Indonesia Dinilai Aman dari Krisis Energi Global, Edukasi dan Cadangan Jadi Kunci



KONTAN.CO.ID -  JAKARTA. Indonesia dinilai relatif aman dari dampak krisis energi global di tengah eskalasi konflik Iran dengan Israel dan Amerika Serikat.

Penilaian ini merujuk pada laporan The Economist yang menempatkan Indonesia sebagai salah satu negara berkembang dengan risiko rendah namun memiliki bantalan ketahanan energi yang kuat.

Anggota Dewan Energi Nasional (DEN), Satya Widya Yudha, menyebut temuan tersebut mencerminkan keberhasilan pemerintah dalam menjaga stabilitas energi nasional, terutama saat jalur distribusi minyak dunia menghadapi tekanan geopolitik, termasuk di Selat Hormuz yang dilalui sekitar 20% pasokan minyak global per hari.


Baca Juga: Krisis Energi Global Semakin Memburuk: Asia Terancam, Eropa Menyusul April

"Ini sebagai bentuk keberhasilan pemerintah merespons situasi perdagangan minyak mentah, terutama yang melewati Selat Hormuz yang diblokade oleh Iran," ujarnya dalam keterangannya, seperti dikutip, Rabu (25/3/2026).

Dalam laporan berjudul “Which country is the biggest loser from the energy shock”, Indonesia dikategorikan sebagai negara dengan low exposure, strong buffer.

Posisi ini menunjukkan tingkat kerentanan yang rendah terhadap guncangan energi, sekaligus memiliki kapasitas ketahanan yang memadai.

Satya menjelaskan, pemerintah telah menjalankan sejumlah strategi untuk menjaga ketahanan energi. Dalam jangka pendek, upaya difokuskan pada edukasi masyarakat agar lebih hemat energi di tengah ketidakpastian global. 

Penghematan tersebut mencakup penggunaan transportasi umum, kendaraan listrik, kompor listrik, hingga pengurangan mobilitas kerja melalui skema kerja dari rumah (WFH).

Sementara itu, strategi jangka panjang diarahkan pada pembangunan tambahan fasilitas penyimpanan (storage) untuk memperkuat cadangan bahan bakar minyak (BBM). Langkah ini dinilai penting guna menjamin ketersediaan pasokan energi domestik.

Baca Juga: Bos Shell: Eropa Terancam Krisis Energi dalam Hitungan Minggu

Selain itu, peningkatan eksplorasi minyak dan gas (migas) juga menjadi perhatian. Dalam beberapa tahun terakhir, produksi minyak Indonesia berada di kisaran 600 ribu barel per hari, sementara konsumsi telah melampaui 1,5 juta barel per hari. 

Kesenjangan ini masih harus ditutup melalui impor maupun peningkatan produksi dalam negeri.

Satya menilai peningkatan cadangan operasional menjadi krusial agar mampu memenuhi kebutuhan hingga tiga bulan ke depan.

Di sisi lain, dorongan terhadap eksplorasi migas domestik diharapkan dapat mengurangi ketergantungan terhadap impor dan meredam dampak fluktuasi harga global.

Dibandingkan negara lain di kawasan, Indonesia juga dinilai memiliki posisi yang lebih stabil. Meski sama-sama berada dalam kategori risiko rendah, Indonesia mencatat skor ketahanan yang lebih tinggi dibandingkan Vietnam, yang dinilai lebih rentan terhadap gangguan rantai pasok manufaktur global.

Baca Juga: Sektor EBT Jadi Primadona, Kolaborasi Jadi Kunci Swasembada Energi Nasional

Ke depan, DEN menilai kombinasi antara edukasi publik, diversifikasi energi, peningkatan cadangan, serta percepatan transisi energi akan menjadi kunci untuk menjaga ketahanan energi nasional di tengah dinamika geopolitik yang masih berlanjut.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News