KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Emiten tambang dan perdagangan batubara, PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG) menargetkan produksi batubara mencapai 22 juta ton hingga 22,9 juta ton pada tahun 2026. Per semester I-2026, produksi batubara ITMG mencapai 9,9 juta ton atau turun 5% secara tahunan. Sementara pada kuartal II-2026, produksi mencapai 5,3 juta ton, naik dari 4,7 juta ton pada kuartal sebelumnya. Direktur Utama Indo Tambangraya Megah Mulianto mengatakan, ITMG terus menjalankan kegiatan operasional sesuai ketentuan yang berlaku dan berupaya mencapai target tahunan yang telah ditetapkan.
“Yang dapat kami sampaikan saat ini, ITMG terus menjalankan kegiatan operasionalnya sesuai dengan ketentuan yang berlaku dan berupaya mencapai target tahunan yang ditetapkan,” jelasnya dalam paparan publik, Rabu (9/9/2026).
Baca Juga: Haji Isam Dikabarkan Tawar 62% Saham Bayan (BYAN), Harga Capai US$ 3 Miliar Dari sisi tambang, Indominco Mandiri (IMM) menjadi salah satu kontributor terbesar dengan target produksi 7,1 juta ton pada 2026. Di semester I-2026, produksi IMM mencapai 3,4 juta ton dan ditargetkan naik menjadi 1,9 juta ton pada kuartal III. Sementara itu, Bharinto Ekatama (BEK) memiliki target produksi 8 juta ton tahun ini, dengan realisasi semester I-2026 sebesar 3,6 juta ton. Produksi BEK pada kuartal III ditargetkan meningkat menjadi 2,3 juta ton. Adapun Trubaindo Coal Mining (TCM) diperkirakan akan memproduksi 3,5 juta ton sepanjang 2026. Selama periode Januari–Juni 2026, produk TCM mencapai 1,5 juta ton, sedangkan produksi kuartal III ditargetkan sekitar 800.000 ton. Selain tiga tambang utama tersebut, ITMG menargetkan produksi Graha Panca Karsa (GPK) sebesar 2,7 juta ton, Tepian Indah Sukses (TIS) 600.000 ton dan Nusa Persada Resources (NPR) 300.000 ton sepanjang 2026. Dari sisi penjualan, ITMG menargetkan penjualan batubara 2026 sebesar 26,9 juta–27,5 juta ton. Sampai dengan Juni 2026, penjualan telah mencapai 12,3 juta ton atau tumbuh 5% secara tahunan. Mulianto menyampaikan di paruh kedua 2026, ITMG menghadapi tantangan dalam produksi. Yakni, penurunan air muka Sungai Mahakan akibat fenomena El Nino yang melanda Indonesia. “Salah satu mitigasi yang kami lakukan adalah penyesuaian volume muatan batubara pada tongkat ke tingkat yang lebih rendah untuk mengurangi risiko kandas dan menjaga kelancaran pengakutan,” ucapnya.
Baca Juga: Pengendali Baru Mitrabahtera (MBSS) Mulai Tender Wajib, Siapkan Dana Rp 892,7 Miliar Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News