Indonesia Akan Bangun Tiga Kilang Nafta



JAKARTA. Tiga kilang atau refinery nafta akan dibangun di Jawa Timur, Cilegon, dan Bontang, Kalimantan Timur. Untuk tahap pertama, akan dibangun satu refinery di Cilegon. "Lahan dan infrastrukturnya sudah ada," kata Direktur Kimia Hulu Kementerian Perindustrian, Alexander Barus. Investasi untuk setiap refinery berkapasitas 600.000 ton per tahun berkisar antara US$ 4 miliar-US$ 5 miliar. Cuma, masih ada satu persoalan lain. Saat ini, Indonesia juga masih mencari jaminan pasokan minyak mentah. Untuk menghasilkan nafta, Indonesia butuh jaminan pasokan minyak mentah hingga 300.000 barel per hari selama 15 tahun. "Sudah ada jaminan minyak mentah dari Saudi Aramco," kata Budi. Saudi Aramco adalah BUMN minyak di Arab Saudi. Selain itu, Indonesia sedang menjajaki kerjasama pasokan minyak mentah dari Nigeria dan Iran. Pekan depan, delegasi Indonesia juga datang ke forum D-8 di Kairo, Mesir, guna mencari calon pemasok minyak lainnya. Alexander berharap, nantinya, semua pemasok minyak bisa turut menjadi pemegang saham di proyek refinery tersebut. Caranya, mereka membentuk perusahaan patungan dengan investor lokal. Cuma, investor lokal tetap menjadi pemegang saham mayoritas.Menurut Alexnader, selain investor asing, sejumlah pemain lama industri petrokimia hulu Indonesia juga sudah berminat masuk proyek ini. Di antaranya adalah PT Chandra Asri, PT Tri Polyta Indonesia Tbk, dan Titan Chemicals Corp. Bhd dari Malaysia. Chandra Asri dan Tri Polyta adalah dua perusahaan milik Prajogo Pangestu di bawah bendera PT Barito Pacific Tbk. Sayang, hingga kemarin, KONTAN tak berhasil mengkonfirmasi manajemen Barito. Pengembangan proyek nafta ini memang bukan tanpa tujuan. Pemerintah berharap, pembangunan refinery nafta juga bisa mengerek investasi industri hilir petrokimia hingga US$ 1 miliar dari kondisi sekarang.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News