KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Hilirisasi nikel Indonesia masih memiliki prospek cerah seiring pertumbuhan kendaraan listrik
(electric vehicle/EV) dan sistem penyimpanan energi baterai (
battery energy storage system/BESS). Kondisi ini membuka peluang bagi Indonesia untuk meningkatkan posisi dalam rantai pasok baterai global. Shanghai Metal Market memproyeksikan Indonesia berpeluang menguasai 20% pasar
precursor cathode active material (pCAM) dunia pada 2030, 15% pasar
cathode active material (CAM), serta 10% pasar baterai litium-ion. Proyeksi tersebut menunjukkan ruang bagi Indonesia untuk tidak lagi hanya berperan sebagai pemasok bahan baku, tetapi bergerak ke pengolahan material hingga manufaktur produk bernilai tambah.
Baca Juga: Sariguna (CLEO) Bidik Pertumbuhan Dobel Digit, Siapkan Pabrik Baru hingga Produk Baru Deputi Bidang Koordinasi Infrastruktur Dasar Kemenko Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Ridha Yasser mengatakan, besarnya cadangan nikel menjadi modal penting bagi Indonesia untuk masuk ke industri baterai. Namun, kepemilikan sumber daya alam perlu diikuti dengan pembangunan rantai industri di dalam negeri. “Memiliki sumber daya alam yang melimpah memang memberikan Indonesia tiket masuk ke industri baterai global, tetapi tiket masuk tidak selalu berarti kita mendapatkan kursi di barisan depan,” kata Ridha dalam keterangannya, Rabu (16/9). Menurut dia, posisi Indonesia dalam rantai pasok global akan ditentukan oleh kemampuan menciptakan nilai tambah, mulai dari pengolahan mineral hingga manufaktur baterai dan proses daur ulang. Peluang tersebut juga semakin terbuka seiring diversifikasi kebutuhan baterai. Selain untuk kendaraan listrik, baterai dibutuhkan untuk BESS yang berperan dalam mendukung pengembangan energi terbarukan, termasuk pembangkit listrik tenaga surya (PLTS). Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM Eniya Listiani Dewi mengatakan pengembangan PLTS dalam skala besar membutuhkan dukungan baterai dalam jumlah signifikan. “Tadi 5,3 GW yang sudah diluncurkan Menteri ESDM itu dan dengan Presiden, itu perlu baterai. Sangat perlu baterai,” ujar Eniya. Pemerintah saat ini memulai tahap awal pengembangan PLTS berkapasitas 5,3 gigawatt peak (GWp) sebagai bagian dari target pengembangan PLTS 100 GWp. Perkembangan ini berpotensi menciptakan permintaan tambahan bagi industri baterai dan material pendukungnya di dalam negeri. Di sisi lain, Presiden Direktur dan CEO PT Vale Indonesia Tbk Bernardus Irmanto menilai prospek permintaan nikel dalam jangka menengah dan panjang masih positif. Namun, industri nikel tetap menghadapi tekanan pasokan dan volatilitas harga dalam jangka pendek. “Kalau kita melihat prospek jangka menengah kemudian jangka panjangnya, nikel itu tetap positif. Meskipun kalau kita lihat jangka pendeknya, industri nikel masih akan menghadapi tekanan dari pertumbuhan supply yang sangat besar, terutama dari Indonesia, dan juga volatilitas harga,” kata Bernardus. Dengan pertumbuhan EV dan BESS, hilirisasi nikel tidak lagi hanya berkaitan dengan peningkatan produksi tambang. Tantangan berikutnya adalah memastikan pertumbuhan permintaan dapat ditangkap melalui pengembangan industri pengolahan dan manufaktur di dalam negeri. Salah satu pengembangan tersebut dilakukan MIND ID Group melalui ekosistem baterai terintegrasi yang melibatkan PT Aneka Tambang Tbk (ANTM), PT Industri Baterai Indonesia (IBI), serta konsorsium CBL yang terdiri dari Contemporary Amperex Technology Co. Ltd. (CATL), Brunp, dan Lygend. Ekosistem tersebut menghubungkan pengolahan nikel di Halmahera Timur, Maluku Utara, dengan manufaktur baterai di Karawang, Jawa Barat. Total nilai investasinya mencapai sekitar US$5,9 miliar. Pada sisi manufaktur, fasilitas PT Contemporary Amperex Technology Indonesia Battery (CATIB) di Karawang memiliki kapasitas awal 6,9 gigawatt hour (GWh) per tahun dan ditargetkan meningkat menjadi total 15 GWh pada 2028. Fasilitas tersebut memproduksi sel baterai dan
battery pack yang dapat digunakan untuk kendaraan listrik maupun BESS.
Selain nikel, MIND ID memiliki portofolio komoditas lain seperti tembaga, aluminium, dan timah yang dapat mendukung pengembangan ekosistem kendaraan listrik serta energi terbarukan. Dengan demikian, pertumbuhan pasar EV dan BESS memberikan peluang bagi Indonesia untuk memperluas hilirisasi sekaligus memperkuat rantai pasok industri baterai dan teknologi energi di dalam negeri.
Baca Juga: Strategi Pertamina Hulu Energi Optimalkan Produksi Gas Saat Kebutuhan LNG Meningkat Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News