Indofarma ingin terlibat penentuan HET obat



JAKARTA. Penentuan harga eceran tertinggi (HET) untuk produk obat yang selama ini pemerintah lakoni rupanya merugikan PT Indofarma Tbk (INAF). Perusahaan plat merah ini ingin turut dilibatkan dalam menentukan HET obat.

Menurut Arief Budiman, Direktur Utama Indofarma, selama ini Kementerian Kesehatan selalu mematok HET terlampau rendah. Malah terkadang dibawah biaya produksi obat generik racikan Indofarma.

Tahun lalu saja, Indofamr terpaksa menjual sekitar 40 jenis obat generik dalam posisi rugi lantaran biaya produksi jauh di atas HET. "Selama ini HET yang pemerintah tentukan membuat margin yang kami peroleh sangat tipis," katanya belum lama ini.


Keputusan pemerintah menentukan HET dirasakan Indofarma kurang adil. Soalnya, pihak Indofarma tidak diikutsertakan. Indofarma mengklaim sebagai pelaku bisnis farmasi tentu sudah tahu kondisi bisnis obat di lapangan yang sebenarnya. "Makanya, kami meminta kepada Kementerian Kesehatan untuk disertakan dam tim perumusan harga," timpalnya.

Bila tidak ikut di tim perumus harga, Indofarma siap membandel untuk tidak memproduksi obat yang dinilai tidak menguntungkan. 

Sekretaris Perusahaan Indofarma Yasser Arafat mengklaim dalam tim perumusan harga tersebut sejatinya ada pemain lain yang diikutsertakan. "Perusahaan lain ada yang ikut, kami tidak. Kami tidak tahu alasannya," katanya ke  KONTAN akhir pekan ini.

Namun, manajemen Indorma belum bersedia memberi gambaran tingkat HET ideal bagi Indofarma.  Yang jelas, HET dari ratusan jenis obat generik tahun berikutnya harus lebih tinggi dibanding HET tahun ini.

HET yang lebih tinggi sekiranya juga dapat berlaku untuk produk Indofarma yang laris. Seperti amoxilin, allopurinol, glibencamide, ciprodloxacin, ranitidin, famotidin, trhexypenidine, oralit, dan pyrazinamid. "Ini supaya kami bisa mengejar target marjin minimal 3%," kata Yasser. 

Sambil menunggu permintaan dikabulkan pemerintah, Indofarma mau tidak mau harus mengencangkan ikat pinggang beberapa biaya atau ongkos pengeluaran.  Misalnya merampingkan struktur organisasi yang membuat biaya gaji Indofarma yang dipatok Rp 24,72 miliar tahun ini bisa berkurang menjadi Rp 20 miliar. 

Lantas pengurangan biaya operasional pemasaran. Langkah ini tercermin dari adanya kerjasama antara Indofarma dengan PT Kimia Farma Tbk (KAEF). Asal tahu saja, kedua perusahaan farmasi plat merah ini dikabarkan tengah menjajaki merger.

Bentuk kerjasamanya adalah saling mengisi kekosongan penjualan. Indofarma menitip penjualan produk di Kimia Farma, begitu pula sebaliknya. Selain itu, Indofarma meminta Kimia Farma tidak mengenakan biaya pemasangan display obat produk Indofarma yang dipasang dan dijual di apotek Kimia Farma.

Efisiensi lainnya adalah meniadakan lembur yang tidak perlu. Dari target penghematan Rp 5,52 miliar tahun ini, hingga saat ini sudah mencapai Rp 5,17 miliar. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Markus Sumartomjon