Indonesia Dorong Penguatan Konektivitas Infrastruktur Energi di Subkawasan ASEAN



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Indonesia mendorong penguatan konektivitas infrastruktur energi subkawasan dalam Special BIMP-EAGA (Brunei - Indonesia - Malaysia - Philippines East ASEAN Growth Area) Leaders' Summit.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mendampingi Presiden Prabowo Subianto dalam pertemuan yang berlangsung di Filipina pada Kamis (7/5/2026).

Bahlil mengungkapkan kerja sama subregional ini tidak hanya berfokus pada konektivitas antar negara, tetapi juga harus mampu menghadirkan akses listrik yang merata, andal, dan terjangkau hingga ke daerah paling terpencil. Artinya, pembangunan infrastruktur energi kawasan harus memberikan dampak nyata bagi masyarakat di wilayah Tertinggal,Terdepan, dan Terluar (3T).


Baca Juga: Sulit Mendapat Pendanaan, Pasar Teknologi Disabilitas Masih Terbuka Lebar

"Pertemuan ini merupakan inisiatif kerja sama ekonomi subregional yang dibentuk pada tahun 1994 untuk mendorong pembangunan di daerah 3T bagi empat negara anggota," kata Bahlil dalam rilis yang disiarkan oleh Kementerian ESDM pada Jumat (8/5/2026).

Menurut Bahlil, forum BIMP-EAGA menjadi momentum penting bagi Indonesia untuk memperkuat sinergi pembangunan kelistrikan lintas kawasan, terutama melalui proyek interkoneksi energi, elektrifikasi pedesaan, hingga pengembangan energi baru terbarukan.

Bahlil menilai upaya ini penting agar masyarakat di wilayah perbatasan dan pulau-pulau terpencil memperoleh akses energi yang lebih baik sehingga dapat mendorong pertumbuhan ekonomi lokal. "Sinergi ini akan memperkuat kolaborasi sehingga masyarakat di daerah remote area mampu mengakses energi dengan harga yang terjangkau untuk kesejahteraan yang lebih baik," imbuh Bahlil.

Kementerian ESDM optimis pondasi kerja sama empat negara akan semakin kuat untuk bersinergi dalam membangun infrastruktur energi. Sehingga diharapkan tidak hanya mengamankan rantai pasok masing-masing negara, tetapi juga mengakselerasi Asia Tenggara sebagai poros pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.

Sementara itu, Presiden Prabowo dalam pidato di KTT tersebut menegaskan bahwa BIMP-EAGA harus terus berkembang agar mampu menjawab kebutuhan masyarakat di kawasan secara lebih nyata. Menurut Prabowo, kerja sama subkawasan ini harus menjadi lebih adaptif, berdampak, dan responsif terhadap dinamika global yang terus berubah.

Baca Juga: Rasio Kewirausahaan Indonesia Baru 3,29%, Kemendag Dorong Waralaba untuk Genjot UMKM

Prabowo menyebut visi BIMP-EAGA 2035 telah memberikan arah yang jelas, namun tantangan selanjutnya adalah memastikan implementasi yang nyata. Prabowo juga menekankan pentingnya memperkuat konektivitas subkawasan, termasuk peningkatan kapasitas jaringan listrik Trans Borneo Power Grid agar distribusi energi dapat berjalan lebih efisien di kawasan.

Seluruh agenda tersebut membutuhkan dukungan pembiayaan, keahlian teknis, serta kemitraan yang lebih erat dengan para mitra pembangunan regional.

"Semua ini tidak akan terjadi tanpa dukungan yang tepat. Kita perlu mengamankan pendanaan, memobilisasi keahlian teknis; dan memperdalam kemitraan dengan penasihat regional dan mitra pembangunan kita," tandas Prabowo.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News