Indonesia jadi raksasa ekonomi, ini syaratnya..



JAKARTA. Perusahaan audit, PricewaterhouseCoopers (PwC) memprediksi Indonesia bakal jadi negara urutan keempat ekonomi terbesar di dunia pada 2050. Menurut PwC, 10 negara emerging market akan menjadi negara raksasa ekonomi, dan salah satunya Indonesia.

Ekonom Bank Permata, Josua Pardede mengatakan, Indonesia bisa menggantikan negara maju. Diprediksi dari demografinya, terbuka peluang besar peningkatan populasi. Dan hal tersebut dapat menjadi salah satu pemicu meningkatnya produksi nasional.

"Saya cukup yakin Indonesia jadi bagian revolusi ekonomi dunia," kata Josua, Minggu (12/2).


Asumsi PWC adalah berdasarkan asumsi pertumbuhan populasi emerging market. Pertumbuhan ekonomi akan semakin tumbuh positif bila dibandingkan negara maju seperti Eropa dan Amerika yang pertumbuhan populasinya cukup terbatas.

Tapi, kata Josua, untuk mengejar peringkat ekonomi keempat terbesar di dunia, Indonesia perlu berjuang. Seperti prediksi PwC, di 2030, Indonesia harus mengejar GDP in PPP terms sekitar US$ 5 triliun.

"Itu pun akan selalu ada catatan untuk meningkat produktifitas nasional supaya pertumbuhan ekonomi kita bisa tumbuh cepat dan sustainable," imbuh Josua.

Menurut Josu, untuk memicu pertumbuhan ekonomi harus juga didasarkan pada investasi di sektor riil. Pemerintah harus mendorong sektor produktif seperti manufaktur, pertanian dan padat karya. "Investasi sektor riil itu akan memicu pertumbuhan ekonomi lebih cepat," paparnya.

Yang paling penting, untuk menduduki urutan keempat negara ekonomi terbesar di dunia, ada beberapa asumsi rata-rata pertumbuhan. Seperti peningkatan populasi yang rata-rata naik 0,6% per tahun. Kemudian, rata-rata kenaikan pendapatan perkapita sebesar 3,1% pertahun. Dengan begitu, kemungkinan Indonesia bisa mencapai GDP in PPP terms US$ 10 triliun. Tapi dengan catatan, potential growth juga didorong dengan optimal.

"Untuk itu, Indonesia harus mencapai potential growth yang mungkin bisa didorong 6%-7%`per tahun," ucap Josua.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Dupla Kartini