India Menaikkan Upah Minimum 35% Usai Buruh Protes Massal



KONTAN.CO.ID - MANESAR. Negara bagian industri Haryana di India menaikkan upah minimum sebesar 35% pada Jumat, setelah para pekerja pabrik memboikot pekerjaan dan menggelar protes pekan ini. Protes ini akibat meningkatnya biaya hidup yang dipicu gangguan ekonomi terkait perang Amerika Serikat–Israel dengan Iran.

Pemerintah Haryana menyatakan upah minimum bagi pekerja tidak terampil akan naik menjadi sekitar US$ 165 per bulan dari sebelumnya sekitar US$ 120, berlaku efektif mulai 1 April. Kebijakan ini dinilai membantu pekerja, namun berpotensi meningkatkan tekanan biaya bagi industri otomotif India di tengah kenaikan harga bahan baku dan gangguan rantai pasok.

Keputusan tersebut muncul sehari setelah bentrokan antara polisi dan pekerja di Manesar, sekitar 48 km selatan New Delhi, yang merupakan kawasan industri penting bagi perusahaan seperti Maruti Suzuki serta ratusan pemasok komponen otomotif.


Baca Juga: Trump Klaim Kapal Tanker Minyak Menuju AS untuk Mengisi Minyak dan Gas

“Kami meminta para pekerja untuk tetap melanjutkan pekerjaan mereka dengan damai,” ujar pejabat negara bagian Ajay Kumar dalam pernyataan video pada Jumat.

Para pekerja pabrik terdampak keras akibat lonjakan harga makanan di luar rumah yang dipicu gangguan pasokan gas dalam beberapa minggu terakhir, hingga sebagian pekerja memilih kembali ke desa mereka.

India merupakan importir gas petroleum cair (LPG) terbesar kedua di dunia dan tengah menghadapi krisis gas terburuk dalam beberapa dekade, dengan pemerintah mengalihkan pasokan untuk rumah tangga guna menghindari kelangkaan gas memasak.

Kebijakan kenaikan upah ini diperkirakan menambah beban biaya industri otomotif India, yang sebelumnya sudah terdampak kenaikan harga bahan baku akibat perang Iran. Sejumlah produsen seperti Tata Motors dan Mahindra telah menaikkan harga kendaraan, sementara Maruti Suzuki juga memberi sinyal akan melakukan langkah serupa.

Ketergantungan India pada gas di berbagai sektor mulai dari bisnis, rumah tangga, pertanian hingga transportasi membuat pabrik dan pekerja berpenghasilan rendah menjadi salah satu kelompok paling rentan di Asia.

Seorang pekerja bernama Akash Kumar (25), yang bekerja di Munjal Showa, pemasok bagi produsen sepeda motor Hero MotoCorp, mengatakan harga makanan di warung jalanan kini melonjak dua kali lipat.

“Berapa pun yang kami dapatkan, kami harus bersyukur,” katanya, seraya menyebut pekerja mulai kembali bekerja setelah mendengar adanya kenaikan upah.

Kerusuhan industri di Manesar berdampak pada berbagai pemasok otomotif minggu ini, menurut wawancara Reuters dengan lebih dari 30 pekerja. Mereka menuntut kenaikan upah untuk menutupi biaya hidup yang meningkat akibat harga pangan yang naik dan pasokan gas yang tidak stabil.

Baca Juga: Pakistan Kirim Jet Tempur ke Arab Saudi, Ini Alasannya

Pemerintah federal India menyatakan tidak ada kekurangan gas memasak dan sedang meningkatkan distribusi tabung gas kecil untuk pekerja harian dan migran.

Perusahaan Munjal Showa menyebut produksinya terdampak sebagian minggu ini. Sementara Roop Polymers, pemasok Maruti dan Honda, menyatakan operasi kini kembali normal setelah sebelumnya terganggu.

Produsen besar seperti Maruti Suzuki, Honda, dan Hero MotoCorp belum memberikan tanggapan atas permintaan komentar.

India memiliki sekitar 400 juta pekerja migran yang berpindah ke kawasan industri seperti Manesar untuk bekerja dengan upah minimum selama rata-rata 48 jam per minggu.

“Banyak perusahaan berusaha mempertahankan pekerja yang kembali pulang dengan menyediakan dua kali makan atau bonus kecil,” kata Vinod Kumar dari India SME Forum.

Ia menambahkan bahwa pihaknya meminta pemerintah menerapkan langkah darurat seperti dapur umum berbasis klaster, karena sekali tenaga kerja pergi, sangat sulit untuk menarik mereka kembali.