KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk (
INTP) melaporkan pelaksanaan pembelian kembali alias
buyback saham. Melansir keterbukaan informasi di laman Bursa Efek Indonesia (BEI), pelaksanaan
buyback saham sejak 21 Mei 2025 hingga 21 Mei 2026. Corporate Secretary PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk Dani Handajani mengatakan, sejak 21 Mei 2025, jumlah saham yang telah dibeli kembali sebanyak 66,24 juta saham per 6 April 2026.
Baca Juga: Gencatan Senjata, Siang Ini (8/4) Rupiah Menguat ke Rp 17.011 per Dolar AS Persentase saham yang telah dibeli kembali dibandingkan terhadap jumlah saham yang tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI) sebesar 1,88%. Untuk aksi
buyback saham itu, INTP telah menggunakan dana sebesar Rp 437,87 miliar. “Harga perolehan rata-rata di Rp 6.610 per saham,” katanya dalam keterbukaan informasi tanggal 7 April 2026 itu. Melansir RTI, saham INTP saat ini ada di level Rp 5.175 per saham. Sahamnya sudah turun 11,91% dalam sebulan terakhir dan 30,77% sejak awal tahun alias
year to date (YTD). Pada tahun 2025, emiten semen ini mencatatkan penurunan pendapatan sebesar 4,42% secara tahunan (
year-on-year/YoY) menjadi Rp 17,73 triliun. Walau begitu, laba sebelum beban pajak penghasilan INTP tumbuh 11,38% yoy menjadi Rp 2,74 triliun pada 2025, dibandingkan realisasi tahun sebelumnya yakni Rp 2,46 triliun.
Baca Juga: AS-Iran Damai, Harga Minyak WTI dan Brent Turun Lebih dari 13% Hal ini dipengaruhi oleh penurunan beban usaha sebesar 1,34% yoy dari Rp 3,73 triliun pada 2024 menjadi Rp 3,68 triliun pada 2025. INTP juga memperoleh keuntungan atas divestasi dan pengukuran kembali investasi pada entitas asosiasi sebesar Rp 669,98 miliar pada 2025. Tak hanya itu, INTP juga mencatat kenaikan pendapatan keuangan sebesar 55,49% yoy dari Rp 133,33 miliar pada 2024 menjadi Rp 207,32 miliar pada 2025. INTP pun mengantongi laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp 2,25 triliun pada 2025. Angka ini naik 11,44% yoy dibandingkan laba bersih perusahaan pada 2024 yakni Rp 2,01 triliun. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News