KONTAN.CO.ID – NEW DELHI. India diperkirakan akan membahas investigasi perdagangan berdasarkan Section 301 Amerika Serikat (AS) serta potensi kebijakan tarif baru dengan pejabat perdagangan AS dalam perundingan yang berlangsung pekan ini. Pembahasan tersebut menjadi bagian dari upaya kedua negara untuk merampungkan kesepakatan perdagangan yang telah dinegosiasikan sejak awal tahun. Delegasi AS yang dipimpin oleh Kepala Negosiator Brendan Lynch dijadwalkan menggelar pembicaraan selama tiga hari dengan pejabat perdagangan India di New Delhi mulai Selasa (2/6).
Sebelumnya, pada Februari lalu, India dan Amerika Serikat telah mencapai kesepahaman awal terkait perjanjian perdagangan. Namun, proses negosiasi berjalan lebih lambat setelah kebijakan tarif besar-besaran yang diberlakukan Presiden AS Donald Trump dibatalkan oleh Mahkamah Agung Amerika Serikat. Pasca putusan pengadilan tersebut, pemerintahan Trump meluncurkan investigasi berdasarkan Section 301 dalam Trade Act 1974 terhadap dugaan praktik perdagangan yang dianggap tidak adil oleh sejumlah mitra dagang, termasuk India. Pada saat yang sama, AS juga menerapkan tarif umum sebesar 10%.
Baca Juga: Iran dan AS Saling Serang, Upaya Diplomasi Akhiri Perang Tiga Bulan Masih Buntu Sumber perdagangan India yang mengetahui rencana pembahasan tersebut menyatakan bahwa New Delhi akan berupaya memperoleh keringanan dari potensi tarif yang dapat muncul sebagai hasil investigasi tersebut. “India harus membahas tingkat tarif, dampak investigasi Section 301, dan mengupayakan tingkat tarif yang kompetitif dibandingkan dengan para pesaing langsung,” ujar sumber tersebut. Ia menambahkan bahwa kesepakatan perdagangan berpeluang tercapai apabila “kami mendapatkan persyaratan yang adil, setara, dan seimbang.”
India Ingin Tarif Lebih Kompetitif dari Negara Pesaing
Selain meminta kejelasan terkait investigasi Section 301, India juga berupaya memperoleh perlakuan tarif yang memberikan keunggulan dibandingkan pusat-pusat manufaktur pesaing di Asia. Langkah tersebut sejalan dengan strategi India untuk memperkuat posisinya dalam rantai pasok global dan menarik lebih banyak investasi manufaktur internasional. Menurut sumber tersebut, pemerintah India mengharapkan tarif preferensial yang lebih baik dibandingkan sejumlah negara berkembang di Asia Selatan dan Asia Tenggara, termasuk Bangladesh, Pakistan, dan Sri Lanka.
Baca Juga: Kapal Induk China Berlatih di Timur Filipina, Jepang Tingkatkan Pemantauan Dengan skema tarif yang lebih kompetitif, India berharap dapat meningkatkan daya saing ekspornya ke pasar Amerika Serikat sekaligus memperkuat posisinya sebagai alternatif basis produksi global.
Sinyal Kemajuan Negosiasi
Sumber tersebut juga mengungkapkan bahwa Perwakilan Dagang AS, Jamieson Greer, berpotensi mengunjungi India setelah kerangka besar perjanjian perdagangan berhasil disepakati oleh kedua pihak. Kemungkinan kunjungan tersebut dinilai sebagai sinyal bahwa proses negosiasi telah mencapai tahap yang lebih maju dan mendekati penyelesaian.