Indonesia Bullion Market Association Meluncur, Targetkan Kelolaan Emas Double Digit



KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Bisnis emas di Indonesia bakal kian diperkuat dengan kehadiran Indonesia Bullion Market Association (IBMA). Sinergi pelaku usaha hulu ke hilir emas Indonesia diharapkan dapat menumbuhkan pasokan emas nasional. 

IBMA resmi meluncur pada Kamis (20/8/2026) hari ini, terdiri dari para pelaku usaha di bidang usaha pertambangan emas dan manufaktur serta pengolahan bijih, perdagangan emas batangan (bullion dealer), hingga perusahaan pembiayaan dan lembaga keuangan non-bank.

Rinciannya, saat ini yang telah bergabung di dalam IBMA adalah PT Pegadaian, PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BSI), PT Hartadinata Abadi Tbk, UBS Gold, PT Amman Mineral Internasional Tbk, Galeri 24, Brinks Solution Indonesia, ICDX Group, PT Central Mega Kencana, PT Sentral Kreasi Kencana, serta PT Laku Emas Indonesia. 


Baca Juga: Semangat Fly Higher Warnai HUT ke-65 Bank Jatim Menuju Transformasi Berkelanjutan

Ketua IBMA Selfie Dewiyanti menjelaskan, IBMA bakal menjadi wadah koordinasi para pelaku ekosistem emas nasional sekaligus mitra strategis pemerintah. 

Sebagai langkah awal, Selfie bilang IBMA bakal fokus membangun literasi dan edukasi, termasuk melalui berbagai event yang mempertemukan seluruh pelaku industri dan memperkuat kolaborasi.

Untuk jangka menengah, IBMA bakal melakukan tinjauan terhadap berbagai kebijakan yang dibutuhkan untuk mendukung ekosistem bulion emas nasional. Kemudian untuk jangka panjang, IBMA menargetkan kerja sama strategis di taraf internasional. 

“Kita akan membuat konektivitas pasar lintas negara dan penyelarasan standar bullion dengan standar internasional,” jelas Selfie dalam acara peluncuran di Jakarta.

Sejalan dengan itu, Menteri Koordinator Perekonomian Airlangga Hartarto menargetkan kehadiran IBMA dapat mendorong pertumbuhan kelolaan emas di bullion domestik hingga double digit. 

Dengan target tersebut, Airlangga bilang bisnis bullion emas Indonesia dapat berkontribusi positif terhadap pertumbuhan ekonomi nasional. 

Baca Juga: Kualitas Aset Perbankan Terjaga pada Semester I-2026, Hapus Buku Kredit Berkurang

“Presiden menargetkan kita untuk pertumbuhan (ekonomi) di akhir tahun ke 5,6%–6%, sedangkan pertumbuhan di 2027 adalah 6 persen. Jadi tentu dari segi investasi pemerintah berharap juga kepada dua engine untuk bullion bank ini, Pegadaian dan BSI, untuk tumbuhnya juga double digit,” tutur Airlangga dalam kesempatan yang sama.

Hingga tengah tahun ini, total emas yang dikelola di bullion nasional mencapai kisaran 170 ton. Rinciannya, di Pegadaian ada 153 ton emas dan di BSI mencapai 24 ton emas. 

Di luar itu, Airlangga bilang masih ada hingga 1.800 ton emas senilai kisaran US$ 252 miliar “di bawah bantal” di Indonesia. Hal itu menjadi peluang pertumbuhan bagi bisnis bullion emas domestik, yang harapannya bisa digarap setidaknya 20% di antaranya atau setara 360 ton.

“Jadi bagaimana tugasnya dari Pegadaian maupun BSI yang US$ 252 miliar ini mungkin 20%-nya saja pindah dari ditaruh di bawah bantal ke instrumen keuangan ataupun instrumen perbankan di Syariah maupun Pegadaian. Nah ini sebuah pertumbuhan yang luar biasa kalau itu bisa kita lakukan,” kata Airlangga. 

Jika IBMA berhasil menggarap potensi yang ada, Airlangga optimistis Indonesia bisa menjadi salah satu negara dengan stok emas terbanyak di dunia. Toh, lanjutnya, penguatan bisnis bullion emas di Indonesia sejalan dan menjadi salah satu yang diandalkan dalam program hilirisasi pemerintah.

Pasalnya, kata Airlangga, Indonesia sendiri punya sumber daya emas yang besar dan ekosistem yang utuh. Nah kehadiran IBMA ini diharapkan dapat mendorong traceability rantai pasok dan meningkatkan value pada ekosistem yang telah ada.

Perjalanan Panjang

Sebagai ketua pengawas IBMA, Direktur Utama BSI Anggoro Eko Cahyo melihat, saat ini sistem pendukung bisnis bullion emas di Indonesia memang masih perlu terus dikembangkan. Termasuk, terkait skema penjaminan simpanan emas. 

Ia bilang saat ini skema penjaminan emas sudah menjadi pembicaraan antara pelaku usaha dengan para regulator, termasuk bank sentral. Meski saat ini belum ada, ia memastikan ke depannya bakal ada lembaga khusus yang bertindak sebagai penjamin emas. 

“Karena sekarang tahap awal, tapi ke depannya harus ada yang jamin. Idealnya begitu,” kata Anggoro. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News