KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Indointernet Tbk (
EDGE) memperoleh pembiayaan jumbo untuk memperkuat ekspansi bisnis pusat data (data center). Fasilitas kredit senilai US$ 530,2 juta tersebut diperoleh melalui anak usaha EDGE, PT Digital Gayana Ekaprana (DGE), dari konsorsium 11 lembaga keuangan pada 2 September 2026.
Corporate Secretary Indointernet Jennifer Tiurland dalam keterbukaan informasi di BEI pada Kamis (3/9/2026) menjelaskan, fasilitas pembiayaan tersebut akan digunakan untuk mendukung pengembangan proyek pusat data milik DGE. Langkah ini dilakukan untuk merespons pertumbuhan kebutuhan terhadap layanan digital dan infrastruktur data.
Baca Juga: Harga Komoditas Energi Kompak Menguat dalam Sebulan Fasilitas kredit tersebut memiliki tenor hingga tahun kelima sejak tanggal penarikan awal. Adapun tingkat bunganya menggunakan skema Term Secured Overnight Financing Rate (SOFR) ditambah margin 2,5%-2,6%. Sebagai bagian dari transaksi, proyek pusat data milik DGE menjadi salah satu jaminan. Selain itu, saham DGE yang dimiliki oleh EDGE dan PT Ekagrata Data Gemilang (EDG) juga menjadi jaminan atas fasilitas kredit tersebut. Pembiayaan jumbo ini diberikan oleh 11 lembaga keuangan, yakni Bangkok Bank Public Company Limited, Bank of China (Hong Kong) Limited Jakarta Branch, Clifford Capital Credit Solutions Pte. Ltd., First Abu Dhabi Bank PJSC Singapore Branch, MUFG Bank Ltd. Jakarta Branch, MUFG Bank Ltd. Singapore Branch, PT Bank BNP Paribas Indonesia, PT Bank CIMB Niaga Tbk, PT Bank DBS Indonesia, PT Bank Permata Tbk, dan PT Bank OCBC NISP Tbk. "Fasilitas kredit ini akan digunakan untuk mendukung pengembangan proyek pusat data (data center) milik DGE, guna memenuhi peningkatan permintaan atas layanan pusat data dan infrastruktur digital,” kata Jennifer. EDGE menjelaskan transaksi tersebut masuk dalam kategori transaksi material karena nilainya melebihi 50% dari total ekuitas. Sebagai gambaran, ekuitas EDGE per 31 Desember 2025 tercatat sebesar Rp 1,83 triliun. Meski demikian, berdasarkan ketentuan POJK No. 17/POJK.04/2020, transaksi tersebut tidak membutuhkan penilai independen maupun persetujuan Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) karena merupakan fasilitas pinjaman langsung dari lembaga keuangan berikut pemberian jaminannya. Transaksi tersebut juga dikategorikan sebagai transaksi afiliasi. Pasalnya, EDGE dan EDG bertindak sebagai penjamin fasilitas kredit untuk DGE. EDGE merupakan pengendali DGE, sementara EDG dan DGE merupakan anak perusahaan yang berada di bawah kendali perusahaan.
Baca Juga: Cipta Selera Murni (CSMI) Kaji Ekspansi Merek Baru, Sahamnya Melonjak dan Disuspensi Manajemen menegaskan tidak terdapat benturan kepentingan dalam transaksi tersebut. Di sisi lain, DGE sebagai debitur memiliki sejumlah kewajiban dan pembatasan selama masa fasilitas kredit. Di antaranya larangan memberikan pinjaman atau jaminan tertentu, melakukan transaksi di luar kegiatan usaha normal, menjual atau mengalihkan aset, melakukan merger maupun joint venture, mendirikan atau mengakuisisi anak perusahaan, serta mengubah kegiatan usaha utama tanpa persetujuan kreditur. Dengan fasilitas pembiayaan tersebut, EDGE menilai tidak terdapat dampak material secara langsung terhadap kondisi keuangan perseroan, selain kewajiban pembayaran bunga dan pokok pinjaman secara periodik yang menjadi tanggung jawab DGE.
Di sisi bisnis, pembiayaan ini menjadi bagian penting dalam pengembangan kapasitas pusat data DGE. Dengan nilai komitmen mencapai US$ 530,2 juta, fasilitas tersebut memberikan ruang pendanaan yang besar bagi anak usaha EDGE untuk mengembangkan proyek data center di tengah meningkatnya kebutuhan infrastruktur digital. Namun, di sisi lain, penggunaan fasilitas tersebut juga membuat DGE memiliki kewajiban pembayaran bunga dan pokok pinjaman sesuai ketentuan kredit. Karena itu, kemampuan proyek pusat data dalam menghasilkan pendapatan dan arus kas akan menjadi faktor penting untuk menopang kewajiban pembiayaan tersebut. Bagi EDGE, keberhasilan pengembangan proyek DGE menjadi salah satu faktor yang dapat menentukan kemampuan perusahaan dalam menangkap pertumbuhan kebutuhan data center dan layanan infrastruktur digital ke depan. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News