KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Emiten pertambangan batubara PT Indo Tambangraya Megah Tbk (
ITMG) masih memiliki prospek yang cukup konstruktif hingga akhir 2026. Pemerintah menyetujui revisi Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) ITMG tahun 2026 dengan kuota sekitar 23 juta ton. Persetujuan tersebut sedikit lebih tinggi dibandingkan target produksi perusahaan yang diperkirakan berada di kisaran 22 juta ton hingga 22,9 juta ton pada tahun ini.
Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta mengatakan, tantangan ITMG pada paruh kedua tahun ini bukan lagi terkait ketersediaan kuota produksi, melainkan kemampuan perusahaan dalam mengeksekusi produksi dan mengonversinya menjadi volume penjualan.
Baca Juga: Strategi Atur Portofolio di Tengah Suku Bunga Tinggi, Investor Perlu Jaga Likuiditas "Hingga semester I, produksi memang baru 9,9 juta ton atau turun 5% YoY, tetapi terdapat indikasi pemulihan karena produksi kuartal II sudah naik 13% QoQ menjadi 5,3 juta ton," ujar Nafan kepada Kontan, Selasa (22/9/2026). Menurut Nafan, kinerja ITMG pada semester I-2026 masih relatif solid. Pendapatan perusahaan meningkat 9% secara tahunan menjadi sekitar US$ 1 miliar, sementara laba yang diatribusikan kepada pemegang saham mencapai US$ 106 juta atau tumbuh 16% YoY. Pertumbuhan tersebut ditopang oleh kenaikan volume penjualan sekitar 5% serta peningkatan
average selling price (ASP) sekitar 4%. Dengan demikian, Nafan memandang kemampuan ITMG dalam meningkatkan produksi menjadi faktor penting untuk menopang kinerja hingga akhir tahun. "Jika cuaca lebih mendukung, operasional tambang berjalan lancar dan realisasi produksi mendekati target 22-22,9 juta ton, maka volume penjualan dan arus kas berpotensi membaik sehingga dapat menopang kinerja hingga akhir tahun," jelas Nafan.
Equity Research Analyst UBS Sekuritas, Timothy Handerson mencermati, meski perkembangan kuota RKAB tersebut positif untuk 2026, tapi visibilitas terhadap persetujuan kuota tambahan untuk 2027/2028 masih rendah. Ia memperkirakan pemerintah masih memprioritaskan optimalisasi penerimaan negara dari sektor pertambangan melalui harga komoditas yang lebih tinggi. "Hal tersebut mengindikasikan bahwa persetujuan kuota produksi kemungkinan masih akan ketat dalam beberapa tahun mendatang. Karena itu, kami menurunkan proyeksi CAGR volume produksi 2025-2028 menjadi 2% dari sebelumnva 6%," ujar Timothy. Lebih lanjut, Nafan menyebut sejumlah katalis yang perlu dicermati investor terhadap kinerja ITMG hingga penghujung 2026.
Baca Juga: ULTJ Bakal Gabungkan Bisnis dengan Frisian Flag, Sinergi dan Risiko Jadi Sorotan Di antaranya adalah realisasi produksi dan penjualan semester II, perkembangan harga batubara, serta potensi penguatan permintaan energi dan gangguan pasokan global. Menurut dia, Harga Batubara Acuan (HBA) periode pertama September 2026 juga masih berada pada level yang relatif tinggi dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa lingkungan harga batubara belum sepenuhnya negatif. Selain itu, pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS secara teori dapat memberikan dukungan terhadap pendapatan ITMG. Namun, ITMG juga masih menghadapi sejumlah risiko. Salah satunya adalah kenaikan biaya penambangan dan pengangkutan, terutama akibat nisbah kupas atau strip ratio yang lebih tinggi serta biaya bahan bakar yang mengikuti pergerakan harga minyak dunia. Risiko lainya ialah kondisi logistik, khususnya keterbatasan muatan tongkang, kewajiban DMO, koreksi harga batubara apabila permintaan global melemah, serta potensi kenaikan beban fiskal/royalti Di luar bisnis batubara, Research Analyst KB Valbury Sekuritas Adolf RB Setiadi, mencermati ITMG terus mengembangkan portofolio energi yang lebih luas. Kapasitas tenaga surya yang telah dikontrak secara kumulatif mencapai 152 MWp pada 2026, sementara kapasitas yang telah beroperasi meningkat 12% QoQ menjadi 86 MWp dan lebih dari dua kali lipat secara tahunan. Meskipun energi terbarukan diperkirakan belum memberikan kontribusi material terhadap laba pada tahun 2026, pengembangan tersebut memperkuat strategi diversifkasi ITMG dalam jangka panjang. Dari sisi keuangan, kinerja ITMG diproyeksikan membaik pada 2026. Adolf membidik pendapatan ITMG pada 2026 dapat mencapai US$ 2,08 miliar, meningkat sekitar 10,5% YoY dibandingkan realisasi 2025 sebesar US$ 1,88 miliar. Sejalan dengan itu, laba bersih ITMG diproyeksikan mencapai US$ 223 juta pada 2026. Angka tersebut tumbuh sekitar 16,8% YoY dibandingkan realisasi laba bersih 2025 yang sebesar US$ 191 juta.
Baca Juga: Pergantian Pengendali Marak di BEI, Analis Soroti Katalis dan Risikonya Terkait prospek sahamnya, Nafan memberikan rekomendasi wait and see untuk saham ITMG. Adolf memberikan rekomendasi buy ITMG dengan target harga Rp 29.300 per saham. Tak ketinggalan Timothy memberikan rekomendasi untuk buy saham ITMG dengan target harga dinaikkan menjadi Rp 30.000, dari sebelumnya Rp 28.000 per saham. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News