KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk (
INTP) terus memperkuat strategi bisnis untuk menjaga pertumbuhan kinerja di tengah pemulihan permintaan semen nasional. Di saat yang sama, perseroan harus menghadapi tekanan biaya produksi akibat kenaikan harga energi serta volatilitas nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Kenaikan harga batu bara dan solar industri menjadi salah satu faktor yang meningkatkan biaya produksi semen. Selain itu, penguatan dolar AS turut memberikan tekanan terhadap biaya barang dan sejumlah kebutuhan produksi yang masih bergantung pada impor. Ketua Asosiasi Perusahaan Semen Seluruh Indonesia (Asperssi) Lilik Unggul Raharjo mengatakan, kenaikan biaya energi menjadi faktor utama yang menekan industri semen.
“Faktor yang paling besar adalah kenaikan harga energi, dalam hal ini harga batu bara dan solar industri, di samping karena dolar yang menguat sehingga harga barang impor menjadi naik,” kata Lilik saat dihubungi KONTAN Jumat (28/8/2026). Menurut Lilik, penggunaan batu bara non- DMO berdampak sekitar 18% terhadap biaya produksi. Sementara kenaikan harga solar industri berdampak sekitar 4% terhadap biaya produksi. Kondisi tersebut membuat ruang produsen semen untuk menaikkan harga jual menjadi terbatas. Persaingan harga masih ketat karena kapasitas produksi nasional masih lebih besar dibandingkan permintaan.
Baca Juga: BULOG Perkuat Stok Beras, 110.000 Ton Disalurkan ke Pasar dan Ritel Modern Berdasarkan data Asosiasi Semen Indonesia (ASI), penjualan semen domestik pada semester I-2026 tumbuh 10,5% secara tahunan menjadi 30,71 juta ton. Meski permintaan mulai menunjukkan pemulihan, industri semen nasional masih menghadapi persoalan kelebihan kapasitas atau oversupply. Kapasitas produksi semen nasional mencapai sekitar 120 juta ton per tahun, sedangkan tingkat utilisasinya masih sekitar 56%. Di tengah kondisi tersebut, INTP mengambil langkah diversifikasi dengan memperkuat portofolio bisnis turunan. Perseroan mengembangkan bisnis mortar melalui PT Mortar Prakarsa Utama bersama Saint-Gobain Group. Selain itu, INTP membentuk PT Mondi Indo Prakarsa Kemasan bersama Mondi Industrial Bags GmbH. Perusahaan patungan tersebut ditujukan untuk memperkuat keandalan pasokan kantong semen sekaligus menjaga kualitas produk. Corporate Secretary Indocement Dani Handajani mengatakan, penguatan portofolio bisnis menjadi bagian dari langkah perseroan menghadapi dinamika industri. “Indocement terus memperkuat portofolio bisnis dan ekosistem pendukung sebagai bagian dari langkah perseroan menghadapi dinamika industri. Kami tetap berfokus pada efisiensi, inovasi, serta kualitas produk dan layanan kepada pelanggan,” ujar Dani dalam keterangan resmi perseroan, Minggu (6/9).
Kinerja Indocement Semester I-2026
Dari sisi kinerja, INTP mencatatkan pertumbuhan pada semester I-2026. Total volume penjualan semen dan klinker mencapai 9,56 juta ton, tumbuh 7,6% secara tahunan. Penjualan domestik mencapai 9,09 juta ton, tumbuh 5% secara tahunan. Sementara itu, penjualan ekspor mencapai 473.000 ton atau melonjak 99,7% secara tahunan. Pertumbuhan volume penjualan tersebut turut menopang kinerja keuangan perseroan. Pendapatan neto INTP mencapai Rp8,45 triliun atau naik 5,2% secara tahunan. EBITDA meningkat 12,5% menjadi Rp1,52 triliun. Laba periode berjalan tumbuh 19,2% menjadi Rp589,6 miliar. Pangsa pasar domestik INTP mencapai 28,1% pada semester I-2026. Kinerja positif tersebut berlanjut setelah semester I-2026. Pada Juli 2026, volume penjualan INTP mencapai sekitar 1,92 juta ton. Volume tersebut tumbuh 13,3% secara tahunan dan meningkat 18,6% dibandingkan Juni 2026. Dengan demikian, volume penjualan selama tujuh bulan pertama 2026 mencapai sekitar 10,32 juta ton, tumbuh 6,4% secara tahunan. Namun, peningkatan volume penjualan masih dibayangi tekanan biaya produksi dan distribusi. Oleh karena itu, efisiensi menjadi salah satu fokus utama perseroan untuk menjaga profitabilitas.
“Memasuki semester II 2026, kami akan tetap memprioritaskan efisiensi tanpa mengorbankan kualitas produk, keselamatan kerja, maupun nilai yang diberikan kepada pelanggan,” ujar Dani dalam keterangan resmi perseroan.
Prospek Industri Semen
Untuk prospek ke depan, Indocement melihat peluang pertumbuhan dari keberlanjutan pembangunan sektor perumahan dan infrastruktur. Dalam materi prospek perseroan, kelanjutan program pembangunan tiga juta rumah per tahun menjadi salah satu peluang pertumbuhan permintaan semen. Insentif PPN untuk pembelian rumah yang diperpanjang hingga 2027 juga menjadi salah satu faktor pendukung.
Meski demikian, industri semen masih menghadapi sejumlah risiko. Indocement mencatat oversupply, kenaikan harga energi, volatilitas nilai tukar, aturan over dimension over loading (ODOL), penyesuaian tarif listrik, serta potensi penerapan pajak karbon sebagai sejumlah tantangan ke depan. Di sisi operasional, perseroan juga melihat peluang untuk meningkatkan penggunaan bahan bakar dan bahan baku alternatif. Digitalisasi dan otomasi turut menjadi bagian dari strategi pengembangan operasional perseroan. Dengan berbagai kondisi tersebut, INTP akan berupaya menjaga pertumbuhan volume penjualan sekaligus mempertahankan profitabilitas. Penguatan bisnis turunan dan efisiensi operasional menjadi strategi penting perseroan untuk menghadapi tekanan biaya serta persaingan industri semen yang masih ketat. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News