya kemakmuran masyarakat.

Data perusahaan riset pasar Pharmarack menunjukkan penjualan bulanan obat penurun berat badan yang bekerja dengan menekan nafsu makan meningkat 400% sejak awal 2025.

Pada saat yang sama, kampanye mengenai makanan olahan dan makanan kemasan semakin berkembang di media sosial.

Salah satu tokoh yang menonjol adalah Revant Himatsingka, mantan konsultan manajemen McKinsey yang kini memiliki lebih dari 5 juta pengikut di YouTube dan Instagram. Pria berusia 34 tahun tersebut dikenal dengan nama Food Pharmer.

Pada 2023, Himatsingka membuat video yang mengkritik kandungan gula dan pemanis buatan dalam minuman berkafein Sting milik PepsiCo. Minuman yang dipasarkan sebagai minuman energi tersebut populer di kalangan anak muda India.

PepsiCo kemudian berhasil mendapatkan perintah penghapusan video dari pengadilan Delhi dengan alasan klaim dalam video tersebut tidak benar dan dimaksudkan untuk memicu kampanye terhadap produk.

Pada Juli 2026, regulator India juga memerintahkan PepsiCo dan sejumlah perusahaan lain untuk menghapus label "minuman energi" dalam waktu 90 hari.

Resep Produk Global Berbeda di Tiap Negara

Perbedaan komposisi produk antara satu negara dan negara lain sebenarnya bukan fenomena baru. Produsen makanan multinasional kerap menyesuaikan produk dengan regulasi, selera konsumen, serta daya beli masyarakat setempat.

Contohnya adalah Coca-Cola di Meksiko yang dikenal memiliki rasa berbeda karena menggunakan formulasi yang dianggap lebih tidak terlalu menyerupai sirup.

Mantan eksekutif Mondelez Parul Sharma mengatakan harga dan keterjangkauan merupakan salah satu alasan utama mengapa formulasi produk dapat berbeda secara signifikan di berbagai negara.

Namun, bagi sebagian konsumen India, perbedaan tersebut menimbulkan persepsi bahwa mereka mendapatkan produk dengan kualitas lebih rendah.

Himatsingka, misalnya, membuat sejumlah video yang membandingkan kandungan Fanta dan KitKat versi India dengan produk yang dijual di Eropa dan Australia.

Pada KitKat standar di India, kandungan kakao disebut sekitar 4,5%. Sementara itu, cokelat susu pada produk KitKat di Australia mengandung sedikitnya 22% kakao.

Perbedaan juga ditemukan pada mi instan Maggi. Seluruh varian Maggi yang dijual di India menggunakan minyak sawit, sedangkan banyak varian yang dijual di Inggris menggunakan minyak bunga matahari yang lebih mahal.

Baca Juga: Taiwan Dakwa 9 Orang Terkait Dugaan Ekspor 74 Server AI ke China

Menariknya, sejumlah kemasan Maggi yang dijual di Inggris diproduksi di India. Namun, produk tersebut mencantumkan label merah di bagian depan kemasan sebagai peringatan mengenai kandungan garam yang tinggi.

Bagi Himatsingka, perbedaan tersebut menimbulkan rasa kecewa di kalangan konsumen. Ia menggambarkannya sebagai "frustrasi karena merasa ditipu".

Perusahaan Mulai Menyesuaikan Produk

Tekanan konsumen mulai menunjukkan dampak terhadap strategi sejumlah perusahaan makanan.

Nestle, misalnya, pada 2024 mengumumkan rencana menjual Cerelac tanpa gula tambahan di India. Sebelumnya, aktivis kesehatan, termasuk Himatsingka, mengkritik perusahaan karena selama sekitar 50 tahun hanya menjual varian Cerelac yang mengandung gula di India.

Padahal, Nestle telah lama menjual Cerelac tanpa gula di sejumlah negara lain.

Perkembangan tersebut menunjukkan bahwa polemik label gizi di India bukan hanya berkaitan dengan desain kemasan, tetapi juga menyentuh persoalan transparansi, standar produk, kesehatan masyarakat, dan strategi perusahaan multinasional dalam menyesuaikan produknya dengan pasar lokal.

Di tengah meningkatnya perhatian masyarakat terhadap obesitas dan pola konsumsi, tekanan dari konsumen, aktivis kesehatan, serta Mahkamah Agung India berpotensi mendorong perubahan lebih lanjut terhadap aturan pelabelan makanan di negara tersebut.