Indodax: Bitcoin Hingga USDT Banyak Diminati Investor Kripto pada Semester I-2026



KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Aset kripto masih menjadi salah satu pilihan investor dalam mendiversifikasi portofolio investasinya. Seperti Bitcoin hingga stablecoin. 

Chief Marketing Officer Indodax, Aloysia Dian mengatakan, berdasarkan volume trading di Indodax selama semester I – 2026, tiga aset kripto yang paling banyak diminati adalah USDT, Bitcoin (BTC), dan PIPPIN. 

“Ketiga aset tersebut masih menjadi pilihan utama investor di tengah kondisi pasar yang cenderung volatile,” ujar Dian kepada Kontan, Jumat (3/7/2026). 


Baca Juga: Begini Respons GOTO Soal Isu PHK Tokopedia

Dian bilang USDT tetap menjadi aset yang paling banyak diperdagangkan karena banyak dimanfaatkan investor sebagai stablecoin untuk menjaga likuiditas di tengah ketidakpastian pasar. Sementara Bitcoin masih menjadi pilihan utama berkat fundamental yang kuat, likuiditas yang tinggi, serta perannya sebagai aset kripto dengan kapitalisasi pasar terbesar di dunia. 

CEO Tokocrypto, Calvin Kizana mengatakan, aset kripto yang paling banyak diperdagangkan pada semester I – 2026 di Tokocrypto masih didominasi oleh USDT, Bitcoin (BTC), Ethereum (ETH), Solana (SOL), XRP, dan Dogecoin (DOGE). Pola ini menunjukkan bahwa pengguna tidak hanya berfokus pada aset berkapitalisasi besar sebagai investasi jangka panjang, tetapi juga memanfaatkan aset dengan likuiditas tinggi untuk kebutuhan trading.

Calvin bilang, USDT tetap menjadi aset yang paling diminati karena berperan sebagai stablecoin yang nilainya mengikuti dolar AS. Di tengah pelemahan nilai tukar rupiah dan dinamika pasar global, banyak pengguna memanfaatkan USDT sebagai instrumen untuk menjaga nilai aset sekaligus mempermudah aktivitas jual-beli dan arbitrase.

Baca Juga: Prospek Emiten Rumah Sakit Tetap Cerah di 2026, Cek Saham Rekomendasi Analis

Sementara itu, Bitcoin dan Ethereum masih menjadi pilihan utama investor karena dianggap sebagai aset kripto yang memiliki fundamental kuat dan rekam jejak yang panjang. “Kedua aset ini juga menjadi pintu masuk bagi banyak investor baru yang mulai membangun portofolio aset digital,” ucap Calvin. 

Di sisi lain, Solana, XRP, dan Dogecoin menunjukkan tingginya minat investor terhadap aset yang memiliki katalis pertumbuhan dan volatilitas yang menarik. Solana didukung oleh perkembangan ekosistem blockchain yang semakin pesat, terutama pada sektor DeFi, tokenisasi aset, dan aplikasi on-chain. 

Calvin juga mengatakan bahwa XRP terus mendapat perhatian berkat prospek pemanfaatannya dalam pembayaran lintas negara serta meningkatnya kejelasan regulasi di sejumlah negara. Sementara itu, Dogecoin tetap menjadi salah satu aset favorit trader ritel karena likuiditasnya yang tinggi, komunitas yang kuat, serta pergerakan harga yang aktif sehingga memberikan peluang bagi trader jangka pendek.

Terkait jumlah transaksi, Calvin bilang saat ini pihaknya masih dalam proses finalisasi dan konsolidasi data, sehingga nilai transaksi perdagangan Tokocrypto pada semester I – 2026 belum dapat disampaikan.

Namun, secara tren, jika dibandingkan dengan semester I – 2025, Calvin menyebut aktivitas transaksi memang mengalami penurunan, namun tidak signifikan dan masih sejalan dengan proyeksi pertumbuhan yang telah ditetapkan di awal tahun. 

“Kondisi ini mencerminkan dinamika pasar kripto, baik di tingkat domestik maupun global, yang sepanjang paruh pertama 2026 masih dipengaruhi oleh berbagai faktor makroekonomi dan kehati-hatian investor,” terang Calvin. 

Tren tersebut juga tercermin pada data industri secara nasional. Berdasarkan data OJK, nilai transaksi aset kripto nasional pada semester I 2026 turut mengalami perlambatan dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Kondisi ini tidak hanya dirasakan oleh Tokocrypto, tetapi juga menjadi tantangan bagi pelaku industri aset kripto secara keseluruhan.

Meski demikian, Calvin tetap optimistis terhadap prospek pasar pada semester II – 2026. Seiring meningkatnya kejelasan regulasi, potensi pelonggaran kebijakan moneter global, serta membaiknya sentimen investor, kami melihat peluang terjadinya pemulihan aktivitas perdagangan dan kembalinya minat masyarakat terhadap investasi aset kripto pada paruh kedua tahun ini. 

Sementara Dian menyampaikan bahwa nilai transaksi perdagangan aset kripto di Indodax selama semester I – 2026 mencapai sekitar Rp 56,4 triliun. Capaian tersebut menunjukkan aktivitas perdagangan di Indodax tetap terjaga di tengah pasar aset kripto global yang berada dalam fase konsolidasi setelah periode volatilitas yang tinggi pada awal tahun.

Dian melihat secara umum, pergerakan pasar dipengaruhi oleh berbagai dinamika global, mulai dari perkembangan geopolitik kebijakan suku bunga The Fed yang masih tinggi (higher for longer), hingga kondisi likuiditas global yang relatif ketat. Kondisi tersebut membuat investor cenderung wait and see serta lebih selektif dalam mengambil keputusan investasi. 

“Di Indodax, kondisi tersebut tercermin dari terjaganya minat dan preferensi pengguna terhadap aset-aset dengan fundamental kuat seperti Bitcoin dan USDT di tengah kondisi pasar yang sedang berada dalam fase konsolidasi,” jelas Dian.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News