Indonesia jadi basis produksi Fuji Bolt



JAKARTA. Produsen material infrastruktur tahan gempa  Jepang, Fuji Bolt Manufacturinig Co Ltd, mulai mengoperasikan pabrik perdana di Indonesia bulan ini melalui anak usaha PT Fuji Bolt Indonesia. Pabrik di Gunung Putri, Bogor ini bakal menjadi basis produksi terbesar Fuji Bolt di luar Jepang.

Presiden Direktur Fuji Bolt Manufacturing, Fujio Yamazaki mengatakan Indonesia sengaja mereka pilih lantaran kondisi geografis yang mirip dengan Jepang yakni kerap terkena bencana gempa bumi. Pabrik ini bisa membantu pengembangan produk material tahan gempa lainnya.Pabrik ini punya kapasitas produksi 12.000 ton produk material per tahun. Namun, sampai akhir tahun ini, Fuji Bolt Indonesia baru akan memproduksi material cuma 36 ton per bulan. "Kami masih ujicoba dan baru penuh berproduksi tahun depan," katanya kemarin (17/10).

Meski begitu, setiap hasil produksi akan langsung dijual ke Jepang. Hal ini sejalan dengan rencana perusahaan untuk memasarkan 90% dari produk mereka ke negeri sakura tersebut.


Presiden Direktur PT Fuji Bolt Indonesia Toshihide Miyamoto bilang pabrik ini menelan investasi US$ 2,5 juta termasuk untuk membeli lahan seluas 5.500 m2.

Fuji Bolt Indonesia sudah mendapat izin dari Badan Koordinasi Penanama Modal (BKPM) untuk menanamkan modal hingga US$ 6 juta. Sehingga masih ada alokasi dana US$ 3,5 juta yang belum mereka tanamkan. Rencananya, Fuji Bolt bakal memakai sisa alokasi untuk meningkatkan kapasitas produksi produkmaterial tahan gempa.

Di tahun 2013, Fuji Bolt Indonesia menargetkan bisa meraup pendapatan sebesar US$ 6 juta. Sebagian besar berasal dari ekspor produk ke Jepang. Di tahun berikutnya, pendapatan Fuji Bolt diprediksi melonjak 50% menjadi US$ 9 juta. "Kontribusi pasar lokal masih di angka 10%," kata Toshihide. Dan pada tahun ketiga, pendapatan bisa mencapai US$ 15 juta. Saat itu, kontribusi dari dalam negeri bisa menyumbang 30% dari total pendapatan. Lantaran proyek infrastruktur di Indonesia bakal makin besar.

Kedepannya, Fuji Bolt  mengincar pasar Filipina dan Selandia Baru yang kerap terkena bencana alam juga.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Markus Sumartomjon