Indofarma (INAF) Restrukturisasi Utang Dengan Pinjaman Bio Farma Rp 355 Miliar



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Emiten farmasi berpelat merah, PT Indofarma Tbk (INAF) merestrukturisasi utang bank dan utang dagang tahun ini dengan pinjaman dari induk holding PT Bio Farma senilai Rp 355 miliar. Transaksi afiliasi ini telah mengantongi persetujuan rapat umum pemegang saham pada 31 Mei 2022.

Dalam paparan publik yang berlangsung virtual, Direktur Utama INAF Arief Pramuhanto menyebut, hal ini dilakukan karena adanya beban pada kinerja keuangan Indofarma. Emiten BUMN ini masih mencatat rugi bersih Rp 51 miliar di kuartal pertama 2022.

"Terkait utang bank, Indofarma akan melakukan refinancing menjadi shareholder loan (SHL) dengan pinjaman dari induk holding Bio Farma senilai Rp 355 miliar, dengan bunga 6,5% per tahun yang dibayarkan selama 6 tahun," ujar Arief, Selasa (31/5).


Baca Juga: Penjualan Vaksin Covovax Kerek Pendapatan Indofarma (INAF) 69,15% pada 2021

Berdasarkan laporan keuangan kuartal pertama 2022 (unaudited), pinjaman bank jangka pendek INAF tercatat Rp 109,84 miliar. Utang ini turun dibandingkan dengan Rp 125,08 miliar pada akhir 2021.

Lebih lanjut, pinjaman bank jangka panjang tercatat sebesar Rp 289,61 miliar per 31 Maret 2022. Angka ini lebih rendah dibandingkan Rp 293,83 miliar pada akhir 2021. Dengan demikian, total pinjaman bank INAF adalah sebesar Rp 399,45 miliar.

Arief melanjutkan, mengenai utang dagang, INAF akan menyesuaikan cash by cash menggunakan skema pendanaan supply chain finance yang akan dibiayai dari vendor atau customer. "Kami juga tidak menutup alternatif pendanaan lain," sambungnya.

Baca Juga: Bio Farma dan MDI Ventures Bentuk Badan Investasi untuk Startup Biotek

Hal ini menjadi sebuah opsi mengingat beban utang dagang atau usaha INAF tercatat cukup tinggi. Tercatat, utang pihak berelasi adalah sebesar Rp 43,85 miliar dan utang usaha pihak ketiga sebesar Rp 501,61 miliar.

Arief memberikan gambaran, saat ini pihaknya sudah punya total package solution. INAF bekerja sama dengan perbankan untuk memberikan total solusi kepada customer.

"Sebagai gambaran, dalam hal ini rumah sakit, pembiayaan rumah sakit nanti ketika beli produk kami. Sementara untuk supply chain finance ini, customer akan melalui proses assesment terlebih dahulu dengan perbankan," pungkas Arief.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Wahyu T.Rahmawati