KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Indika Energy Tbk (
INDY) kembali melakukan langkah pengembangan bisnis di luar sektor batubara. Kali ini, INDY mendirikan perusahaan baru yang bergerak di bidang manufaktur kendaraan listrik komersial. Mengutip keterbukaan informasi di Bursa Efek Indonesia (BEI), pada 12 Januari 2026, dua anak usaha INDY, yaitu PT Energi Makmur Buana (EMB) dan PT Mitra Motor Group (MMG), telah mendirikan anak usaha baru, yaitu PT INVI Manufaktur Andalan Indonesia (IMAI).
IMAI akan melakukan kegiatan usaha antara lain industri kendaraan bermotor roda empat atau lebih (KBLI 29101), industri karoseri kendaraan bermotor roda empat atau lebih, serta industri trailer dan semitrailer (KBLI 29200). “Dengan pembentukan anak perusahaan ini, INDY akan memiliki anak usaha baru yang laporan keuangannya akan terkonsolidasi,” tulis Sekretaris Perusahaan INDY, Adi Pramono, dalam keterbukaan informasi, Senin (19/1/2026).
Baca Juga: Indika Energy (INDY) Genjot Bisnis Non-Batubara, Ini Catatan dari Analis Pihak INDY berkeyakinan bahwa pembentukan IMAI dilakukan sesuai dengan strategi bisnis terdiversifikasi INDY serta untuk memastikan perusahaan tersebut fokus pada pelaksanaan kegiatan usaha yang berkelanjutan. Sebelumnya, EMB menjalankan bisnis distributor bus listrik dan truk listrik terintegrasi dengan merek INVI yang berfokus pada penyediaan transportasi perkotaan dan industri pertambangan. Secara terpisah, Kepala Riset Korea Investment & Sekuritas Indonesia (KISI), Muhammad Wafi, mengatakan pembentukan IMAI menjadi langkah strategis bagi INDY untuk meningkatkan Tingkat Kandungan Dalam Negeri (TKDN) produk kendaraan listriknya, khususnya bus. Hal ini bisa menjadi kunci untuk memenangkan tender pengadaan bus listrik dari pemerintah. “Ini salah satu bukti INDY untuk masuk ke industri kendaraan listrik secara penuh,” kata dia, Senin (19/1/2026). Selain bus listrik, INDY juga telah merambah bisnis sepeda motor listrik melalui merek ALVA yang memiliki pabrik perakitan di Cikarang, Jawa Barat. Wafi menilai, kendati aktif melakukan diversifikasi bisnis di berbagai sektor, kontribusi bisnis batubara kemungkinan masih sulit digeser dalam waktu dekat.
Kalaupun bisa ditekan, segmen bisnis yang dapat menggantikan peran batubara adalah tambang emas Awak Mas yang masih dalam proses konstruksi. Di sisi lain, segmen bisnis kendaraan listrik INDY masih membutuhkan skala ekonomi yang besar, kendati potensinya sangat menjanjikan. Secara umum, prospek kinerja INDY cenderung netral hingga positif pada 2026. Ada kemungkinan pendapatan non-batubara INDY akan mengalami kenaikan, namun laba bersih rawan tertekan oleh biaya depresiasi atas investasi baru. “Tantangan bagi INDY adalah fluktuasi harga batubara global yang menjadi bensin transformasi,” imbuhnya.
Wafi pun merekomendasikan beli saham INDY dengan target harga di level Rp 4.100 per saham.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News